Thursday, 29 Zulhijjah 1435 / 23 October 2014
find us on : 
  Login |  Register

Menemukan Keluarga Baru di Benua Biru

Saturday, 18 August 2012, 14:52 WIB
Komentar : 1

REPUBLIKA.CO.ID, Ketika memutuskan untuk menjadi anggota laskar pencari beasiswa, saya sadar sepenuhnya dengan semua resiko yang akan saya temui. Jauh dari keluarga, jauh dari teman-teman, jauh dari makanan Indonesia yang enak-enak, dan masih banyak lagi yang lain nya.

Namun demikian, demi mencapai impian untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik, demi masa depan yang lebih baik, dan demi pengalaman menyentuh benua biru, saya harus rela untuk meninggalkan semua kenyamanan saya di Indonesia. Dan dengan semangat 45 saya mendaftar (berbagai) beasiswa.

Perjalanan meraih impian itu tidak mudah. Tentu saja. Dan lamaran beasiswa saya juga berkali-kali gagal. Ketika waktu itu saya sempat down karena gagal di program STUNED, salah seorang sahabat berkata: “never give up your dream. Just hold on a little bit longer, try again and you’ll be fine”.

Saya yang waktu itu rasa nya sudah ingin menyerah, seolah kembali mendapat suntikan semangat. Saya pun memutuskan untuk sekali lagi mengirimkan satu aplikasi beasiswa yang sudah nyaris deadline. Nothing to lose aja klo kata saya di waktu itu. Jika kali ini pun aplikasi saya gagal lagi, setidak nya saya sudah berusaha semampu saya. Dan berbekal bismillah, saya mengirimkan aplikasi beasiswa NFP.

Well, jujur saya nyaris lupa dengan lamaran beasiswa NFP saya. Hingga pada suatu hari saya melihat email:

    From    : ssc@wur.nl
    To       : akhirta@....
    Date    : Fri, Dec 10, 2010 at 12:55 PM
    Subject : NFP Fellowship selection

Dear Akhirta,
Congratulations!
On behalf of the Dutch Government, we are pleased to offer you a fellowship under the Academic Programme of the Netherlands Fellowship Programme (NFP-AP) for the MSc Programme Biology starting in February 2011…. Dst.. dst…


Woaaa…. Rasa nya seperti mimpi di siang hari ketika saya membaca surat elektronik tersebut. Berkali-kali saya baca email dari Student Service Centre Wageningen University tersebut. Huruf demi huruf saya cermati betul-betul hingga akhirnya saya percaya dengan apa yang saya lihat. Alhamdulillah. Finally, saya akan mengunjungi benua biru. Belanda, saya datang!

Kemudian, tibalah di bulan Januari 2011. Bulan dimana Garuda Indonesia akhirnya membawa saya dari bandara Ahmad Yani, Semarang ke bandara internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Dari Soekarno-Hatta, saya bersama dengan 2 orang NFPers yang lain (Esti dan Atik) akan menggunakan maskapai Emirates untuk menuju ke negeri Belanda. Excited! Tentu saja!

Setelah mengalami penerbangan nyaris 24 jam, karena pesawat kami delay, dan sempat juga transit di Marcopolo, Venice, akhirnya sampai juga di bandara Schipol, Belanda. Udara dingin Belanda menyambut kedatangan kami dengan ramah. Perjalanan belum berakhir karena dari Schipol, kami masih harus menempuh satu jam lagi dengan kereta dan dilanjutkan 30 menit perjalanan dengan Bus dari stasiun Ede-Wageningen, sebelum akhirnya kami tiba di calon rumah kami selama 2 tahun. Wageningen.

Alhamdulillah. Teman-teman dari Perhimpunan Pelajar Indonesia di Wageningen menyambut kedatangan kami bertiga dengan hangat dan akrab. Dan tentu saja setelah itu, tidak membutuhkan waktu lama bagi saya, Esti dan Atik untuk ikut aktif dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh PPI Wageningen, semacam kumpul-kumpul makan bareng, family gathering, summer barbeque, peringatan perayaan 17 Agustus 2011, buka puasa bersama selama Ramadhan, pengajian rutin bulanan, jalan-jalan bareng, seminar Ilmiah, halal bi halal, dan masih banyak lagi kegiatan seru yang lainnya.

Saya yang pada awalnya takut dan khawatir akan merasa kesepian di negeri orang, kini justru sangat bersyukur karena di Wageningen saya mendapatkan banyak sekali teman-teman yang baik. Boleh dibilang, selama hampir dua tahun bergabung dengan PPI Wageningen, saya belajar berbagai hal dan mendapatkan banyak pengalaman yang tak tergantikan. Dan pertengahan tahun 2012 ini, saya melihat teman-teman seangkatan yang sudah akan kembali pulang ke tanah air. Sedih sekaligus bangga. Sedih karena akan berpisah, namun juga bangga akan prestasi teman-teman.

Yah itulah. Dimana ada pertemuan pasti juga ada perpisahan. Dan jika kemudian ada yang bertanya: apa yang sudah saya dapat kan dari benua biru? Saya akan jawab: banyak sekali!

Salah satu nya, saya menemukan keluarga baru!

Oleh Akhirta Atikana

Student, MSc Biology, Wageningen University

Rubrik ini bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia

Redaktur : Hafidz Muftisany
Buta yang paling buruk ialah buta hati.((HR. Asysyihaab))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Zulkifli Hasan: Halal Itu Budaya Indonesia
JAKARTA -- Predikat negara dengan penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, membuat produk halal menjadi sesuatu yang penting di Indonesia. Bahkan Ketua MPR...