Senin , 02 January 2017, 17:15 WIB

Safdar Khan, Division President Mastercard Indonesia, Malaysia, And Brunei: Fokus Kalahkan Uang Tunai

Red:

Foto: Republika/Tahta Aidilla  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kartu kredit tidak per nah bisa dile paskan dari setiap transaksi keuangan dewasa ini. Meskipun penetrasinya masih rendah, yaitu baru berkisar 17,9 juta pengguna, kartu kredit sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di kota-kota besar. Mulai untuk membeli tiket pesa wat, hotel, berbelanja di ecom merce, hingga makan di res toran.

Di Indonesia, seperti layak nya negara-negara berkembang lain nya, penggunaan kartu kredit juga masih kalah bersaing de ngan me tode pembayaran tunai yang ma sih menguasai sekitar 90 persen tran sak si. Tak hanya itu, jika di banding kan transaksi debit, kartu kredit pun masih belum menjadi pi lihan utama sebagian besar orang.

Mastercard, sebagai jaringan kartu kredit terbesar di Indonesia dari sisi jumlah kartu dan tran saksi, pun berencana untuk me ningkat kan penetrasi di Tanah Air. Bahkan, perusahaan ini me miliki mimpi untuk dapat me nga lahkan transaksi uang tunai.

Kepada wartawan Republika Riz ky Jaramaya, Division Pre sident Mastercard Indonesia, Ma lay sia, and Brunei, Safdar Khan, bercerita mengenai opti misme per usahaan untuk ber tum buh. Ter ma suk mengenai target per tumbuhan dua digit pada tahun ini, seperti realisasi pertumbuhan tahun lalu.

Hal ini ditambah dengan du kung an pemerintah melalui kebi jakan Bank Indonesia, yang men dorong masyarakat lewat Gerak an Nasional Non-Tunai. Harap annya, pada masa mendatang akan banyak orang yang ber tran saksi, baik de ngan kartu kredit maupun kartu debit.

Optimisme ini tak lepas dari pertumbuhan kartu debit di Indo nesia yang meningkat sangat signi fikan dengan pertumbuhan sebe sar 28 persen (yoy). Hal ini kar ena orang-orang lebih memi lih meng gunakan kartu debit agar dapat mengendalikan keuangan, karena bank langsung memotong uang yang ada di tabungan mereka.

Bagaimana perkembangan kar tu kredit sampai saat ini?
Saat membicarakan instrumen pembayaran, tak hanya melibatkan kartu kredit tapi juga kartu debit. Kalau dilihat pangsa pasar kartu kredit hanya 17,9 juta pengguna, tapi kartu debit jumlahnya hampir 109 juta pengguna.

Kalau dilihat pertumbuhannya sam pai September 2016 jumlah tran saksi meningkat dibandingkan tahun lalu, tetapi secara keseluruhan pertum buhan pangsa pasar kartu kredit stag nan. Tapi kartu debit, pada periode Januari-September 2016 telah tumbuh hampir 20 persen dilihat dari volume nya dan transaksinya juga tum buh se kitar 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Market kartu kredit memang sedikit melambat akibat pengaruh dari kondisi perlambatan ekonomi global. Akan tetapi, sangat bagus bahwa ba nyak orang menggunakan instrumen pembayaran dengan kartu debit.

Di Indonesia dan juga negara emer ging market lainnya, lebih ba nyak orang menggunakan kartu debit untuk transaksi pembayaran seharihari. Sedangkan kartu kredit, hanya digunakan ketika mereka akan beper gian, seperti untuk memesan tiket pesawat dan hotel, selain itu juga untuk pembayaran di e-commerce.

Bagaimana dengan kartu kre dit bermasalah?
Kami hanya melakukan proses pem bayaran dan tidak mengurusi soal kartu kredit yang bermasalah. Hal tersebut dikembalikan kepada masingmasing bank. Kami tidak punya infor masi tentang itu, karena penanganan kartu kredit bermasalah ada di bank.

Berapa penetrasi Mastercard saat ini, khususnya di Indonesia?
Kami adalah yang terbesar di ne gara ini dilihat dari jumlah kartu dan ju ga transaksinya. Kami tumbuh double digit. Namun, secara keseluruh an penggunaan kartu kredit dan kartu debit di Indonesia masih kecil, yakni hanya sekitar 10 persen, sedangkan 90 persen lainnya lebih banyak bertran saksi dengan uang tunai.

Dengan adanya kebijakan Bank Indonesia yang mendorong masya rakat lewat Gerakan Nasional Non- Tunai, justru kami merasa terbantu. Karena nantinya, akan banyak orang yang bertransaksi, baik dengan kartu kredit maupun kartu debit. Kami berharap sampai akhir tahun ini bisa tetap tumbuh dua digit.

Di daerah mana saja penggu na terbanyak Mastercard di Indonesia?

Kartu kredit lebih banyak diguna kan di kota-kota besar, sedangkan kartu debit persebarannya lebih mera ta, yakni antara di kota besar ataupun kota-kota kecil di Indonesia. Fenomena ini terjadi di seluruh negara emerging market di mana orang-orang yang ting gal di kota kecil lebih suka meng gunakan kartu de bit ketimbang kar tu kredit. Artinya, penetrasi kartu kre dit lebih ba nyak di kota besar dan pe netrasi kar tu debit lebih ba nyak di kota kecil.

Bagaimana kerja sama Mas ter card dengan perbankan di Indonesia?
Sejauh ini ka mi sudah bekerja sa ma dengan 26 bank di Indonesia untuk penerbitan kartu kredit ataupun kartu debit. Ke depan, kami berencana untuk melakukan kerja sama lebih banyak lagi dengan perbankan di Indo nesia dan para mitra lainnya untuk menye diakan layanan keuangan, khu susnya dalam menjangkau masyarakat yang berada di daerah terpencil (re mote areas), di mana mereka sulit men da patkan akses terhadap ke uangan (unbanked dan underbanked).

Mastercard sebagai penyedia ja ring an pembayaran global akan terus bermitra dengan para partner untuk memberikan kesempatan bagi masya ra kat, dalam menggunakan dan meng ambil keuntungan dari transaksi nontunai dalam aktivitas pembayaran mereka.

Apakah ada perbedaan peng gu na an dan strategi terkait kartu kredit, menyusul perkembangan ICT yang pesat belakangan ini?
Untuk menghadapi perkembangan ICT ini kami menggabungkan dua hal, yakni cash dan digital by default. Ini sangat penting karena dengan perkem bangan ICT ini, transaksi pembayaran banyak menggunakan platform digital. Pada dasarnya, saat ini banyak orang menggunakan mobile phone atau tablet untuk mengakses pembayaran dan kebutuhan sehari-hari.

Misalnya saja Gojek, Traveloka, dan Tiket.com sebagai contoh perusa haan mengedepankan ICT. Untuk itu, Mastercard senantiasa mendorong p e r t u m b u h a n peng gunaan pem bayar an nontunai dengan mengha dir kan berbagai ino vasi pemba yar an, terma suk Mas ter pass (cards on file), yang ba ru-ba ru ini kami guna kan untuk kerja sa ma dengan Blue Bird.

Dengan inovasi tersebut, masyara kat diharapkan me miliki peng alaman pembayaran yang lebih mu dah, aman, dan cepat. Melalui beragam inovasi pembayaran tersebut, kami juga ingin mendukung program Gerakan Nasio nal Non-Tunai, yang dicanangkan oleh Bank Indonesia untuk mewujudkan less cash society.

Mastercard sangat memahami bah wa perkembangan teknologi yang se makin canggih mempengaruhi ada nya permintaan dari konsumen untuk me miliki pembayaran yang lebih mudah, cepat, dan nyaman. Kami di Master card menargetkan untuk memberikan full journey of consumers transac tions, mulai dari transportasi, belanja, membeli kebutuhan sehari-hari, atau pun membayar makanan dan minum an di restoran.

Beberapa inovasi yang telah dilaku kan Mastercard untuk meningkatkan pengalaman pembayaran elektronik, baik bagi konsumen maupun mer chant, antara lain Masterpass, Master card Identity Check, dan Chatbot.

Apa yang membedakan Mas ter card dengan jaringan kartu kredit lainnya?
Semua bergantung dari brand dan partnership yang dibangun oleh ma sing-masing jaringan. Fokus Master card saat ini adalah bagaimana untuk mengalahkan penggunaan uang tunai yang hingga kini masih merajai alat pembayaran di Indonesia, yakni sebe sar 90 persen. Sedangkan pembayaran elektronik, hanya mencapai 10 persen.

Apalagi, berdasarkan data dari Bank Indonesia, pertumbuhan kartu kredit di Indonesia tidak terlalu sig nifikan, hanya sebesar delapan persen. Hal ini juga kemungkinan dipengaruhi oleh adanya economic slowdown.

Akan tetapi, pertumbuhan kartu debit di Indonesia meningkat sangat signifikan dengan pertumbuhan sebe sar 28 persen (yoy). Pertumbuhan yang besar ini juga dirasakan oleh negara berkembang lainnya. Hal ini karena orang-orang lebih memilih untuk spending money menggunakan kartu debit agar lebih dapat mengendalikan keuangan mereka, karena bank lang sung memotong uang yang ada di tabungan mereka.

Bagaimana posisi Indonesia di Asia Tenggara terkait kartu kre dit?
Potensi pertumbuhan di negaranegara berkembang di kawasan Asia Tenggara sangat besar. Khususnya In do nesia, negara ini diperkirakan akan menjadi negara dengan perekonomian bernilai triliunan dolar AS dalam bebe rapa tahun mendatang serta akan men jadi kekuatan ekonomi keempat di du nia dalam beberapa dekade berikutnya. Perkembangan tersebut juga terasa di dua kota lainnya, yakni Malaysia dan Brunei, sehingga hal tersebut membuat Mastercard memutuskan untuk mem buat sebuah divisi baru untuk me ngem bangkan potensi tersebut. 

***
Selalu Pulang Kampung Saat Lebaran


Division President Mastercard Indonesia, Malaysia, and Bru nei Safdar Khan lebih memilih untuk menghabiskan waktu luang ber sama dengan istri dan kedua putri nya. Pria asal India ini selalu meng ajak keluarganya untuk ikut berpindah tempat sesuai dengan tugas yang diembannya.

"Saya adalah tipikal family man dan lebih suka menghabiskan waktu luang di rumah bersama keluarga," ujar Safdar kepada Republika di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Safdar, keluarga adalah yang paling utama dibandingkan harta. Sebab, tidak ada gunanya jika seseorang memiliki banyak harta, tetapi hanya punya waktu sedikit bagi keluarga. Karena itu, meski kesibuk an nya sangat padat, pria berkacamata ini mengaku tak ingin melewatkan masa pertumbuhan kedua putrinya. Dia pun selalu menghabiskan waktu bermain dengan kedua putrinya pada saat libur.

Pria kelahiran 17 Agustus 1970 ini juga tidak pernah lupa dengan tanah kelahirannya. Setiap Hari Raya Idul Fitri, Safdar selalu menyempatkan diri untuk pulang ke India dan merayakan nya bersama keluarga besar. Safdar mengatakan, ketika Hari Raya Idul Fitri setiap anggota keluarga saling bersilaturahim dan menjalani tradisi, yakni membagikan uang kepada sanak saudara. Biasanya tradisi membagikan uang saat Lebaran hanya ditujukan bagi anak-anak kecil, tetapi di keluarga Safdar tradisi ini terus berlanjut sampai dewasa.

"Ini cukup lucu, karena saya meli hat ibu saya masih membagi-bagikan uang kepada adik-adiknya, yang notabene sudah berumur semua dan tradisi ini selalu dilakukan di keluarga kami," kata Safdar sambil tertawa mengenang kejadian tersebut.

Safdar belum lama pindah ke Jakarta, tapi dia sudah menyukai beberapa masakan Indonesia, ter utama rendang. Menurut dia, rendang dan masakan daerah Padang lainnya memiliki kemiripan rasa dengan yang ada di India. Ini pun sedikit banyak dapat mengobati rindu pada kampung halamannya.

Tinggal di Indonesia, Safdar tidak terlalu terganggu dengan kemacetan yang terjadi di Jakarta. Sebab, dia sudah terbiasa dengan kemacetan serupa di kota-kota besar di India. Di kantornya, Safdar lebih suka menggunakan pakaian yang kasual, seperti kemeja dan celana jins. Safdar mengaku, akan menggunakan pakai an resmi, seperti batik atau jas apabila ada jadwal pertemuan dengan peme rintah ataupun instansi lainnya. "Saya ingin menciptakan suasana kan tor yang santai, kasual, namun te tap pro fesional," katanya. Oleh Risky Jaramaya ed: Mansyur Faqih