Selasa, 1 Rabiul Awwal 1436 / 23 Desember 2014
find us on : 
  Login |  Register

Menggapai Mahameru, Si Langit Pulau Jawa

Senin, 13 Februari 2012, 11:15 WIB
Komentar : 2
Foto-foto: Nyanyu/PicnicHolic
Di puncak Mahameru
Di puncak Mahameru

Mahameru merupakan puncak dari Gunung Semeru,  gunung berapi tertinggi di Pulau  Jawa yang bearada di antara Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur. Dengan ketinggian 3.676 m dpl (di atas permukaan laut), Puncak Mahameru mendapat julukan Langit Pulau Jawa. Gunung berapi ini hingga saat ini masih aktif selalu menawarkan cerita unik bagi para pendakinya.

Meskipun harus melewati jalur yang cukup terjal dan cuaca yang sangat dingin (sekitar 15-21 derajat Celcius di siang hari) untuk menggapainya, Mahameru masih menjadi puncak favorit pilihan pendaki Indonesia. Mendengar cerita tentang pesona kecantikan sepanjang jalur pendakiannya membuat saya tergoda untuk mendakinya.

Ranu Pane

Dengan sebuah jeep dari Desa Tumpang, saya dan teman-teman menuju Desa Ranu Pane yang merupakan titik awal pendakian. Sepanjang 1,5 jam perjalanan awal menuju pos pendaftaran di Ranu Pane,  mata kami sudah dimanjakan dengan pemandangan segar yang mampu menghilangkan kepenatan setelah 16 jam naik kereta api dari Jakarta.

Kanan kiri terlihat perkebunan apel dan tebu milik masyarakat setempat.  Udara segar benar-benar kami nikmati hari itu. Gugusan pegunungan Bromo dengan bukit teletubbies-nya juga tak luput dari penglihatan mata dan kamera kami. Di ujung pos pendaftaran, Ranu Pane (Ranu artinya Danau) yang dikelilingi perkebunan kentang, perbukitan, dan keramahan penduduk yang sedang berladang, menyambut kami. Sebuah perpaduan bagus untuk meningkatkan mood kami menggapai Mahameru.

Ranu Kumbolo, Surga di Pagi Hari

Cuaca cerah saat itu, dan kami sudah menyelesaikan proses administrasi di pos pendaftaran. 2 jam pertama jalur yang kami lewati cukup landai. Sesekali kami berhenti untuk beristirahat di shelter-shelter peristirahatan. Pemandangan khas hutan tropis mendominasi jalur yang kami lewati. Udara dingin sore itu memaksa kami untuk tidak berhenti lama di tiap shelter yang kami singgahi. Suhu yang dingin bukan hanya karena udara yang diam, tetapi juga hembusan angin kencang.

Satu jam selanjutnya jalur agak sedikit mendaki, namun tidak terjal. Kami tidak bisa melihat pemandangan kanan kiri lagi karena kabut sudah turun dan gelap malam sudah datang. Kami hanya fokus pada jalan setapak yang kami lewati. Jaket dan sarung tangan mulai kami kenakan bersama dengan headlamp untuk menerangi jalan.

Setibanya di Ranu Kumbolo, kami mendirikan tenda untuk bermalam dan beristirahat. Beberapa teman seperjalanan mengatakan Ranu Kumbolo ini luar biasa indahnya. Tapi, karena hari sudah gelap dan dingin yang luar biasa ini menusuk tulang, secangkir coklat panas menurut saya lebih indah saat itu.

Hingga saat terbangun di pagi hari, saya seperti  berada di Surga. Ah, saya memang belum tahu surga itu seperti apa. Tapi demi melihat sekeliling, tempat dimana saya menghabiskan malam karena kelelahan, saya  merasa seperti berada  di tempat terindah.

Dihadapan saya terpampang  danau air tawar  yang menyejukkan penglihatan. Refleksi 2 bukit pada kanan dan kirinya terlihat jelas dipermukaan danau seluas 14 hektar tersebut. Pohon pinus dan perbukitan masih diselimuti kabut tipis. Saya tidak percaya ada danau cantik di ketinggian 2.400 mdpl ini.

Kami tidak sendiri. Beberapa pendaki juga mendirikan tenda di Ranu Kumbolo. Inilah rumah singgah bagi para pendaki yang akan naik atau pun turun dari Mahameru. Kegiatan memancing, mengisi botol kosong dengan air danau, mengabadikan surga dengan kamera, semua terlihat selaras.

Kami saling menyapa, saling bercerita, bahkan berbagi kopi. Hawa dingin menyengat yang kami rasakan tadi malam, sekarang menjadi hangat. Hangat oleh matahari yang sudah keluar, juga akan persahabatan yang ditawarkan. Saya jatuh cinta pada Ranu Kumbolo!

Kalimati

Kami tidak bisa berlama-lama menikmati surga gunung ini. Kami masih harus mendaki 1.276 meter lagi, tentunya dengan jalur yang tak lagi landai. Setelah membuat sarapan agar energi tetap seimbang, kami membongkar tenda dan kembali melanjutkan perjalanan. Enggan rasanya meninggalkan Ranu Kumbolo. Tapi, ranger kami mengingatkan bahwa setelah turun dari Mahameru kita akan kemping lagi di sini.

Tujuan kami selanjutnya adalah pos Kalimati, pos terakhir sebelum kami menggapai Si Langit Pulau Jawa. Empat jam perjalanan, dengan pemandangan yang lebih menakjubkan. Melewati Tanjakan Cinta, terlihat panorama Ranu Kumbolo yang biru, tenang dan menyejukkan. Pada sisi sebaliknya, terlihat savana luas, seluas mata memandang. Itulah padang savanna bernama Oro-Oro Ombo.

Alang-alang kering setinggi tubuh berjajar rapi membentuk jalan setapak kecil. Bersentuhan dengan tubuh kami saat kami melewatinya. Bunga Edelweiss dan Lavender tumbuh liar dan membentuk koloni sendiri, memberikan pendaran warna berbeda di antara savana luas berwarna emas. Sesekali kami mencium harum bunga Lavender. Atau sengaja mendekatkan ke penciuman kami ke bunga Edelweis yang sedang mekar. Bau yang khas yang tak akan pernah terlupakan.

Bukit-bukit hijau terlihat gagah namun anggun memagari savana ini. Seakan menjaga agar keindahannya tidak pudar. Kami melihat puncak gunung berwarna abu-abu, tidak hijau seperti gunung lain yang pernah saya daki. Ternyata itulah puncak Mahameru. Berwarna abu-abu, terlihat terjal dan gersang. Tapi saya justru makin semangat untuk melanjutkan perjalanan karena merasa semakin dekat dengan tujuan.

Empat jam sudah kami berjalan beriringan dengan pemandangan yang menakjubkan. Hawa dingin kembali menghadang kami setibanya di Kalimati, pos terakhir sebelum mendaki. Rasa dingin di Ranu Kumbolo ternyata tak sebanding dengan Kalimati yang lebih dingin ini. Siang hari, dengan matahari yang tetap memancar, hawa dingin tetap tidak terelakkan. Angin lembah yang dingin dan bertiup kencang serasa membuat tulang-tulang kelu.

Setelah mendirikan tenda, kami segera memasak dan menyantap makanan hangat (yang juga cepat dingin). Setelah itu langsung tidur, walaupun baru jam 2 siang. Ya, kami memang harus menyiapkan energi kami untuk pendakian nanti malam.

Puncak Mahameru  hanya bisa ditaklukkan jika kita berangkat sekitar jam 1 dini hari. Lebih dari itu, kemungkinan kita tidak akan bisa mencapai puncaknya karena badai  pasir yang menghadang. Atau yang lebih parah, terjebak di puncaknya, tidak bisa turun.  Rasa lelah, perut kenyang, hawa dingin hingga ke sumsum tulang, membatalkan niat saya untuk menikmati panorama di Kalimati secara maksimal. Tidur memang menjadi pilihan yang tak bisa ditawar.

Puncak Mahameru

Pukul 1 dini hari kami mulai merangkak. Segala perlengkapan kami tinggal di dalam tenda di Kalimati. Kami hanya membawa air mineral, coklat, dan perlengkapan P3K. Sulitnya medan yang akan kami tempuh memang tidak memungkinkan untuk membawa perlengkapan seperti saat mendaki awal.

Jalan yang sempit, berpasir dan berkerikil kerap membuat langkah kami terhenti setiap 15 menit. Oksigen yang semakin menipis dan udara dingin hingga mencapai  9 derajat celcius tak sedikit pun menyurutkan langkah kami. Kami benar-benar bertekad untuk mencapai Puncak Mahameru, meskipun tertatih. Kami benar-benar mengatur langkah karena kanan kiri pada beberapa titik yang kami lewati jalanan longsor.

