Senin, 13 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018

Senin, 13 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018

Amerika Serikat Juga Butuh Investasi Asing

Jumat 23 Mei 2014 10:52 WIB

Red:

Oleh: Friska Yolandha

Negara sebesar Amerika Serikat (AS) memerlukan investasi asing untuk penggerak perekonomiannya. Presiden Barack Obama mengundang sejumlah perusahaan untuk mengembangkan investasi di AS.

Pertemuan dengan direksi perusahaan multinasional ini dilaksanakan di Gedung Putih. Beberapa perusahaan yang hadir, di antaranya Ford Motor Co dan Deutshe Lufthansa AG. Melalui program Select USA, Pemerintah AS telah memenangkan lebih dari 18 miliar dolar AS dalam investasi bisnis di 17 negara bagian.

“AS memiliki ekonomi yang paling dinamis, kreatif, dan inovatif. Kami memastikan dunia memahami keuntungan berinvestasi di pasar terbesar di dunia,” kata Obama sebelum pertemuan, seperti dilansir Reuters.

Untuk meyakinkan perusahaan, Pemerintah AS ingin membuat investasi yang lebih sistematis. Negara tersebut ingin meyakinkan pemerintah federal bekerja sama dengan pemerintah lokal jika ada perusahaan yang ingin membangun bisnis di AS.

CEO Lufthansa Carsten Spohr mengatakan, murahnya harga energi dan infrastruktur akan mendukung investasi perusahaan, seperti Lufthansa di AS. “Saya pikir AS memahami industri menciptakan nilai bagi negara tersebut. Nilai inilah yang menarik investasi masuk ke AS,” ujarnya.

Selain Ford dan Lufthansa, perusahaan telekomunikasi asal Swedia, Ericsson, juga hadir dalam pertemuan tersebut. Pun halnya dengan anak usaha Zurich Insurance, Zurich NA.

Kehadiran investor asing sangat dibutuhkan AS, mengingat kondisi ekonomi negara tersebut yang belum sehat betul. Gubernur Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) Janet Yellen mengungkapkan, Amerika memiliki banyak alasan untuk merasa seolah-olah ekonominya masih mengalami resesi. Dan, karena itulah, bank sentral mencoba meningkatkan situasinya.

Yellen mengatakan, hampir lima tahun resesi besar berlalu. Namun, masih sulit bagi warga AS untuk mencari pekerjaan. Bagi mereka yang bekerja, peningkatan upah lebih lambat dari biasanya. “Masih ada yang merasa ekonomi dan pasar kerja belum kembali normal. Pemulihan ekonomi masih terasa seperti resesi,” katanya, seperti dilansir New York Times.

Meskipun ekonomi AS belum sembuh benar, sejumlah negara berkembang mulai waspada akan pembalikan modal yang sewaktu-waktu bisa terjadi bila ekonomi AS membaik. Indonesia pun demikian. Oleh karena itu, Deputy Country Director Bank Pembangunan Asia (ADB) Edimon Ginting menyatakan, pemerintah diharapkan dapat melakukan reformasi struktural untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. 

Menurutnya, pemerintah mempunyai tantangan yang cukup signifikan pascapemilu nanti. “Terutama, mengatasi defisit transaksi berjalan tahun ini dan beberapa tahun ke depan,” katanya. Dalam menghadapi tantangan tersebut pemerintah memang telah mengambil sejumlah langkah. Seperti, memperlambat laju permintaan domestik, mendorong ekspor, dan menahan impor.

Pemerintah juga harus menghapus subsidi secara bertahap. Tahun lalu pemerintah melakukan pengurangan subsidi dalam bahan bakar. Hal ini perlu dilanjutkan untuk tahun 2014 dan seterusnya. Pengurangan subsidi mampu menyediakan anggaran untuk dialokasikan ke sektor lain, seperti infrastruktur dan pendidikan.

ed: fitria andayani

Sumber : http://pusatdata.republika.co.id/detail.asp?id=737608
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA