Jumat, 11 Sya'ban 1439 / 27 April 2018

Jumat, 11 Sya'ban 1439 / 27 April 2018

Mentan Minta Harga Cabai tak Jadi Polemik

Sabtu 14 Januari 2017 14:15 WIB

Red:

KENDARI--Menteri Pertanian Amran Sulaiman meminta masyarakat tak meributkan kenaikan harga cabai. Terlebih hanya satu subcabai, kata Amran, yakni cabai rawit yang harganya naik.

Amran mengatakan, harga beberapa jenis cabai lainnya seperti cabai besar, cabai keriting, dan cabai-cabai lainnya masih terkendali. Ia menyebutkan harga cabai rawit disebabkan La Nina.

Tapi, hal tersebut tidak perlu menjadi polemik nasional. Sebab, kata Amran, cabai bukan makanan pokok dan strategis. "Tidak bersyukur ada tiga belas komoditas strategis yang naik, ini cuma satu itu cabai ampun kita," kata Amran di Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (13/1).

Amran mengatakan, pemerintah Indonesia menyelamatkan devisa Rp 10 triliun setelah menekan impor jagung sebanyak 66 persen dalam dua tahun. "Impor sudah turun 66 persen menjadi 900 ribu ton. Sebelumnya, Indonesia masih mengimpor 3,6 juta ton jagung," ujar Amran.

Ia menyayangkan keberhasilan tersebut ditutup oleh isu cabai. Amran bercerita ada seorang pengamat yang tidak bisa membedakan pangan dengan cabai. "Apa nggak bisa bedakan pangan dengan cabai. Cabai dengan pangan itu perbedaan seperti Aceh dengan Irian. Pangan itu yang sifatnya strategis, seperti padi, jagung itu juga pokok," kata dia.

Sementara itu di Jakarta, Direktur Jendral Holtikultura Spudnik Sujono mengatakan, ada sistem pasokan dan permintaan yang tak berjalan dengan baik sehingga harga cabai masih melambung tinggi padahal stok masih banyak.

Spundik menjelaskan dari hasil pantauannya sejak tanggal 9 Januari 2016 sampai 13 Januari 2016 terlihat bahwa ada anomali harga dan tak berjalannya permintaan dan pasokan.

Sumber masalahnya menurut dia terjadi di tiga pasar induk.  Pasar itu, yakni Pasar Induk Kramat Jati, Pasar Induk Cibitung, dan Pasar Induk Tanah Tinggi. Di ketiga pasar tersebut sempat mengalami kenaikan pasokan cabai, tetapi di saat yang sama harga melonjak tinggi.

" Ini masalahnya di mana, saya juga gak mau suuzan, nanti biar saya turunkan tim saja untuk mendeteksi kenapa bisa begini," ujar Spundik di Jakarta, Jumat (13/1).

Spudnik mencontohkan di Pasar Kramat Jati, pada tanggal 9 Januari kemarin sempat mendapatkan pasokan 6 ton harga menginjak pada Rp 90 ribu per ton. Sedangkan, pada 10 Januari pasokan sempat berkurang dan stok sebanyak 5 ton. Harga sempat turun menginjak Rp 80 ribu.

Pada tanggal 11 Januari pasokan bertambah sebanyak 11 ton, tetapi harga malah melonjak tinggi menginjak Rp 99 ribu per kilogram. Kenaikan suplai juga terjadi berturut turut pada 12 dan 13 Januari mencapai 20 ton, tetapi harga tetap berada pada Rp 90 ribu.

Di sisi lain, Spudnik mengakui kenaikan harga cabai adalah kompensasi bagi petani yang sempat merugi pada bulan November tahun lalu. Harga yang anjlok dan produksi yang berlimpah memaksa para petani harus menjual murah hasil panennya.

Spundik menjelaskan dirinya sempat bertemu beberapa petani pada dua pekan lalu di beberapa daerah. Ia tak menampik jika kenaikan harga saat ini menjadi momen para petani meraup untung. Para petani menyatakan sengaja menaikan harga cabai untuk menutup kerugian.

Ia juga menambahkan, berdasarkan skema di mana harga cabai di petani Rp 60 ribu ditambah dengan pengiriman melalui pesawat Rp 8.000 per kilogram dan harga risiko Rp 2.500, harga jual bisa mencapai Rp 70.500.  Sehingga, sampai di tangan konsumen ditambah keuntungan 10 persen untuk pedagang seharusnya harga cabai tak lebih dari Rp 85 ribu per kilogram.      rep: Lintar Satria, Intan Pratiwi, ed: Ichsan Emrald Alamsyah

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA