Senin , 09 January 2017, 19:21 WIB

Arthur Charlaftis, COO International and Developer REA Group: Selalu Mulai dari Audiens

Red: Arifin

Bisnis properti hampir dikatakan tak pernah mati. Properti merupakan satu dari kebutuhan pokok utama manusia. Tak hanya secara konvensional, kini bisnis properti juga telah merambah platform digital. Justru, inilah yang menjadikan REA Group menjadi besar. REA merupakan sebuah perusahaan periklanan digital yang mengoperasikan website properti terkemuka di Australia dan website real estate di Eropa, Australia, serta Amerika Serikat. Beberapa waktu lalu, REA Group tertarik mengembangkan sayapnya di Asia. Untuk itu, mereka mengakuisisi penuh saham iProperty Group yang salah satunya membawahi situs dalam negeri, yaitu Rumah123.com. 

REA Group bukan pemain baru di industri properti digital. Menjadi bagian dari News Corp Group, REA telah merasakan manisnya kejayaan dunia printing dan televisi, termasuk pahitnya kedua industri tersebut pada era digital seperti saat ini. 

Di bisnis properti, REA memiliki banyak pengalaman karena ada di banyak negara. Di Asia, REA Group melihat Indonesia sebagai pasar yang besar dan potensial. Chief Operating Officer International and Developer REA Group, Arthur Charlaftis, berbincang dengan wartawan Republika Gita Amanda di kantornya di Jakarta mengenai perkembangan industri properti digital di Indonesia. Berikut wawancara lengkapnya.

Bagaimana Anda dan REA Group me lihat perkembangan atau tren in dus tri properti saat ini secara global, khususnya Indonesia? 

Trennya saat ini untuk Eropa dan AS seki tar 80 persen masih secondary market atau pa sar sekunder. Namun, untuk market Asia jus tru kebalikannya, 80 persen pasarnya jus tru primary. Kenapa ini bisa terjadi? Karena banyak faktor, pertama daerahnya. Eropa sudah tidak banyak lagi terdapat lahan seperti Asia. Di Asia pun pembangunan sedang berlangsung terus, makanya lebih banyak primary market-nya.

REA Group bergerak di industri pro perti online (daring). Bagaimana Anda melihat industri properti meng in vestasikan uang untuk pemasaran model ini?

Kalau di negara Barat atau Eropa, contoh paling ekstrem di Luxemburg yang industri properti investasinya 85 persen mengguna kan pemasaran digital dan hanya 15 persen yang masih konvensional. Sementara di Indonesia sebaliknya. Di Indonesia, bisnis properti dengan digital masih di bawah lima persen. Uang yang beredar untuk mengiklan kan properti dengan digital masih di bawah lima persen.

Padahal, kalau kita lihat penetrasi untuk digital, Indonesia sudah lumayan tinggi. Ka lau kita lihat data dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia, 95 juta orang di Indone sia pada 2015 menggunakan internet. Kalau data Google terbaru sudah sampai 100 juta pengguna internet di Indonesia. Artinya, sudah banyak orang yang menggunakan in ter net. Tapi yang memasang iklan di digital masih sedikit sekali. Peluang ini yang kami lihat. 

Pertumbuhan kelas menengah di Indonesia sedang meningkat, tapi ke sa daran akan pemanfaatan industri properti melalui media daring atau digital masih rendah, mengapa REA Group tertarik merambah pasar Indo nesia? 

Memang kesadaran orang Indonesia mengakses layanan properti secara digital di Indonesia masih sangat rendah. Padahal, menurut data, ada 200 juta dolar Australia total uang orang Indonesia yang beredar untuk advertising terkait bisnis ini, termasuk yang offline atau konvensional. Baru di ba wah lima persen yang menggunakan pola pe ma saran daring atau digital. Tapi, ini berarti masih ada kemungkinan peningkatan bahkan hingga 20 kali lipat. Ini artinya potensi di Indonesia untuk industri ini masih sangat be sar. Inilah kenapa kami tertarik, karena kami melihat pasar yang besar di sini. 

Bagaimana strategi yang Anda gu nakan untuk mengatasi ini? 

Pertama, kita selalu mulai dari audiens, artinya orang yang mencari rumah. Dari sisi kuantitas, kita coba kejar agar traffic-nya banyak, tapi kita juga identifikasi dengan sungguh-sungguh, mana yang merupakan pembeli potensial. Audiensnya harus benarbenar orang yang tepat. Kami sudah tidak lagi hanya menargetkan orang yang hanya melihat-lihat, tetapi kami perluas lagi menja di orang-orang yang kami sebut potential buyers.

Kedua, kami juga pastikan produk kami bisa membantu pencari rumah mencari ru mah idamannya dengan lebih mudah. Kami pastikan orang dapat mengakses dengan cara yang paling mudah dan menyenangkan. Sehingga orang bisa mencari rumah yang pas bagi mereka dan bisa juga membandingkan beberapa rumah. Jadi pada akhirnya nanti, baik penjual, agen, maupun pembeli senang karena terbantu.

Ketiga, kami punya spirit untuk meng ubah cara orang menemukan properti, yaitu bukan hanya sampai menemukan, melainkan juga setelahnya. Sebab, biasanya orang kalau sudah cari rumah mau apa lagi itu juga kita pikirkan. Seperti KPR, misalnya, kita sedia kan. Jadi kita bukan hanya leasing rumah, tapi penyedia KPR bank juga kami paling besar. Ada 12 bank yang kerja sama dengan kami di Indonesia.

Kami juga punya arsitek dan lain-lain. Jadi kalau orang mau merancang sesuatu atau membeli isi rumah juga bisa dilakukan di situs kami. Sebab, biasanya orang yang membeli rumah maunya dari depan hingga belakang bisa didapat dari satu situs. 

Tren properti apa sih yang saat ini sedang berlangsung, apakah masih landed atau apartemen? 

Itu berbeda-beda setiap negara, kalau negara-negara, seperti Hong Kong, Singa pura, dan Malaysia, lebih ke apartemen. In donesia agak beda, apartemen tumbuh tapi landed juga masih besar sekali pasarnya. Unik nya lagi di Indonesia di wilayah pinggir an apartemen juga mulai tumbuh. Ini ber beda dengan negara lain, sebab kalau di Aus tralia, misalnya, apartemen itu hanya ada di perkotaan. 

Bagaimana dengan penetrasi asing dalam bisnis properti? 

Kalau lihat faktanya, di banyak negara sekitar 8-15 persen properti yang dijual di miliki oleh asing. Sebab, sekarang ini banyak orang memang sudah mulai membeli proper ti di luar negeri, ini juga peluang buat kita. Meski masing-masing negara berbeda-beda kebijakannya. 

Di satu sisi, banyak negara yang mau menarik banyak pembeli dari luar, karena ini bisa dilihat sebagai investasi asing oleh peme rintah. Tapi di sisi lain, mereka (pemerintah) juga tidak mau kebablasan, terus nantinya semua properti dimiliki asing. Itu kenapa mereka membatasi juga seperti dengan pajak dan segala macamnya. Tapi, market di sektor ini artinya pembeli asing cukup besar. Kita melihat, tren internasional soal cross border trading cukup besar. Makanya kita juga punya keunggulan, karena kalau berbi cara situs properti dengan jaringan paling besar, REA Group bisa dibilang nomor satu di dunia. Dengan market paling besar, kami eksis di empat benua, yakni Australia, Ame rika, Eropa, Asia. Itu kenapa kami mempu nyai international property leasing. 

Kalau relevansinya dengan Indonesia, misalnya, ada developer Indonesia yang mau menjual propertinya ke luar negeri, mereka bisa masuk ke situs kami secara mudah. Jadi, tidak perlu berangkat ke negara yang mau dituju dan mencari koneksi untuk menjual properti di sana. 

Mereka cukup terhubung ke situs ini dan properti mereka bisa dilihat oleh konsumen dari 56 negara. Begitu pula sebaliknya, mere ka yang ingin membeli properti di luar negeri juga bisa melalui kami. Kalau di Rumah 123.com bisa diakses dengan garis miring internasional, Rumah123.com/internasional. 

Target segmen REA dan Rumah 123.com dalam industri properti di gital? 

Karena properti ini kan sudah spesifik banget, makanya kami juga tidak men spesifikasikan lagi. Kami tak menargetkan secara khusus, kami terbuka untuk semua. Tapi karena digital, kebanyakan yang meng akses mungkin kelompok menengah ke atas. Akan tetapi, kita menjual dari yang murah sampai yang mahal. 

Bahkan kalau di Australia, REA Group menyediakan layanan untuk membantu orang-orang korban kekerasan rumah tangga yang berakhir di jalanan atau orang-orang yang terkena bencana alam. Kita bantu me lalui situs kami menemukan rumah singgah yang tersedia. Jadi, untuk segmen pasar kami sangat terbuka 

Melihat pertumbuhan properti yang sangat pesat, khususnya di Indo nesia, apa sudah terjadi bubble di industri ini? 

Sekali lagi berbeda-beda di setiap negara, kalau market di Singapura dan Hong Kong, pemerintah campur tangannya sangat dalam untuk mencegah bubble. Malaysia sekarang lagi diamati karena pertumbuhannya sangat kencang, tapi sekarang sudah mulai pelan lagi. 

Kalau di Indonesia sudah bubble apa belum? kalau bubble seperti pada krisis 1998 atau seperti krisis properti di Amerika? Ja wab annya tidak. Tapi sekarang, siklusnya adalah suplai lebih banyak dari demand, jadi harga properti bukan jatuh, melainkan kenaikan harganya yang jatuh. Jadi kalau biasanya kenaikan harga properti bisa 25 persen, sekarang mungkin hanya 5-10 persen.     ed: Mansyur Faqih

*** 

 

Bukan Orang Baru 

Arthur Charlaftis bukan orang baru di dunia marketing dan penjualan. Ia telah berkecimpung di industri ini selama lebih dari 20 tahun. Sebelum bergabung dengan REA Group, Arthur pernah menjadi bagian dari perusahaan GlaxoSmithKline Australia selama sembilan tahun.

Ia menjadi general manager sales and operations REA Group selama tiga tahun lebih, yang dimulai pada Agustus 2011. Setelahnya, mulai Juli 2015, ia mengemban tugas sebagai chief operating officer international and developer di REA Group.

REA, menurut dia, merupakan pemain global yang merupakan bagian dari News Corp Group. Mereka telah berpengalaman dengan banyak tradisional media dan sekarang mengarah ke digital.

"Kami bukan orang baru di media yang sedang belajar digital. Kami orang lama di media yang sudah merasakan manis dan pahitnya industri printing hingga televisi dan sekarang memasuki era digital," kata dia kepada Republika di kantornya di Jakarta, belum lama ini. Beruntung, menurut Arthur, REA Group bersama News Corp tepat waktu dalam peralihan mereka ke industri digital. Dengan begitu, mereka tak tertinggal dalam era baru platform digital ini.

Untuk urusan properti, dia mengatakan, industri properti digital memiliki pasar yang besar, apalagi di Indonesia. Malah, kesadaran masyarakat Indonesia untuk memanfaatkan platform digital sebagai media pemasar an yang masih rendah justru menumbuhkan optimisme menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial.

"Saat ini kesadaran akan penggunaan pemasaran lewat digital atau online di Indonesia masih sekitar lima persen dan itu masih bisa terus tumbuh," ujarnya.

Melihat pasar Indonesia yang sangat besar, maka menurut Arthur, wajar jika nantinya akan banyak pemain yang hadir di industri ini. "Tapi dengan pengalaman kami di banyak negara, kami optimistis. Sebab, kalau bicara pemain di bisnis ini di Indonesia cuma kami yang punya kehadiran di global, dan bukan hanya di Asia atau di Indonesia," kata Arthur.

Dia mengatakan, REA Group telah teruji di banyak negara, sehingga mereka optimistis akan kehadiran Rumah123.com di Indonesia. Secara finansial, REA Group juga disebut sebagai perusahaan yang terus tumbuh berkembang.

Pertumbuhan perusahaan itu juga bukan lagi dari bawah atau nol, melainkan sudah pada posisi yang positif. Sehingga jika mau berinvestasi di mana pun, menurut dia, REA Group mampu memiliki posisi yang kuat.     Oleh Gita Amanda, ed: Mansyur Faqih