Jumat , 03 Juni 2016, 17:00 WIB

Masjid Bermanfaat untuk Penghuni

Red:

Hunian vertikal seperti apartemen harus menyediakan fasilitas umum dan sosial. Salah satunya menyediakan tempat ibadah.

Menurut Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Bambang Pranowo, adanya fasilitas sosial dan umum seperti tempat ibadah menjadi salah satu penarik animo masyarakat untuk menyewa hunian di tempat tersebut.

"Kalau dia Muslim, orang kan ingin dimudahkan dalam segala hal," ujar Bambang kepada Republika, Rabu (1/6).

Menurut Bambang, masjid di apartemen tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, namun juga edukasi bagi anak. Pelajaran agama di sekolah dinilai tidak cukup, sehingga keberadaan program-program pengajian anak dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Selain itu, adanya kegiatan bersama baik melalui masjid maupun fasilitas lainnya dapat menghindarkan penghuni apartemen dari keterasingan (alienasi). Mereka dapat saling berinteraksi dan saling mengenal melalui berbagai kegiatan bersama.

Tidak adanya fasilitas ibadah yang memadai bagi penghuni apartemen dinilai dapat menimbulkan dampak serius, hingga pendangkalan keagamaan. Sebab, aktivitas ibadah terhambat dan tingkat interaksi menurun.

Menurut Bambang, tidak adanya masjid dapat mengubah perilaku budaya yang berkembang di masyarakat. Sebab, mereka yang tinggal di apartemen umumnya telah lebih dulu tinggal di perkampungan atau perumahan yang menyediakan fasilitas ibadah.

Ia menyarankan, perlu ada diskusi antara pengelola, penghuni, dan konsultan yang benar-benar memahami kondisi apartemen untuk menemukan model tempat ibadah terbaik di setiap hunian.

Bambang menyontohkan, di Singapura, lantai terbawah dari setiap apartemen dibiarkan terbuka. Tempat ini menjadi sarana warga untuk menyelenggarakan berbagai aktivitas, misalnya pesta pernikahan, khitanan, ibadah besar, dan sebagainya. Langkah seperti ini, kata Bambang, patut ditiru oleh para pengembang di Indonesia.

Pemerintah juga perlu lebih berhati-hati dalam memberikan izin operasional apartemen. Tidak tersedianya fasilitas umum seperti tempat ibadah, perlu menjadi bahan peninjauan ulang sebelum izin dikeluarkan.

Masyarakat juga punya andil dalam upaya memenuhi kebutuhan sarana ibadah di apartemen. Misalnya, dengan tidak menyewa apartemen yang minim fasilitas agama dan sosial.

Berawal dari pemenuhan kebutuhan spiritual, penyediaan masjid dapat menyatukan warga dalam satu jamaah yang kukuh. Dengan saling berinteraksi, mereka akan saling tahu dan saling mengenal. Selanjutnya, kelurahan setempat perlu menyatukan masyarakat di kawasan apartemen dengan membentuk perangkat-perangkat seperti RT dan RW.

"Kalau ada urusan bersama diurus. Jadi pindah ke apartemen (warga) tidak mengalami keterasingan dan kehilangan akar budaya," kata Bambang.

Sekretaris Jendral (Sekjen) Jamiyatul al-Washliyah Masyhuril menambahkan, masjid merupakan salah satu fasilitas umum yang wajib disediakan oleh pengelola apartemen. Ini sangat penting mengingat masjid tak hanya menjadi tempat ibadah, namun pusat berbagai kegiatan umat Islam.

"Kalau itu tidak disiapkan, orang tidak bisa melakukan ibadah bersama. Bisa jadi orang tidak mau beribadah, karena tidak ada fasilitas untuk itu," kata Masyhuril kepada Republika, Rabu (1/6).

Sayangnya, kebutuhan ini sering kali diabaikan oleh para pengembang. Mereka umumnya menyediakan fasilitas tambahan yang bersifat fisik dan eksklusif, seperti lapangan olahraga, kafe, dan sebagainya. Padahal, para penghuni apartemen umumnya lebih membutuhkan penguatan dari sisi ukhrawi.

Penyediaan rumah ibadah juga masih dianggap sebagai beban tambahan yang justru merugikan. Untuk menyediakan masjid, pengembang perlu menyediakan lahan khusus yang dapat mereka sewakan dan menghasilkan pendapatan lebih.

Masyhuril mengungkapkan, masjid juga berfungsi sebagai kontrol sosial, sehingga dapat meminimalisasi berbagai masalah seperti peredaran narkoba dan prostitusi yang selama ini kerap ditemui dalam lingkungan apartemen.

Menurut Masyhuril, banyaknya pelanggaraan dalam penyediaan fasilitas ibadah menunjukkan longgarnya pengawasan dalam pemberian izin mendirikan apartemen. Ini juga menunjukkan kurangnya kepekaan dan kepedulian terhadap kebutuhan spiritual para penghuninya.

Fasilitas ibadah yang ideal, menurut Masyhuril, tak harus berbentuk masjid yang besar. Paling tidak, ada keseimbangan antara jumlah penghuni apartemen dan luas tempat ibadah yang ada. Masjid yang disediakan seyogianya dapat menampung semua jamaah.  Oleh Sri Handayni ed: Hafidz Muftisany