Thursday, 29 Zulhijjah 1435 / 23 October 2014
find us on : 
  Login |  Register
Friday, 16 December 2011, 16:00 WIB

Bertawassul dengan Amalan Sholeh

Republika/Prayogi
Anak sekolah (ilustrasi)

Pertanyaan :

Saya pernah melihat ada orangtua yang berpuasa karena anaknya sedang ujian. Ia berkeinginan agar anaknya lulus ujian. Ia berpikiran bahwa puasanya itu adalah sebagai "laku prihatin" agar cita-cita anaknya tercapai. Bolehkah berpuasa (tentu dilandasi niat karena Allah) untuk suatu maksud tertentu, misalnya agar lulus ujian, diterima kerja, dan lain-lain. Adakah tuntunannya?

Adib





Jawaban :

Saudara Adib yang dirahmati Allah.


Istilah "laku Prihatin" sebaiknya tidak digunakan dalam bertaqarrub kepada Allah, karena ia memiliki banyak interpretasi dan pemaknaan, sehingga bercampur baur dengan ajaran yang bertetangan dengan Islam, dan dapat menjerumuskan ke dalam hal-hal yang berdekatan dengan syirik dan lain-lain.

Berkenaan dengan pertanyaan bapak, dalam Islam, perbuatan itu disebut tawassul. Bertawassul dengan amal shaleh termasuk perkara yang dibolehkan dalam syariat. Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul terhadap Allah SWT dengan perantaraan perbuatan amal sholeh, sebagaimana orang yang sholat, puasa, membaca al-Qur’an, kemudian mereka bertawassul  dengan amalan tersebut untuk memperoleh apa yang diinginkannya dari Allah.

Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam kitab-kitab sahih yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua, yang pertama bertawassul kepada Allah SWT dengan amal baiknya terhadap kedua orang tuanya, yang kedua bertawassul kepada Allah SWT dengan perbuatannya yang selalu menjauhi perbuatan zina  walaupun ada kesempatan untuk melakukannya dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT dengan perbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh.  Maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.. (Ibnu Taimiyah mengupas masalah ini secara mendetail dalam kitabnya Qoidah Jalilah Fii Attawasul  Wal wasilah hal 160).

Jadi bertawassul dengan berpuasa untuk lulus ujian, dan maksud-maksud lain yang diridhai dan disyariatkan Allah, boleh dilakukan.
 
Wassalaam


Tajuddin Pogo



Rubrik tanya jawab ini diasuh oleh Ikatan Da'i Indonesia (Ikadi). Kirim pertanyaan Anda ke: ustadzsiaga@rol.republika.co.id

Redaktur : Mohamad Afif
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda
Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya(HR. Muslim, no. 2588)