Sabtu, 4 Zulqaidah 1435 / 30 Agustus 2014
find us on : 
  Login |  Register

Inilah Sekelumit Perjalanan Pelajar Indonesia di Selandia Baru

Selasa, 03 Juli 2012, 10:21 WIB
Komentar : 4
Amalia Suwarno
Sekelumit perjalanan pelajar Indonesia di Selandia Baru.
Sekelumit perjalanan pelajar Indonesia di Selandia Baru.

Sejak awal mulai sering menyebut aktivitas saya di PPI, beberapa teman bertanya dengan penuh keingintahuan, "PPI apaan sih? FPI?" Saya tegaskan di sini, PPI atau Perhimpunan Pelajar Indonesia, organisasi-organisasi pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri, jelas beda dengan FPI. 

Saya memang berdarah setengah Sunda, tapi saya mampu melafalkan huruf "F" dengan baik dan benar. Siapa bilang orang Sunda gak bisa bilang "Panta.." huh, pitnah itu..pitnaaah...!!!

Seperti yang dinasehatkan oleh Bung Karno “Jasmerah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Terbentuknya PPI pun bisa ditelusuri perjalanan historisnya. 

Mohammad Hatta merupakan salah satu perintis organisasi mahasiswa Indonesia di luar negeri, lewat Perhimpunan Indonesia ketika beliau menempuh studi di Belanda. Organisasi ini dulunya bernama Indische Vereniging. 

Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging dan merupakan organisasi Indonesia di Belanda yang menolak bekerjasama dengan Belanda. Hatta pun kemudian terus mengabdikan dirinya bagi perkembangan nasionalisme Indonesia dan kita kenal sebagai negarawan cerdas, berintegritas tinggi namun rendah hati.

Dapat dipahami mengapa nasionalisme kritis dan cerdas seperti ini tumbuh subur, justru saat pelajar-palajar Indonesia menempuh studi di luar negeri. Saat berada jauh dari tanah air, (sebagian besar dari kita) akan mampu melihat negeri kita dengan segala permasalahannya dengan lebih jernih. 

Kalau kata orang tua, kalau jauh tercium wangi, kalau dekat hanya dapat bau-bau yang kurang sedap saja. Saat di luar negeri, lagu "Tanah Airku" yang kalau di Indonesia jadi pengantar tidur saat habisnya siaran TVRI, tiba-tiba mampu membuat air mata kita meleleh bahkan menangis sesegukan. 

Di tanah air, tak habis-habis kita mengomel tentang kemacetan parah Jakarta. Tak jarang mengutuki para koruptor tak tahu malu atau mengumpat pemerintah yang lamban kerjanya. 

Tapi saat di luar negeri, darah kita rasanya mendidih apabila mendengar orang lain, apalagi orang asing mencaci maki negeri kita. Kita tiba-tiba mampu berdebat lincah, bersilat argumen untuk membantah hal-hal yang harus diluruskan dan membagikan the brighter side of our country. Bahwa segala turbulensi politik,ekonomi dan sosial yang sedang terjadi, ini adalah tahapan yang harus kita lewati untuk menjadi bangsa besar yang dihormati dan sejajar dengan bangsa lain di Indonesia. That we stumble and fall, but we keep moving on.

Saya bukan ekskul freak, yang segala kegiatan dari cheerleader (secara, gak mungkin juga saya jadi cheerleader ya bow, lha poco-poco aja saya keluar keringat dingin), pencak silat (ini juga gak mungkin), drama, senat mahasiswa sampai klub jantung sehat atau fotografi diikuti.

Tapi, dari beberapa organisasi yang saya ikuti, selain ISAFIS (Indonesian Student Association for International Studies), PPI adalah organisasi yang paling unik, challenging dan berkesan.

Banyak faktor penyumbang keunikan ini. Yang pertama, domain PPI sangatlah menantang.

Kalau Anda aktif di paguyuban RT, lingkupnya jelas dan terbatas. Ya, di lingkungan RT Anda itu saja.

Bila Anda aktif di Ikatan Mahasiswa yang berdasarkan kedaerahan, ya di situ juga lingkupnya, misalnya Ikatan Mahasiswa Minang, Cirebon, Makassar atau Banyumasan.

Di PPI, domainnya adalah Indonesia, sebuah entitas abstract negara bangsa yang bahkan masih tak jarang digoyang soal kedaulatan wilayah dan isu separatisme.  

Di PPI, berkumpul pelajar Indonesia dengan bentuk nasionalisme berbeda-beda. Saya tak mau pakai kata “kadar” karena saya tak berhak menilai bobot nasionalisme seseorang. Dari yang sudah sangat lama tinggal di luar negeri dan berbahasa Indonesia terpatah-patah seperti "nggak dapat ojchek pajahawl jalanan bechek", hingga yang berlogat Semarang atau Malang-nya masih medhok nglothok.

Ada pula kawan yang tak pernah lepas dengan perkembangan berita tanah air. Mulai dari isu reshuffle kabinet sampai gaun pernikahan Anang-Ashanti pun ia tahu.

Ada juga kawan yang terbengong-bengong tiap diajak berbincang mengenai pilkada Jakarta atau lumpur Lapindo. Bahkan, bila kita iseng bilang Ayu Ting Ting itu nama menteri juga (sepertinya) bakal percaya saja. Tapi, semuanya mengakui dengan bangga (atau setengah bangga juga tak apa) kalau mereka, adalah orang Indonesia.

Rentang usia para anggotanya pun cukup jauh, dengan masalah hidup yang beraneka. Bukan seperti kelompok lansia atau klub mahmud (mamah-mamah muda) yang sudah jelas batas umur dan sumber kegalauannya.

Di PPI, ada anak post ABG di foundation studies yang resah gelisah karena masih jomblo saja. Para ABG yang bosan makan mi instan terus tapi mau makan di luar tiap hari. Uang kiriman orangtua pun bisa cepat habis dan artinya bakal dimarahi.

Ada pula mahasiswa/mahasiswi doktoral yang hidupnya baru dimulai (alias 40-an, 'kan life begins at fourty ^^ ). Merasa frustrasi dengan supervisor yang seringkali kejam merevisi draft tiada akhir. Uang beasiswa yang sering telat, atau harus pontang panting merawat anak sakit sambil menyelesaikan laporan lab.

Kebhinekaan lain adalah dari segi bidang ilmu, yang membuat pengetahuan masing-masing jadi semakin kaya. Atau perbedaan keimanan, yang membuat pengertian dan toleransi menguat secara bijak.

Dengan diversifikasi yang menantang seperti ini, setiap individu di dalamya bekerja dengan caranya masing-masing untuk berbuat hal positif bagi Indonesia. Lewat latihan poco-poco, atau tari saman, dua tarian wajib bagi pelajar Indonesia di luar negeri kayanya, pentas di acara-acara kebudayaan, carnival, mengadakan dikusi ilmiah, dan menerbitkan publikasi, sampai berusaha ikut mengawasi kunjungan institusi pemerintah ke luar negeri.

Mereka bekerja tulus, tak berpamrih. Tak berharap honor dalam foreign currency atau satya lencana. Padahal, sering mereka nombok untuk bensin, fotokopi atau beli makanan kecil. Atau berkorban waktu untuk mengesampingkan sementara tugas kuliah atau tenggat chapter thesis.

Untuk menunjukkan pada dunia keindahan budaya, kecemerlangan pikiran dan semangat untuk terus membangun negeri ini. Mereka tak berharap per diem senilai ratusan dollar, sertifikat atau pengumuman ucapan terimakasih satu halaman penuh di surat kabar.

Senyuman terima kasih yang tulus dan terbukanya lebih banyak mata, bahwa Indonesia bukanlah battlefield tempat bom meledak sembarang waktu. Melainkan sebuah negara kaya, ramah, yang terus semangat berbenah, sudah cukup mengobati lelah dan kerjakeras mereka.

Dan karena itu, saya merasa sungguh beruntung bisa terlibat di PPI Canterbury selama beberapa bulan terakhir ini. Semuanya membuat saya bangga dan selalu punya alasan untuk tetap optimis tentang Indonesia.

Tentang sebuah masa saat makin banyak orang cerdas Indonesia yang beruntung menempuh pendidikan di luar negeri, dengan kualitas keilmuan dan kepercayaan diri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Namun, tak goyah tetap berbakti bagi kemajuan Indonesia, baik dengan pulang ke ibu pertiwi ataupun tetap tinggal di luar negeri.

Dengan tetap istiqomah mempertahankan kemandirian, integritas dan etos kerja tinggi tak perlu iming-iming bancakan proyek milyaran. Terima kasih untuk seluruh teman PPI, yang terus membuat saya bangga menjadi orang Indonesia dan tetap memelihara mimpi itu untuk suatu saat menjadi kenyataan.

----------------------------------------------------


Tanpa mengurangi rasa bangga, hormat dan apresiasi saya kepada teman-teman lain, note ini saya persembahkan bagi anggota Creyke’s Angels, Pipiet Larasatie dan Bobbie Mannan. Dua perempuan pelajar hebat yang  selain asyik buat bergaya sejuta di balik lensa kamera, juga semangat kerja dan dedikasinya luar biasa. Yang tak banyak keluh atau protes ini itu saat harus berakrobat jadi driver, goreng-baking spring roll, disain poster sampai nempel-nempelin kelilling kampus atau bikin presentasi power point dalam semalam dan jadi MC. My warmest hugs and sincere gratitude for you, ladies!

 












Amalia Suwarno (Amalia Sustikarini)
PPI Canterbury
University of Canterbury
PhD • Political Science • Christchurch, New Zealand


Rubrik ini bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia

Redaktur : Miftahul Falah
Rasulullah SAW melarang membunuh hewan dengan mengurungnya dan membiarkannya mati karena lapar dan haus.((HR. Muslim))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar