Senin , 26 December 2016, 14:00 WIB

Gede Gunawan, Country Director Agoda International Indonesia Fokus Merangkul Millennial Traveler

Red:

Gede Gunawan te lah menghabiskan 25 tahun hidupnya da lam dunia pari wi sata. Ia pernah be ker ja di beberapa grup perhotelan besar sebelum akhirnya bergabung ber sama Agoda Indonesia pada 2010.

Pria yang akrab di sapa Guna wan ini, menjadi saksi transformasi industri hotel daring. Ia juga berpe ran penting dalam perkembang an dan pertumbuhan Agoda di Indo nesia. Dari hanya 300 mitra hotel hingga kini Agoda memiliki 14.600 mitra hotel di seluruh Indonesia.

Tak hanya hotel, jaringan juga dibangun dengan mitra penginapan lain, seperti apartemen, indekos, bahkan rumah warga yang bisa dise wakan. Untuk setiap penginapan yang akan bergabung dengan Ago da, akan ada tim yang melakukan pengecekan langsung. Dari kondisi bangunan, hingga akses jalan menuju penginapan tersebut.

Dia juga bercerita mengenai fo kus perusahaan yang ingin me rang kul millennial traveler. Hal tersebut lan taran menurut penelitian, kelom pok masyarakat ini menginginkan destinasi yang autentik dan belum banyak didatangi orang. Mereka juga ingin mengeksplorasi lebih jauh budaya Indonesia.

Ini juga alasan Agoda yang akhirnya meluncurkan kampanye baru bernama #agodabasecamp. Tujuannya, para millennial traveler ini menjadikan hotel sebagai titik awal memulai keseruan perjalanan wisata mereka. Berikut petikan wawancara wartawan Republika Gita Amanda dengan Gunawan belum lama ini.

***
Bisa ceritakan secara singkat ba gai mana sejarah awal Agoda didiri kan?
Dunia online (daring) memang sudah jadi perbincangan di seluruh dunia saat ini. Kami memulainya sudah 10 tahun lalu dan menjadi layanan pemesanan hotel daring pertama di Asia Tenggara. Kini Agoda telah menjadi salah satu agen perjalanan online yang mendunia.

Awal dibuat tujuan Agoda sebenarnya sederhana. Yakni, untuk mempermudah dan membantu orang-orang di bisnis pariwisata agar lebih mudah memasarkan hotel mereka. Sesederhana itu saja.

Agoda mulai menjadi besar sejak di akuisisi oleh Priceline pada 2007. Namun, perkembangannya baru mulai benar-benar pesat sejak 2010, setelah era telepon pintar ber kembang. Kini kami semakin berkem bang dengan sekitar satu juta mitra hotel di seluruh dunia.

Bagaimana Anda melihat perkem bangan bisnis pemesanan hotel daring saat ini di Indonesia?
Kami melihat di Asia, Indonesia meru pa kan salah satu negara yang pasarnya sa ngat potensial. Perkembangannya sangat pesat. Saya memiliki latar belakang perhotelan selama lebih dari 20 tahun. Jadi, saya tahu persis saat sebelum bergabung dengan Agoda dulu, harus mendatangi satu per satu agen travel untuk memasukkan hotel saya. Butuh waktu dan dana yang tak sedikit.

Saya dulu bermimpi bagaimana para pe milik hotel ini, hotelnya bisa mendunia da lam hitungan menit. Maka itu, berkem bang nya industri pemesanan hotel daring ini sangat membantu para pelaku bisnis per hotelan di mana saja.

Perbandingannya pun sangat signifikan. Untuk Agoda sendiri, misalnya, pada 2008 kami hanya punya tiga karyawan homestay di Indonesia. Perkembangannya hingga 2010 sangat lambat. Tapi, setelah era telepon pintar, perkembangannya sangat melejit. Kalau diukur dengan jumlah mitra hotel saja, misalnya, dulu kita hanya memiliki 300 hotel pada 2010. Tapi kini di Indonesia Agoda memiliki 14.300 mitra hotel di seluruh dunia, dari Aceh hingga Papua. Dari kota be sar seperti Jakarta hingga yang sulit di jangkau seperti Papua.

Bagaimana Anda melihat segmen pasar Indonesia?
Sangat besar sekali. Indonesia meru pakan salah satu yang terpenting bagi Agoda di Asia Tenggara. Kami punya 43 ribu hotel di Asia Tenggara dan 14.600 di antaranya ada di Indonesia. Tapi, Agoda tak bisa lepas juga dari konsumennya di pasar Asia dan dunia. Kami memiliki 18 juta konsumen per data 2016 ini di seluruh dunia. Itu menyebar di 37 ribu kota di seluruh dunia.

Seperti apa Agoda menyikapi per saing an dengan platform pemesanan hotel daring lain yang kian tumbuh di Indonesia?
Dengan jumlah hotel dan konsumen loyal yang kita punya, saya rasa itu menjawab secara keseluruhan. Kami juga punya tujuh juta review untuk hotel kita di seluruh dunia. Ulasan itu merupakan hal penting bagi konsumen yang ingin menginap di hotelhotel yang menjadi mitra kami.

Punya strategi khusus?
Strategi yang kita lakukan sama dengan lainnya, seperti brand campaign. Memba ngun lebih banyak kerja sama untuk men jaring mitra hotel baru. Kalau saat ini hampir 15 ribu hotel di Indonesia, kami terus meningkatkan target dari segi jumlah ke depannya.

Tak hanya hotel, kami juga memiliki mitra penginapan lain, seperti apartemen, indekos, bahkan rumah warga yang bisa disewakan. Untuk setiap penginapan yang akan bergabung dengan kami, akan ada tim dari Agoda Indonesia yang melakukan pe ngecekan langsung. Dari kondisi bangunan hingga akses jalan menuju penginapan tersebut. Jadi bukan hanya hotel yang kami tawarkan pada konsumen.

Kami juga mencoba sejalan dengan prog ram pemerintah. Artinya, kami ikuti ke mana flight dibuka. Sebab, penting bagi orang yang mau traveling memiliki akses transportasi untuk mencapainya.

Posisi Indonesia dibandingkan ne gara lain di dunia bagi Agoda seperti apa?
Indonesia sekali lagi merupakan pasar yang sangat penting bagi Agoda dan bagian penting dari dunia. Ada 250 juta penduduk di negara ini. Selain itu, kami juga mau seja lan dengan rencana Pemerintah Indonesia yang akan mendatangkan lebih banyak wisa tawan asing ke negara ini. Tahun ini, peme rintah menargetkan 11 juta wisatawan asing dan pada 2019 sekitar 20 juta wisatawan.

Sejalan dengan itu, kami ingin mem bantu mengembangkan pariwisata Indone sia. Dengan ikut bertanggung jawab menye diakan layanan pemesanan hotel yang memudahkan para pelancong ke Indonesia. Sehingga mau ke mana pun mereka bisa memesan hotel dengan mudah dan murah.

Fokus pasar Agoda saat ini?
Saat ini kami ingin merangkul millennial traveler. Menurut penelitian kami, mereka menginginkan destinasi yang autentik dan belum banyak didatangi orang. Mereka juga ingin mengeksplorasi lebih jauh budaya Indonesia.

Untuk menjangkau mereka kami melun cur kan kampanye baru bernama #agoda base camp. Tujuannya, para millennial traveler ini menjadikan hotel sebagai titik awal memulai keseruan perjalanan wisata mereka.

Melalui aplikasi Agoda, kami juga me mudahkan para konsumen untuk menje lajahi tempat-tempat seru di sekitar mereka. Dengan fitur terbaru kami Check In, Step Out, yang tersedia di situs ataupun aplikasi telepon pintar Agoda, para pelancong muda ini bisa mengidentifikasi empat tempat menarik yang dekat dengan akomodasi mereka. Seperti tempat kuliner, hiburan, belanja, dan jalan-jalan.     ed: Firkah Fansuri

***

Senang Menjelajahi Tempat Baru

Sebagai orang yang berkecimpung di dunia perhotelan dan pariwisata, traveling merupakan makanan keseharian Gede Guna wan. Pria berdarah Bali ini mengaku, memang sangat menyukai berjalan-jalan. Bukan ke tempat-tempat umum, melainkan menjelajahi tempat baru.

"Saya sangat suka berjalan-jalan di pantai atau di daerah yang masih banyak pohon besar. Mengeksplorasi lebih dalam sebuah wilayah," ujar pria yang akrab disapa Gunawan ini kepada Republika, belum lama ini.

Di Jakarta, misalnya, pria yang berdomisili di Bali ini mengaku sangat menyukai menelusuri wilayah Jakarta Utara. Menurut dia, banyak tempat unik, bangunan tua, dan sejarah Jakarta yang bisa dijelajahi di daerah utara ibu kota ini. Saat traveling pun ayah empat anak tersebut lebih menyukai dengan berjalan kaki. Hitunghitung, menurut dia, sekalian berolahraga.

Gunawan memang gemar berjalan kaki dalam melakukan aktivitas luar ruangan. "Dengan jalan itu sama seperti olahraga, murah dan bisa dilakukan kapan serta di mana saja," ujar dia.

Gunawan memang hobi berolahraga. Tak mengherankan jika pada usianya saat ini, ia tampak sangat fit dan bugar. Tapi, Gunawan mengaku tak suka olahraga yang terlalu berat. Dia lebih memilih olahraga berjalan kaki atau melakukan pilates.

Jika tak sedang sibuk bekerja, pria lulusan Universitas Warnborough Inggris ini, senang berwisata bersama dua putri kembar, seorang putra, dan putri bungsunya. Tapi, ia akan menyempatkan diri berjalan-jalan sendiri di selasela kesibukannya.     Oleh Gita Amanda, ed: Firkah Fansuri