Saturday, 1 Muharram 1436 / 25 October 2014
find us on : 
  Login |  Register
Monday, 14 May 2012, 11:27 WIB

Kiat Memaksimalkan Konsinyasi dalam Bisnis Fashion Muslim

Fashion Muslim, ilustrasi

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Terima kasih sebelumnya atas perhatian bapak terhadap pertanyaan Saya. Selama ini, Saya usaha di bidang fashion muslim dan pemasarannya menggunakan sistem konsinyasi dengan beberapa butik. Namun, penjualan tidak pernah baik ataupun terlihat fantastis. Apa saja yang harus Saya lakukan dengan pihak toko, untuk mendongkrak penjualan?

Wassalamu'alaikum

Zulhamdi, Bekasi - 29 tahun



Jawaban:

Walaikumsalam Wr. Wb.

Pak Zulhamdi yang terhormat, pada prinsipnya usaha atau bisnis yang kita jalani merupakan suatu proses dari serangkaian tindakan yang kita perbuat. Karena sifatnya merupakan suatu mekanisme proses, maka perlu waktu bagi pengembangannya. Sehingga, yang dapat serta perlu dilakukan, antara lain evaluasi secara kontinu dan konsisten dalam penerapan strategi usaha yang ditekuni.

Konsinyasi adalah mekanisme titip jual, di mana pemilik produk menempatkan barang dagangannya kepada toko untuk kemudian dijual dan akan dibayar setelah barang terjual. Dalam hal ini, keuntungan yang diperoleh yaitu tidak perlu modal awal yang besar, seperti memiliki outlet toko dan pegawai sendiri. Namun demikian, juga memiliki kelemahan dalam hal fokus penjualan, karena pemilik toko tentu mempunyai berbagai varian produk jualan lainnya.

Skema kerjasama konsinyasi bisa menggunakan pola bagi hasil atas produk jual. Sehingga, harga jual telah ditetapkan oleh pemilik produk dan nilai atas bagi hasilnya. Ada pula skema konsinyasi dengan pola penetapan harga dasar, di mana pemilik produk menetapkan harga dasar, sementara pihak outlet toko mendapatkan margin dari harga jual yang dia tentukan sendiri. Dalam kedua pilihan tersebut, tentu akan lebih baik bila Pak Zulhamdi memakai pola pertama di mana telah ditentukan harga jual dan bagi hasilnya, karena dengan demikian terdapat standarisasi harga.

Terkait dengan pertanyaan Bapak, dengan jenis produk fashion muslim dan sistem konsinyasi memang perlu diurai lebih dalam atas skema dan format penjualan yang dilakukan tersebut. Berikut ini langkah-langkah yang perlu dipertegas dalam perbesaran kapasitas penjualan dengan memanfaatkan saluran distribusi.

1. Terapkan mekanisme tambahan diskon atas penjualan dengan besaran nilai tertentu. Dalam hal ini, tentu skema tawaran tersebut adalah insentif penjualan di luar dari skema bagi hasil awal. Perlu dihitung nilai signifikan tambahan diskon atas kuantitas minimum penjualan. Prinsipnya, low margin high volume sehingga diharapkan tingkat penjualan akan meningkat.

2. Pastikan skema konsinyasi dilakukan dengan outlet yang kredibel serta bila memungkinkan tidak memiliki produk jualan yang setara dengan jenis produk yang ditawarkan. Sehingga, sifat keberadaan produk Anda adalah komplementer (melengkapi) dan bukan produk substitusi (pengganti). Hal tersebut, agar lokasi konsinyasi menjadikan produk Anda sebagai opsi pilihan produk jual yang utama.

3. Lakukan pertambahan jumlah saluran outlet lokasi konsinyasi. Karena memang, hal ini berkorelasi dengan "Law of Large Number". Sehingga, potensi atas kemungkinan tingkat penjualan dapat berjalan selaras dengan kapasitas jumlah distribusi yang bekerjasama. Tentu, perlu kalkulasi cermat atas jumlah stok produk yang harus dikonsinyasikan, agar tidak menjadi beban produksi.

4. Pastikan kekuatan produk Anda yang spesifik. Sehingga, "knowledge of benefit product" juga menjadi bagian yang perlu diketahui penjual. Diharapkan, penjual dapat mengerti apa yang menjadi kelebihan dari produk yang Anda tawarkan. Oleh karena itu, skema konsinyasi tidak bisa hanya satu arah. Namun, perlu komunikasi secara interaktif dengan pihak pengelola outlet, untuk mendapatkan feedback dari calon pelanggan. Hal itu nantinya bisa berupa informasi/ masukan terkait soal harga, bentuk kemasan, penempatan (display produk), dll.

5. Manfaatkan momentum yang berkenaan dengan produk. Seperti, peringatan hari raya untuk melakukan promosi yang menarik bersama dengan rekan partner outlet konsinyasi Anda. Diskon besar yang atraktif dapat dijadikan sarana dalam melepaskan stok produk yang sebelumnya sulit untuk dirilis.

6. Pastikan produk Anda dapat memenuhi selera pasar yang berlaku. Karena, fashion itu lekat dengan selera pasar yang dinamis. Sehingga, Anda perlu memastikan produk yang uptodate dan populer, karena produk barang/ jasa yang berkaitan dengan lifestyle selalu bergerak dan berubah. Oleh karena itu, komunikasi intensif dengan partner outlet konsinyasi menjadi penting, untuk menjadi saran evaluasi atas produk berdasarkan tanggapan konsumen.

7. Perbanyak skema saluran distribusi. Dalam hal ini, skema saluran penjualan harus diperbanyak. Potensi pembelian akan semakin besar, bila aksesibilitas (keterjangkauan) konsumen akan produk semakin beragam. Selama ini yang dilakukan hanya konsinyasi, maka harus dipikirkan untuk melebarkan sayap dengan perluasan penjualan online (low cost), mekanisme reseller distribusi (individual network), bahkan sampai pengelolaan butik internal.

Demikian yang dapat Saya sarankan, Pak. Semoga bisa meningkatkan omset penjualan produknya. Salam Entrepreneur.


Ery Kasman, SE, MSi 
Direktur Entrepreneur Institute

 
Rubrik konsultasi ini bekerja sama dengan Entrepreneur Institute.


Kirimkan pertanyaan ke: wirausaha@rol.republika.co.id

Redaktur : Miftahul Falah
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda
Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)(HR Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294))