Jumat , 02 Oktober 2015, 13:00 WIB

Pesantren Aulia Cendekia Palembang Mencetak Penghafal Alquran di Daerah

Red:

Jenjang pendidikan Islam seperti sekolah dan pondok pesantren (ponpes) sudah banyak berdiri di bumi pertiwi ini. Namun, untuk sekolah dan ponpes yang fokus terhadap tahfidz Alquran, jumlahnya masih sedikit, terutama di daerah-daerah.

Pesantren Aulia Cendekia yang berlokasi di Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarame, Palembang, Sumatra Selatan, ini menjadi salah satu ponpes yang fokus terhadap hafalan Alquran para santri.

Sehingga, santriwan-santriwati baik yang mondok dan reguler (yang tidak mondok) wajib menghafal Alquran sampai tamat. Jika tidak, tentunya pihak pesantren tidak segan-segan mengeliminasi santrinya itu.

"Kalau mereka (santri) tidak sampai tuntas menghafal Alquran, kalau mondok kami tak segan keluarkan. Jadi untuk apa dia hanya makan tidur saja di pondok," kata Pendiri Ponpes Aulia Cendekia, Ustaz Hendra  Zainuddin, kepada Republika, Rabu (23/9).

Ia menyebut, santri yang mondok di pesantren diwajibkan hafal satu juz dalam satu bulan. Sementara untuk santri yang tidak mondok atau program umum, targetnya satu juz selama satu tahun.

"Yang tidak mondok selama mereka belajar di Aulia Cendekia wajib hafal minimal satu juz," katanya.

Kewajiban menghafal Alquran ini, ujar Hendra, memiliki tujuan sederhana. Jika alumni Aulia Cendekia tidak menjadi ulama atau mubaligh, minimal mereka bisa menjadi imam shalat berjamaah di masjid daerahnya.

"Jadi mudah-mudah mereka bisa jadi pemimpin di kampung masing-masing lima dan sepuluh tahun yang akan datang," katanya.

Dengan aturan yang sangat ketat itu, kecil kemungkinan santriwan-santriwati yang mondok di Pesantren Aulia Cendekia tidak menjadi hafiz dan hafizah.

Ustaz Hendra mengatakan, agar santrinya bisa hafal Alquran 30 juz, pihaknya menerapkan konsep yang sudah terbukti efektif untuk menyalin ribuan ayat Alquran pindah ke kepala santriwan-santriwati.

Pesantren Aulia Cendekia memiliki metode fasilitator dan wali kelas. Mereka inilah yang menerapkan konsep kepada masih-masing anak asuhannya sehingga proses menghafal Alquran para santri terpantau per  individu.

"Saya bikin namanya membangun Aulia Cendekia berbasis wali kelas. Wali kelas itu yang betul-betul memantau anak-anak itu menghafal Alquran, untuk yang di dalam pondok namanya fasilitator," katanya.

Pesantren Aulia Cendekia ini merupakan pesantren kedua yang didirikan Hendra pada 2006. Ketika itu, pesantrennya hanya menampung 11 murid. Saat ini santri Insan Cendekia sudah mencapai seribu lebih.

Awal mula berdirinya Pesantren Aulia Cendekia ini dibangun di atas tanah seluas 2.500 meter yang dibelinya dari hasil menjual mobil pribadi. Seiring dengan bertambah banyaknya santri, perluasan lahan dan penambahan gedung juga terus dijalankan.

Dipilihnya nama Aulia Cendekia ini karena Ustaz Hendra ingin semua santri-santrinya menjadi kekasih Allah yang pintar, saleh, dan tegar dalam menjalankan hidup sehari-hari di masyarakat.

Pada usianya yang masuk tahun kedelapan, respons masyarakat terhadap Pesantren Aulia Cendekia sangat baik. Saat ini pesantren harus menolak calon santri karena melebihi kuota. Selain itu, di wilayah Talang Jambe, Kecamatan Sukarame, Palembang, belum ada lembaga pendidikan Islam. "Sebab belum ada lembaga pendidikan Islam sejenis yang ada di kelurahan ini," katanya.

Ustaz Hendra melanjutkan, santri Aulia Cendekia diharapkan mampu menjawab tantangan masyarakat global melalui pendidikan menghafal serta mengkaji ulumul Alquran dan kitab kuning.

Saat ini, pesantrennya juga menjalankan jenjang pendidikan formal, mulai dari madrasah ibtidaiyah (setingkat SD), madrasah tsanawiyah (SMP), dan madrasah aliyah (setingkat SMA).

Kerja sama pesantren dengan pihak luar pun terjalin dengan baik. Pada 2008 lalu, Departemen Agama memberikan amanah pembangunan sarana fisik gedung madrasah tsanawiyah melalui program Madrasah Tsanawiyah Satu Atap Indonesian-Australian.  c62 ed: Hafidz Muftisany