Rabu, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 Februari 2018

Rabu, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 Februari 2018

Tentang Aku dan Mak

Selasa 17 April 2012 11:42 WIB

Red: Johar Arif

Ilustrasi

Ilustrasi

Mak,

Ingatkah dirimu ketika kau memasakkan nasi aking untukku?

Karena beras terlalu mahal untuk bisa kau beli

Sedangkan Bapak tak mampu memberi nafkah lebih

Bukan karena Bapak malas bekerja, hanya saja rejeki berlimpah belum berpihak pada kita

Senyummu, Mak. Dan sorot matamu

Menyiratkan satu keinginan dalam hatimu

Kau hanya ingin, perut anakmu tetap kenyang

Tak peduli meski kau harus menahan lapar sepanjang malam

Saat itu, pernahkah terbersit bahwa aku, anakmu yang bandel ini

Akan berada di sini, di ibukota Negara kita

Tidak, Mak.

Tidak pernah terpikir sama sekali.

Ketika aku menangis tengah malam karena ingat keinginanku masuk pesantren yang tak mampu kau kabulkan

Hingga membuatmu dan Bapak terbangun

Apa kita terpikir bahwa suatu saat aku akan berada disini?

Bertemu langsung dengan para pejabat Negara dan artis-artis ibukota

Bertemu para inspirator dan motivator seantero negeri

Tidak, Mak. Tak terpikir sedikitpun.

Ketika aku merengek meminta melanjutkan sekolah

Sedangkan Bapak menginginkan aku menjadi TKW

Dengan harapan memperbaiki ekonomi keluarga kita

Apakah terbersit dalam benak kita bahwa kelak aku akan berada di pusat peradaban Negara?

Tidak, Mak. Tak terpikir sedikitpun.

Kita hanya berpikir untuk terus membujuk Bapak agar mengijinkan aku sekolah

Berbekal uang tabungan yang diberikan guruku.

Dan ketika aku melihatmu menangis tersedu

Karena seorang tetangga melecehkanmu

Di hatiku terpatri sebuah janji

Bahwa aku akan berjuang keras mendapatkan beasiswa kuliah di Ibukota

Menjadi orang pertama di keluarga kita yang menempuh pendidikan tinggi

Agar dia yang selalu menghina keluarga kita sadar

Aku pun bisa membanggakanmu, mengangkat derajat keluarga kita yang selalu diludahinya.

Sekarang aku di sini, Mak.

Diantara ribuan pendulang mimpi

Di tengah kerasnya ibukota

Doamu selalu kuharapkan

Agar impian kita menjadi kenyataan

Dan takkan ada lagi yang memandang sebelah mata pada keluarga kita.

Di sudut kamar penuh rindu

20 Maret 2012

12:10 AM

El Fietry Jamilatul Insan

Rubrik ini bekerja sama dengan komunitas penulis perempuan Women Script & Co

womenscriptnco@gmail.com

@womenscriptco

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA