REPUBLIKA.CO.ID | EPAPER REPUBLIKA
Thursday, 02 March 2017
3 Jumadil Akhir 1438
Find us on:
Ribuan Siswa Sleman Deklarasi Antikekerasan
Thursday, 01 Jan 1970

SLEMAN -- Sebanyak 7.500 siswa TK hingga SMA bergandengan tangan sepanjang tujuh kilometer, mulai dari Lapangan Bercak hingga Balai Desa Tegaltirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Yogyakarta, Rabu (11/1). Selain untuk mendeklarasikan Kecamatan Ramah Anak, aksi ini juga digelar untuk menentang tindak kekerasan yang selama ini kerap terjadi di Sleman.

Camat Berbah Tina Hastani menyampaikan, melalui aksi ini pemerintah kecamatan setempat ingin menumbuhkan kegiatan yang bisa menjamin hak anak untuk terjauh dari kekerasan. Di antaranya, untuk tumbuh berkembang secara optimal, baik fisik, intelegensi, dan spiritual.

"Kegiatan ini merupakan komitmen kami dalam mewujudkan Kecamatan Berbah menjadi kecamatan ramah anak dan antikekerasan. Kegiatan ini tentunya juga akan mendukung posisi Kabupaten Sleman sebagai Kabupaten Layak Anak," kata Tina di sela-sela deklarasi.

Ketua Panitia Deklarasi Kecamatan Ramah Anak Berbah Muji Harjana mengatakan, kegiatan bergandeng tangan tersebut rencananya diajukan ke Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI). Pasalnya, selain sebagai simbol yang kuat untuk melawan kekerasan, aksi ini juga mampu mencetak prestasi baru bagi daerah setempat.

Muji sendiri optimistis bahwa aksi bergandengan tangan dapat memperoleh penghargaan MURI. "Acara ini memenuhi kriteria MURI, yaitu paling, pertama, langka, pendidikan, persatuan, dan kesatuan, sehingga akan kami ajukan ke MURI," tuturnya.

Sementara itu, Bupati Sleman Sri Purnomo sangat mengapresiasi aksi tersebut. Menurutnya, bergandeng tangan dapat menjadi simbol untuk menjaga silaturahim dan kesatuan serta wujud tolong menolong sesama manusia. Pemkab Sleman sendiri, kata Sri, telah melakukan berbagai upaya terkait perlindungan bagi anak.

Berbagai usaha tersebut akhirnya mampu mengantarkan Sleman menjadi Kabupaten Layak Anak di tingkat Madya. "Capaian ini selain menjadi wujud apresiasi atas berbagai upaya yang kita lakukan, tentunya juga menjadi tantangan bagi kita untuk mempertahankannya," kata Sri.

Ia pun meminta agar seluruh elemen, meliputi masyarakat, sekolah, dan pemerintah untuk saling bersinergi dalam mencegah kekerasan pada anak. Pasalnya, saat ini berbagai macam kasus kekerasan terhadap anak semakin marak bermunculan.

Pada 2015 ada sebanyak 157 kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Sleman. Kondisi ini tentu menuntut perhatian lebih dari seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat untuk dapat menekan bahkan menghentikan kasus kekerasan terhadap anak di masa yang akan datang.

Berkaca dari kasus yang terjadi, Sri Purnomo mengemukakan, upaya untuk menciptakan kondisi lingkungan yang ideal bagi tumbuh kembang anak harus dilakukan secara holistik, terpadu, dan terintegrasi. Sri berharap, upaya yang selama ini dijalankan Pemkab Sleman dapat memperoleh respons positif dari masayrakat. "Melalui komitmen kuat dan langkah bersama, saya yakin lingkungan ramah anak dan antikekerasan dapat terwujud," ujar Sri.     rep: Rizma Riyandi, ed: Hafidz Muftisany