REPUBLIKA.CO.ID | EPAPER REPUBLIKA
Friday, 23 June 2017
28 Ramadhan 1438
Find us on:
Pesona Ekstrem Marlina
Thursday, 01 Jan 1970

Bayangkan seorang perempuan yang telah janda tinggal sebatang kara. Suatu hari, kawanan perampok menyambangi rumahnya di pelosok Sumba.

Bukannya ketakutan, Marlina malah sekuat tenaga melawan. Ia memenggal pimpinan perampok itu lalu membawa penggalan kepalanya ke kantor polisi.

Sepanjang perjalanan jauh yang ditempuh, Marlina menjumpai banyak orang dan mengalami kejadian yang jadi refleksi kehidupannya. Kisah penuh kontemplasi itu dapat disimak dalam film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak.

Proyek film lintas negara dengan judul internasional Marlina: The Murderer in Four Acts tersebut digarap bersama oleh Cinesurya Pictures, Kaninga Pictures, dan Yisha Production. Sineas Indonesia berkolaborasi dengan ko-produser Prancis dalam sinema yang mengisahkan aksi berlatar tempat Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Sutradara film, Mouly Surya mengatakan, kisah ekstrem itu terinspirasi dari cerita mulut ke mulut yang beredar di masyarakat setempat. Naskah awal film ditulis oleh sineas Garin Nugroho pada 2014 yang kemudian dirampungkan bersama oleh Mouly dan Rama Adi.

Perempuan 36 tahun itu menjelaskan, sosok Marlina menampilkan paduan karakter menarik. Betapa Marlina tetap dengan kekuatan dan keberaniannya dalam kondisi hidup serba terbatas dan duka mendalam karena suami yang telah lama tewas.

"Bagi saya yang termasuk orang perkotaan, hal ini sangat ekstrem, sebuah devastating beauty, keindahan yang menghancurkan," ujar peraih tiga penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 2008 itu.

Tak hanya soal perempuan, Mouly juga menyajikan refleksi kontras dari para tokohnya, gambaran kriminalitas, dan sejumlah ikon kultural Sumba. Ada unsur ketragisan, balutan emosi tinggi, juga kehidupan bermasyarakat yang ia kemas dalam bentuk dramatis khas film.

Muatan spesifik lain, menurut Mouly, ialah tujuan mempromosikan cantiknya Sumba. Menurut lulusan program magister di bidang film dan televisi dari Bond University, Australia itu, banyak detail menarik Sumba yang belum dieksplorasi dan diekspos.

Pada 2014, setelah Garin memberikan naskah awal, Mouly segera melakukan riset bersama tim ke Sumba. Kala itulah ia berniat menunjukkan keindahan Sumba untuk penonton Indonesia, bahkan dunia yang belum tahu betapa beragamnya Indonesia.

"Sumba menawarkan keindahan yang menurut saya sulit ditemukan di bagian Indonesia yang lain," kata dia.

Tokoh Marlina diperankan oleh aktris berdarah Batak-Jerman, Marsha Timothy. Kebolehan aktingnya didukung para pemeran lain seperti Dea Panendra, Egi Fedly, dan Yoga Pratama.

Aktris pendatang baru Dea Panendra yang memerankan tokoh Novi, turut berharap film yang ia bintangi bisa membuat banyak orang lebih mengetahui keindahan Sumba. Ia menyayangkan, Sumba kerap disebut sebagai pulau yang terlupakan, bahkan kerap tertukar dengan Sumbawa yang jelas-jelas berbeda.

Perempuan kelahiran Bandung, 18 Januari 1991 itu juga merasa sangat bersyukur dipercaya memerankan tokoh perempuan Sumba dalam film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Dea mengatakan, banyak pelajaran tak ternilai dari pengalaman tersebut.

Meski mulanya berdebar karena kali pertama main film dengan dialog panjang, ia sangat bersemangat terlibat dalam proyek tersebut. Apalagi, film dengan sutradara yang menurut ia sangat mumpuni itu bakal diusung ke banyak festival.

Ia menceritakan, tokoh Novi yang diperankannya adalah perempuan asli Sumba yang sedang hamil besar 10 bulan dan tak kunjung melahirkan. Novi bertemu sang tokoh utama ketika Marlina dalam perjalanan membawa penggalan kepala perampok ke kantor polisi.

Hal paling menantang, menurut Dea, adalah belajar dialek Sumba dan menjadi ibu hamil yang ia dalami dalam workshop wajib sekaligus observasi mandiri. Bersama Marsha Timothy, Dea yang pernah menjadi figuran di film Ini Kisah Tiga Dara itu juga belajar sepeda motor untuk keperluan adegan film.

Saat melakukan casting, ia sesungguhnya belum tahu naskah film seperti apa yang akan ia mainkan. Karena itu, setelah dinyatakan lolos, Dea cukup terkejut dengan konten cerita yang demikian ekstrem.

"Waktu dapat script merasa 'wow' banget, film ini tidak hanya bicara tentang lokal dan tradisi, tetapi aku juga rasakan unsur magis yang sangat original," kata finalis 14 besar salah satu ajang pencarian bakat menyanyi yang kerap terlibat dalam drama musikal itu.

Namun, penonton yang penasaran ingin segera menyimak film berdurasi 90 menit ini harus lebih bersabar. Sebab, Marlina si Pembunuh masih dalam tahap pascaproduksi dengan jadwal rilis di Indonesia akhir 2017 sekaligus rencana untuk diusung ke kancah internasional.

Rama Adi, produser dari Cinesurya Pictures menyebutkan, latar belakang kolaborasi dengan mitra ko-produksi Prancis. Rama dan tim bertemu Isabelle Glachant dari Yisha Production pada beberapa kesempatan di acara film internasional.

Setelah beberapa percakapan, ia bersama produser eksekutif Kaninga Pictures dan sutradara Mouly Surya lantas sepakat untuk bermitra dengan rumah produksi asal Prancis itu. Disampaikan Rama, film Marlina juga berhasil mendapatkan subsidi Aide aux cinémas du monde dari pemerintah Prancis.

Tepatnya, subsidi itu diberikan oleh Kementerian Komunikasi dan Kebudayaan serta Kementerian Luar Negeri Prancis. Program yang dikelola oleh Centre National du Cinéma et de l'Image Animée (CNC) dan Institut Français tersebut telah ada sejak 2012 sebagai sarana diplomasi budaya yang membuka kesempatan kerja sama antara sineas Prancis dan mancanegara.

"Sebuah pencapaian penting karena baru pertama kali film Indonesia mendapatkan subsidi ini, kami harapkan dapat membuat karya sineas dalam negeri semakin diakui dan didukung di kancah internasional," ujar Rama.

Ia menjelaskan, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak adalah satu dari lima film yang mendapat subsidi pada kategori sutradara berpengalaman lebih dari dua film. Sebanyak 10 orang anggota komite Cinémas du Monde memilih secara aklamasi proyek film yang didaftarkan pada seleksi Juli 2016 itu berdasarkan kriteria penilaian kualitas artistik, kemampuan skenario menunjukkan sudut pandang dan ide baru, serta visi sutradara.

Isabelle Glachant, co-producer film dari Yisha Production optimistis kisah Marlina punya kans diterima secara universal di kancah internasional. Potensi itu disebabkan konten artistik film berkat arahan sutradara yang sangat berpengalaman.

Menurut dia, sosok Marlina dari Sumba yang diperankan Marsha Timothy dalam film berkarakter yang memikat. Perjalanan ekstremnya membawa penggalan kepala perampok dari kediaman menuju kantor polisi disebut Glachant, bakal membekaskan kesan kuat bagi penonton.

"Pasar internasional tidak melihat negara mana yang memproduksi film selama film itu bagus dan berkualitas," ujar Glachant.

Perempuan yang telah 10 tahun berkiprah dalam kancah perfilman internasional itu menekankan, kolaborasi produksi film lintas negara tidak dimaksudkan untuk membuat karya kehilangan unsur lokalnya. Kemitraan justru berguna memberi sudut pandang baru dan memastikan apa yang disampaikan lewat film dapat dimengerti oleh beragam audiens.

