REPUBLIKA.CO.ID | EPAPER REPUBLIKA
Minggu, 24 September 2017
4 Muharram 1439
Find us on:
Literasi Indonesia Sangat Rendah
Kamis, 01 Jan 1970

YOGYAKARTA -- Budaya literasi masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Ketua Forum Pengembangan Budaya Literasi Indonesia Satria Darma mengatakan, berdasarkan survei banyak lembaga internasional, budaya literasi masyarakat Indonesia kalah jauh dengan negara lain di dunia.

"Ironisnya, banyak guru dan birokrat pendidikan termasuk pejabat belum paham juga apa itu literasi," ujarnya saat menjadi pembicara di sebuah seminar di Jogja Expo Center, Ahad (14/12).

Seminar nasional ini digelar oleh Program Studi Bimbingan Konseling dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Menurut Satria Dharma, literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Literasi merupakan jantung kemampuan siswa untuk belajar dan berhasil di sekolah. Juga dalam menghadapi berbagai tantangan pada abad 21.

Satria mengatakan, hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar.

Pada penelitian yang sama, PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti. "PISA menyebutkan, tak ada satu siswa pun di Indonesia yang meraih nilai literasi ditingkat kelima, hanya 0,4 persen siswa yang memiliki kemampuan literasi tingkat empat. Selebihnya di bawah tingkat tiga, bahkan di bawah tingkat satu," ujarnya.

Ia pun melansir data statistik UNESCO 2012 yang menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Angka UNDP juga mengejutkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen saja. Sedangkan Malaysia sudah 86,4 persen.

Ia menilai rendahnya budaya literasi di Indonesia, salah satu penyebabnya karena pejabat dan birokrat pendidikan tidak paham tentang literasi itu sendiri. Akibatnya, literasi tidak menjadi bagian dari kurikulum, termasuk dalam Kurikulum 2013.

Penyebab lainnya, Satria melanjutkan, budaya menonton masyarakat Indonesia yang tinggi. Hal ini melemahkan minat membaca dan menulis siswa di Indonesia. "Saat ini kegiatan utama keluarga di Indonesia adalah nonton TV," ujarnya.

Berdasarkan data BPS, ia mengatakan, jumlah waktu yang digunakan anak Indonesia dalam menonton televisi adalah 300 menit per hari. Jumlah ini terlalu besar dibanding anak-anak di Australia yang hanya 150 menit per hari dan di Amerika yang hanya 100 menit per hari. Sementara di Kanada 60 menit per hari.

Untuk meningkatkan budaya literasi, Satria mencontohkan kesuksesan Kota Surabaya. Kota ini memiliki beberapa program untuk meningkatkan minat baca dan tulis masyarakatnya melalui gerakan budaya literasi kota. "Program ini menerapkan budaya membaca dan menulis secara berkelanjutan, baik di sekolah, di perguruan tinggi, maupun di masyarakat," katanya.

Gerakan ini mewajibkan masyarakat, siswa, mahasiswa, dan semua penduduk Surabaya membaca minimal 15 menit dalam sehari. Melalui gerakan itu, dia berharap, kemampuan literasi Indonesia akan semakin meningkat sehingga generasinya akan semakin siap menghadapi persaingan. rep: yulaningsih ed: andi nur aminah

***
Kondisi Literasi di Indonesia :
-    Literasi, Indonesia urutan 64 dari 65 negara
-    Tingkat membaca siswa, Indonesia urutan ke 57 dari 65 negara
(PISA, 2010)
-    Indeks minat baca : 0,001 (setiap 1.000 penduduk hanya satu yang membaca)
-    Tingkat melek huruf orang dewasa : 65,5 persen
(UNESCO, 2012)