Kamis, 9 Ramadhan 1439 / 24 Mei 2018

Kamis, 9 Ramadhan 1439 / 24 Mei 2018

Pejuang-Pejuang Masjid

Jumat 23 Mei 2014 13:34 WIB

Red:

oleh;Ratna Ajeng Tejomukti--Aroma harum kopi bercampur susu semerbak saat fajar menyingsing. Namun, bukan aroma dari kopi susu di kedai-kedai atau teras rumah-rumah. Sajian susu dan kopi menghangatkan ruangan masjid di sisi selatan Keraton Yogyakarta. Sehabis shalat Subuh berjamaah yang berjubel, amalan disempurnakan dengan zikir pagi dilanjutkan kajian. Ditemani roti dan susu tentunya.

Kebiasaan ini sudah berlangsung di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Ketua Takmir Masjid Jogokariyan Ustaz Muhammad Jazir ASP mengatakan rutinitas itu telah dilakukan sejak tahun 1990. Efeknya ampuh, jamaah shalat Subuh memenuhi masjid hampir seperti shalat Jumat.

Menurut Ustaz Jazir, masjid memang perlu dimanajemen agar tak bergantung pada sumbangan untuk program-programnya. Kini Masjid Jogokariyan memiliki Hotel Islamic Center dengan 11 unit kamar VIP. Hasil dari hotel itu tak hanya untuk mendanai pengurus masjid, tetapi juga pengelolaan masjid, kegiatan, dan jamaah. Meski tidak bergantung pada infak, Masjid Jogokariyan menerima bentuk infak yang terdiri atas beras dan uang.  

“Bagi jamaah yang tidak memiliki uang, mereka boleh menyedekahkan sisa berasnya kepada masjid,” ujarnya. Kotak-kotak besar telah tersedia untuk menampung sumbangan dari para jamaah yang dikenal dengan lumbung masjid. Dana infak yang telah terkumpul nantinya akan dibagikan kepada 968 anak yatim dan 280 kepala keluarga miskin.

Tidak hanya itu, pihaknya juga membantu dalam pendampingan ibadah bagi mualaf. Mereka yang sudah wajib melaksanakan shalat fardhu disediakan pelatih khusus yang datang ke rumah. Saat ini, sudah ada sekitar 1.899 mualaf baru. Sebanyak 816 orang di antaranya mengikuti pelatihan shalat.

“Kami memberikan seperangkat alat shalat, baik untuk laki-laki dan perempuan mualaf yang ingin dilatih belajar shalat,” ujarnya.

Untuk menambah semangat jamaah beribadah, Masjid Jogokariyan menyediakan empat tiket umrah setiap tahun bagi jamaah yang paling rajin beribadah. “Penghitungan pemenang dilakukan dengan mesin finger print untuk mengabsen mereka shalat,” kata Ustaz Jazir.

Masjid Jogokariyan juga memiliki program pemberdayaan masyarakat. Mereka diberikan modal usaha, pelatihan usaha, dan promosi usaha. Ustaz Jazir merasa hambatan yang paling sering dihadapi, yakni mengubah persepsi masyarakat mengenai masjid. Banyak umat Islam saat ini menganggap shalat berjamaah dilakukan jika sempat.

Padahal, shalat berjamaah merupakan hal utama dan pahalanya pun 27 derajat daripada shalat sendiri. Selain itu, masyarakat masih belum memiliki kesadaran masjid dapat dijadikan sebagai solusi masalah mereka. Banyak orang beranggapan masjid bukan tempat untuk mengurusi orang sakit maupun orang miskin.

Keberhasilan Masjid Jogokaryan dalam membina jamaahnya mendapat apresiasi pemerintah. Meski tidak mengucurkan dana, pemerintah menjadikan Masjid Jogokaryan sebagai salah satu destinasi wisata Yogyakarta. “Alhamdulillah, Jogokariyan menjadi masjid terbaik ketiga di Indonesia,” ujarnya.

Banyak pengrus masjid melakukan studi banding ke Jogokariyan, baik dari dalam hingga luar negeri negeri, seperti Thailand, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darrussalam.

Kegiatan untuk memakmurkan masjid juga dilakukan komunitas pejuang subuh. Ketua pengurus pejuang subuh DKI Jakarta Hadi Sofyan mengatakan komunitas ini awalnya berupa gerakan di Twitter. Tujuan awalnya untuk meramaikan masjid di Jakarta saat shalat Subuh.

“Saya merasa prihatin karena masjid yang sangat banyak, ketika subuh yang berjamaah hanya laki-laki yang telah menua,” katanya.

Semangat pemuda untuk berjamaah pun hanya terlihat ketika shalat Jumat. Padahal, shalat berjamaah lima waktu bagi laki-laki sangat diutamakan. Saat ini, para pejuang subuh memprioritaskan keanggotaan bagi ikhwan berusia 20-30 tahun. Meskipun, tidak menutup kesempatan bagi laki-laki yang berusia di bawah maupun lebih tua untuk mengikutinya.

Untuk lebih mengajak berbagai lapisan, pejuang subuh akan mengadakan tabligh akbar keliling ke masjid se-DKI Jakarta. “Karena komunitas kami bernama pejuang subuh maka tabligh akbar ini akan diselenggarakan menjelang shalat Subuh,” ujar Hadi.

Selain tabligh akbar, mereka pun ingin memperluas kegiatan dengan pemberdayaan ekonomi. Karena memang sebagian besar pengurus komunitas ini bekerja sebagai wirausahawan.

Hadi berharap pemuda Islam di Indonesia saat ini sejak awal telah memiliki kemandirian, terutama di bidang ekonomi. Semangat untuk memulai hari diawali dengan shalat Subuh berjamaah yang rutin.

Selain menguatkan spritualitas, mereka pun menyelenggarakan kegiatan untuk menguatkan jasmani. Kegiatan bakti sosial pun sering dilakukan, terutama ketika terjadi bencana. Selain itu, untuk mempererat silaturahim anggota, pihaknya menggelar kajian rutin bulanan.  ed: hafidz muftisany

Sumber : http://pusatdata.republika.co.id/detail.asp?id=737618
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA