Jumat, 18 Jumadil Akhir 1435 / 18 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Tentang Aku dan Mak

Selasa, 17 April 2012, 11:42 WIB
Komentar : 0
Ilustrasi
Ilustrasi

Mak,
Ingatkah dirimu ketika kau memasakkan nasi aking untukku?
Karena beras terlalu mahal untuk bisa kau beli
Sedangkan Bapak tak mampu memberi nafkah lebih
Bukan karena Bapak malas bekerja, hanya saja rejeki berlimpah belum berpihak pada kita

Senyummu, Mak. Dan sorot matamu
Menyiratkan satu keinginan dalam hatimu
Kau hanya ingin, perut anakmu tetap kenyang
Tak peduli meski kau harus menahan lapar sepanjang malam
Saat itu, pernahkah terbersit bahwa aku, anakmu yang bandel ini
Akan berada di sini, di ibukota Negara kita
Tidak, Mak.
Tidak pernah terpikir sama sekali.

Ketika aku menangis tengah malam karena ingat keinginanku masuk pesantren yang tak mampu kau kabulkan
Hingga membuatmu dan Bapak terbangun
Apa kita terpikir bahwa suatu saat aku akan berada disini?
Bertemu langsung dengan para pejabat Negara dan artis-artis ibukota
Bertemu para inspirator dan motivator seantero negeri
Tidak, Mak. Tak terpikir sedikitpun.

Ketika aku merengek meminta melanjutkan sekolah
Sedangkan Bapak menginginkan aku menjadi TKW
Dengan harapan memperbaiki ekonomi keluarga kita
Apakah terbersit dalam benak kita bahwa kelak aku akan berada di pusat peradaban Negara?
Tidak, Mak. Tak terpikir sedikitpun.

Kita hanya berpikir untuk terus membujuk Bapak agar mengijinkan aku sekolah
Berbekal uang tabungan yang diberikan guruku.
Dan ketika aku melihatmu menangis tersedu
Karena seorang tetangga melecehkanmu

Di hatiku terpatri sebuah janji
Bahwa aku akan berjuang keras mendapatkan beasiswa kuliah di Ibukota
Menjadi orang pertama di keluarga kita yang menempuh pendidikan tinggi
Agar dia yang selalu menghina keluarga kita sadar
Aku pun bisa membanggakanmu, mengangkat derajat keluarga kita yang selalu diludahinya.

Sekarang aku di sini, Mak.
Diantara ribuan pendulang mimpi
Di tengah kerasnya ibukota
Doamu selalu kuharapkan
Agar impian kita menjadi kenyataan
Dan takkan ada lagi yang memandang sebelah mata pada keluarga kita.


Di sudut kamar penuh rindu
20 Maret 2012
12:10 AM
El Fietry Jamilatul Insan


Rubrik ini bekerja sama dengan komunitas penulis perempuan Women Script & Co
womenscriptnco@gmail.com
@womenscriptco






Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: Jadilah. Lalu jadilah ia. (QS.Al-Baqarah [2]:117)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  el fietry Kamis, 21 Juni 2012, 00:46
tentu saja mbak vera, terimaksih sudah mampir.
  vera astanti Sabtu, 21 April 2012, 10:26
ketika kita semua sudah berada pada posisi setengah tiang. yang kita lihat adalah seorang perempuan biasa dengan semua kasih sayangnya. jangan berhenti bermimpi, mari berjuang bersama. karena kita adalah seorang pejuang mimpi.
bukan begitu mba El??

  VIDEO TERBARU
Mahathir Kunjungi Mega, Mahathir: Mega Sahabat Lama Saya
JAKARTA -- Mantan perdana menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengunjungi kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar Nomor 27A, Menteng, Jakarta Pusat (14/4). Berikut video...