Rabu, 26 Ramadhan 1435 / 23 Juli 2014
find us on : 
  Login |  Register

Kala Pakar Nuklir Bertutur Tentang Rasulullah

Selasa, 28 Februari 2012, 17:20 WIB
Komentar : 0
Foto-foto: Wapena
Taushiah dalam Peringatan Maulid Nabi di Masjid As-Salam
Taushiah dalam Peringatan Maulid Nabi di Masjid As-Salam

Alam semesta beserta segala kompleksitas di dalamnya, senantiasa patuh bergulir menuju akhir zaman. Seiring dengan semakin matangnya usia peradaban manusia, maka dibutuhkan insan terbaik yang siap mengemban risalah suci. Tujuannya untuk menegakkan kemuliaan umat manusia serta menebarkan rahmat bagi semesta alam. Dengan berbekal ketinggian karakter yang dimilikinya, serta kecintaannya yang teramat dalam pada umatnya, Rasulullah Muhammad SAW diutus Sang Khalik untuk mengemban misi mulia tersebut.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At Taubah:128).

Demikianlah pengantar yang disampaikan oleh  Dr. Mohamed Al-Mughrabi pada kesempatan peringatan Maulid Nabi di Masjid As-Salam Wapena pada tanggal 5 Februari silam.

Mengenal Rasulullah Lebih Dekat

Tiada agenda spesial pada acara peringatan Maulid Nabi bagi komunitas Wapena, selain mendengarkan taushiah yang kali ini dibawakan oleh seorang ahli nuklir berkebangsaan Libya. Dr. Mohamed, demikian sapaan beliau, sengaja diundang dalam acara ini oleh pihak Wapena.

Selain untuk membagi kedalaman ilmunya tentang Islam, Dr. Mohamed juga mengenalkan lebih dekat sosok Rasulullah SAW. Melalui penuturan beliau yang runtun dan sistematis,  jamaah Wapena seakan diajak menyelami kedalaman samudera hidup dan misi mulia yang diemban oleh sosok insan pilihan tersebut.

Dalam taushiahnya, beliau menegaskan, bahwasanya Rasulullah adalah Qudwah Hasanah atau teladan terbaik bagi seluruh umat manusia. Rasul terakhir yang diutus untuk menyempurnakan risalah kenabian ini, tidak hanya dapat dipanuti dalam sisi ritual ibadah saja, tapi juga menjadi acuan terbaik dalam setiap peran yang dimainkannya; Sebagai kepala keluarga, pendidik, panglima, politikus dan pemimpin negara.

“Berhiaskan akhlak Al-Qur’an, Rasulullah sukses menjalani setiap aspek hidupnya dengan mengikuti petunjuk Allah SWT”, lanjut pria yang telah lebih dari 15 tahun bekerja di Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) ini. Dengan gaya bahasanya yang cerdas, penggalan-penggalan dari episode kehidupan manusia istimewa itu (Rasulullah SAW), menjadi sangat hidup dan realistis untuk dapat dijadikan acuan dalam menapaki kehidupan di zaman modern ini.

Tantangan Bagi Muslim Eropa

Muncul pertanyaan mendasar, apakah segala teladan perikehidupan Rasulullah tersebut dapat membumi pada lingkungan yang jauh dari nilai-nilai Islami, seperti di Kota Wina ini? Sebagai pendatang yang sudah cukup lama tinggal di Eropa, khususnya Austria, Dr. Mohamed menyadari bahwasanya tantangan yang dihadapi muslim Eropa cukup berat, terutama dalam hal mendidik anak. Terlebih, budaya Barat sangat menjunjung kebebasan pribadi untuk berekspresi.

Solusi terbaik menurut beliau adalah dengan melatih anak-anak muslim untuk berpikir logis dan menentukan pilihan secara bertanggungjawab. Oleh karena itu, perlu adanya keseriusan dari para orangtua untuk menumbuhkan pemahaman dan kebanggaan anak terhadap Islam sebagai agama yang mereka imani, beserta segala aspek yang menjadi konsekuensinya.

Forum-forum seperti pengajian mingguan ini menjadi sarana yang penting untuk menggiring pemahaman, serta membangun pondasi karakter anak yang kuat. Dan yang terpenting, orangtua harus menjadi contoh yang nyata, sehingga prinsip-prinsip kebenaran yang diajarkan, dapat mudah dimengerti dan diterima oleh anak-anak. “Berkaca dari perjalanan hidup Rasulullah SAW, beliau senantiasa fokus kepada tindakan, bukan pada ucapan,” ujarnya.

Di penghujung acara, beliau menyampaikan satu hal penting yang dapat dilakukan oleh kaum muslim, di kota yang sepertiga penduduknya adalah imigran ini. “Komunitas Islam yang sudah mulai besar ini, hendaknya sudah memikirkan untuk mendirikan sekolah Islami berkualitas, yang dapat menjaga identitas keislaman anak-anak muslim dari arus deras globalisasi,“ pungkasnya.




Rubrik ini bekerja sama dengan komunitas Wapena
www.wapena.org 





Redaktur : Miftahul Falah
Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian. Barang siapa yang membenci ayahnya berarti ia kafir.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Buka Puasa Bersama Obama Diwarnai Seruan Boikot
WASHINGTON -- Acara buka puasa tahunan di Gedung Putih diwarnai seruan boikot, sebagai bentuk protes kebijakan pemerintahan Obama terhadap konflik di Gaza. Selengkapnya...