Glachant juga mengatakan, pengalaman kolaborasi turut memungkinkan pertukaran budaya secara meluas. Sebelum ini, ia merupakan agen penjual film Indonesia SITI karya sutradara Edie Cahyono dan Istirahatlah Kata-Kata karya sutradara Yosep Anggi Noen sehingga meyakini betul hal tersebut.

Konselor Kerja Sama dan Kebudayaan Kedubes Prancis sekaligus Direktur Institut Prancis di Indonesia (IFI) Marc Piton menilai baik kolaborasi Indonesia-Prancis dalam bidang sinematografi itu. Terlebih, film Marlina berhasil lolos seleksi dan mendapatkan subsidi program bergengsi Aide aux cinemas du monde dari pemerintah Prancis.

"Semakin banyak aktor kerja sama yang terlibat maka upaya untuk saling memahami dan saling mengapresiasi di antara kedua negara juga semakin baik," ujarnya.     rep: Shelbi Asrianti, ed: Ichsan Emrald Alamsyah

***
Promosikan Kecantikan Sumba


Selain menunjukkan keberanian ekstrem sosok perempuan Sumba, ada muatan spesifik lain dalam film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Film ini ingin mempromosikan cantiknya Sumba.

"Kami ingin lebih mengeksplorasi detail-detail menarik Sumba yang belum banyak diketahui, keindahan yang belum banyak terekspos, apalagi untuk penonton internasional yang mungkin belum tahu betapa beragamnya Indonesia," ujar sutradara film, Mouly Surya.

Dea Panendra, turut berharap film yang ia bintangi bisa membuat banyak orang lebih mengetahui keindahan Sumba. Ia menyayangkan, Sumba kerap disebut sebagai pulau yang terlupakan, bahkan kerap tertukar dengan Sumbawa yang jelas-jelas berbeda.

"Sumba keren banget, pemandangan yang dilihat bikin lupa sama panasnya. Semoga setelah nonton Marlina, banyak orang jadi ingin pergi ke Sumba," kata perempuan kelahiran Bandung, 18 Januari 1991 itu.    rep: Shelbi Asrianti, ed: Ichsan Emrald Alamsyah

***
Para Penjahat di Film Marlina si Pembunuh


Aktor Egi Fedly dan Yoga Pratama berperan sebagai anggota kawanan perampok di film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Masing-masing adalah perampok paling senior dan paling junior dalam kelompok penjahat itu.

"Saya berperan sebagai Markus, pimpinan perampok yang dipenggal oleh Marlina dan kepalanya dibawa-bawa," ujar Egi berseloroh saat konferensi pers di IFI pekan lalu.

Aktor senior berusia 60 tahun itu berusaha menjaga totalitas saat bermain sebagai tokoh antagonis. Ia benar-benar memunculkan kesadisan, temperamen tinggi, serta mendalami situasi dan kondisi di lokasi syuting Pulau Sumba, NTT.

Sama halnya dengan Yoga Pratama, pemeran Frans yang merupakan anggota termuda dalam kelompok perampok. Saat pengambilan gambar di Sumba pada Agustus 2016, Yoga mengamati cara sosialisasi pemuda setempat agar betul-betul menjiwai perannya.

Aktor 33 tahun yang sering membintangi film-film bersama Warkop DKI itu merasa paling tertantang ketika mempelajari bahasa setempat. Untungnya, sebelum syuting dimulai, ada persiapan berupa workshop dan latihan dialek agar setiap pemeran tidak kesulitan.

"Prosesnya cukup lama, total sekitar empat bulan. Kemudian, ketika sampai di lokasi berusaha adaptasi dan observasi, cerita-cerita dengan masyarakat setempat, apalagi saya juga harus menyanyikan beberapa bait lagu asli Sumba," ujarnya.      rep: Shelbi Asrianti, ed: Ichsan Emrald Alamsyah