1,5 jam melangkah dalam gelap dan lembab, akhirnya kami tiba pada ‘pintu gerbang’ si jalur terjal Mahameru, jalur yang kami lihat saat kami menuju Kalimati. Abu-abu, berkerikil, dan gersang. Langkah menjadi makin tertatih. Kami tidak lagi mendaki, namun merangkak. Rasanya, untuk merangkak 1 meter saja butuh effort yang luar biasa. Merangkak 1 langkah, turun 3 langkah. Itulah yang kami alami.

Berhenti terlalu lama hanya akan mendapatkan dingin yang menyiksa. Saya sempat putus asa dan berniat turun sebelum mencapai Sang Puncak, namun, lagi-lagi teman-teman sependakian memberikan semangat dengan mengatakan “Ayo… itu puncaknya sudah terlihat. Tidak sampai satu jam sudah sampai kok!”. Kata-kata yang menghibur sekali, walaupun pendakian masih jauh. Mungkin butuh sekitar  3 jam lagi.

Pemandangan luar biasa

Makin tinggi, makin tertatih karena oksigen makin tipis. Jalur yang didaki dipenuhi dengan kerikil dan batu besar yang siap menggelinding mengenai kita kapan saja. Tak bisa beristirahat lama karena angin dingin makin bertiup kencang membawa terbang debu-debu di sekitar kita.

Namun, di antara rasa putus asa yang kerap datang, kami disuguhi pemandangan luar biasa. Dari ufuk timur, warna jingga bertumpuk dengan warna oranye muncul membentuk garis lurus pada dasar langit yang biru. Diikuti dengan munculnya bulatan emas mentari. Pemandangan luar biasa itu hanya terjadi tidak lebih 2 menit. Itu adalah bonus untuk kami sebelum sampai puncak.

Lima jam mencoba untuk terus merangkak, kami akhirnya sampai di Puncak Mahameru. Sembah sujud saat itu demi melihat keajaiban yang Allah ciptakan. Jajaran gunung Bromo, Slamet, Sundoro, Sumbing, semua terpampang di depan mata dengan megahnya.

Awan kini tidak berada di atas kami, tapi di bawah kami. Jika saat itu kami dalam film Doraemon, pastilah adegan melompat ke awan sudah kami lakukan. Awan-awan yang terasa begitu dekat dengan kaki, melingkupi beberapa sudut perbukitan dan pegunungan di Pulau Jawa.

Gradasi warna alam refleksi dari sinar matahari pagi terpancar begitu sempurna. Hijau lumut, hijau toska, hijau muda, biru cerah, jingga, keemasan, putih berarak, perpaduan warna yang menyejukkan hati untuk lukisan alam paling sempurna dari Sang Maestro.

Sayang sekali, saya tak bisa berlama-lama di Puncak Mahameru ini. Selain (lagi-lagi) hawa dingin dan angin yang bertiup kencang, kami khawatir badai akan datang. 25 menit berada di titik tertinggi Pulau Jawa, cukup membayar rasa letih dan (hampir) putus asa saya.

Setelah mengabadikan gambar seadanya karena hanya membawa kamera saku, kami semua turun. Masih merasakan lelah, tapi kami semua bangga. Bukan bangga karena bisa sampai di puncak, namun bangga karena kami bisa mengalahkan ego kami untuk tetap terus melangkah sembari saling memberi semangat kepada teman seperjalanan. Tenda di Kalimati telah menanti kami dengan sejuta cerita yang siap yang kami bagi.



Nyanyu Partowiredjo
, pelaku wisata
picnicholic@gmail.com






Rubrik ini bekerja sama dengan PicnicHolic
www.picnicholic.webs.com

@PicnicHolic


Redaktur : Johar Arif
Celaka bagi orang yang bercerita kepada satu kaum tentang kisah bohong dengan maksud agar mereka tertawa. Celakalah dia...celaka dia. ((HR. Abu Dawud dan Ahmad))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Irman Gusman: Nilai Pemerintahan Jokowi A Minus
AKARTA — Ketua Dewan Perwakilan Daerah, Irman Gusman menilai pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla sudah berlangsung baik. Meski menurutnya banyak kebijakan yang diambil...