REPUBLIKA.CO.ID | EPAPER REPUBLIKA
Sunday, 26 February 2017
29 Jumadil Awwal 1438
Find us on:
Kenaikan Harga Cabai tak Bisa Dihindari
Thursday, 01 Jan 1970
 Pedagang sedang mengatur dagangan cabai merah keriting di salah satu pasar tradisional, Jakarta, Senin (21\1).

PEKALONGAN -- Presiden Joko Widodo menilai harga cabai rawit merah yang melonjak di sejumlah daerah di Indonesia tidak bisa dihindari. Sebab, pada musim tanam tahun lalu, produksi terganggu akibat pengaruh cuaca buruk di sentra-sentra produksi.

Akibatnya, pasokan cabai rawit merah kepada masyarakat selaku konsumen pun terpengaruh.

"Yang namanya harga tergantung supply dan demand. Karena musimnya pada 2016 kemarin memang jelek untuk cabai sehingga banyak yang busuk dan gagal panen sehingga supply-nya kurang," ujar Presiden kepada wartawan seusai blusukan di Pasar Induk Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (9/1).

Menurut dia, harga komoditas, termasuk cabai rawit merah, yang fluktuatif bisa terjadi jika suplai terganggu akibat keadaan musim. Sebagai solusi jangka pendek, Presiden meminta masyarakat menyubstitusi jenis cabai yang dikonsumsi selama suplai cabai rawit merah belum normal.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita  mengakui, lonjakan harga cabai rawit merah dipengaruhi oleh iklim. Kemendag telah melakukan pengecekan ke lapangan.

Ketika pemetikan dilakukan pada waktu hujan, proses pembusukan semakin cepat. Belum lagi, menurut Enggartiasto, waktu yang dibutuhkan untuk distribusi dari lokasi panen ke pasar ataupun kota lain tidak bisa lekas.

Dia pun mengaku telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian. Kementan mengklaim surplus cabai rawit merah, meski terjadi penurunan produksi di berbagai daerah sentra produksi lantaran cuaca buruk.

Sebagai gambaran, Ditjen Hortikultura Kementan memperkirakan kelebihan pasokan cabai rawit merah per Desember 2016 mencapai 23.821 ton. Jumlah tersebut diperoleh dari selisih antara pasokan 78.167 ton dan kebutuhan konsumen 54.346 ton.

Dirjen Hortikultura Kementan Spudnik Sujono memastikan tingginya harga cabai rawit merah bukan disebabkan kendala pada pertanaman. Akan tetapi, Spudnik mengakui ada petani yang tidak mau panen karena musim hujan.

"Kami tidak menyalahkan iklim, tapi cuaca tidak bisa dihindari apalagi untuk cabai rawit yang lebih rentan terhadap musim hujan. Adanya La Nina ini memberi dampak berkurangnya produksi petani. Karena risiko tersebut mereka menaikkan harga," ujarnya kepada Republika.

Spudnik menambahkan, pada kondisi normal, break-even point (BEP) cabai rawit sebesar Rp 17 ribu per kg. Namun pada kondisi saat ini, BEP melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp 30 ribu per kg.

"Ya sekarang kita maklumi. Yang susah itu ritel yang di ujung, yang menjual dengan gerobak-gerobak itu, mereka jual berapa, kita tidak tahu. Susah dikontrol," kata Spudnik.

Masih tinggi
Mendag mengklaim harga cabai sudah turun. Enggartiasto mengatakan, rata-rata harga sudah berada di bawah Rp 50 ribu per kg.

Berdasarkan pantauan Kemendag, rata-rata harga cabai merah besar Rp 38 ribu per kg, cabai merah keriting Rp 39 ribu sampai Rp 40 ribu per kg, dan cabai rawit hijau Rp 32 ribu per kg. Sementara harga cabai rawit merah, berada pada kisaran Rp 100 ribu sampai Rp 120 ribu per kg.

"Dari empat jenis cabai, secara garis besar hanya satu yang memang mengalami kenaikan, tetapi di beberapa daerah sudah mulai kembali turun," kata Enggartiasto.

Berdasarkan pantauan di sejumlah daerah di Tanah Air, harga cabai rawit merah masih terpantau tinggi. Akar masalahnya pun identik, yaitu berkurangnya pasokan seiring menurunnya produksi. 

Di Kota Bandar Lampung, Lampung, ibu rumah tangga mengeluhkan tingginya harga cabai di pasar tradisional. Menurut Eva, seorang ibu rumah tangga di Tanjung Karang Pusat, harga cabai merah dan cabai rawit pada pertengahan Desember masih berada di kisaran Rp 35 ribu sampai Rp 38 ribu per kg. Setelah memasuki tahun baru, harganya berubah drastis menjadi kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per kg. Sementara di Jakarta, harga cabai bahkan sudah mencapai Rp 150 ribu per kg.

Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Sumarsono menjelaskan, tingginya harga cabai tak lepas dari rendahnya pasokan. "Pasokan kita idealnya 120 ton per hari. Tapi, pasokan kita hari ini hanya 40 ton sampai 50 ton. Sehingga problem pasokan akibat dari pada cuaca," ujarnya.

Di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi NTB Manggaukang Raba menjelaskan, dari sisi ketersediaan, produksi cabai rawit merah di Lombok, cukup untuk memenuhi kebutuhan. Namun, tingginya harga di luar Lombok, membuat sejumlah pedagang menjual cabai ke luar daerah.

Berdasarkan data Pemprov NTB, pada November 2016, ada sekitar 48 ribu ton cabai yang dikirim ke luar Lombok. Untuk saat ini, harga di tingkat petani berkisar antara Rp 65 ribu sampai Rp 75 ribu per kg.  Sedangkan di sejumlah pasar tradisional di Kota Mataram, seperti Pasar Mandalika, harga cabai rawit merah sudah menyentuh Rp 100 ribu per kg.
rep: Melisa Riska Putri, Mursalind Yasland, Muhammad Nursyamsi, Noer Qomariah/antara, ed: Muhammad Iqbal