Sabtu, 29 Muharram 1436 / 22 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Belajar di Negeri Ali Jinnah (1): Sepintas Pakistan

Senin, 25 Juni 2012, 09:39 WIB
Komentar : 2
scenicreflections.com
Masjid Shah Faisal di Islamabad
Masjid Shah Faisal di Islamabad

Negara berbentuk Republik Islam yang terletak di Asia Selatan ini beribukota di Islamabad. Ia memiliki empat provinsi: Balochistan dengan ibukota Quetta, Khyber Pakhtunkhuwa beribukota Peshawar, Punjab yang ibukotanya adalah Lahore dan Sindh dengan Karachi sebagai ibukotanya.

Setelah Indonesia dan India, Pakistan menduduki negara dengan populasi Muslim terbanyak. Di mana dengan jumlah penduduk lebih dari seratus tujuh puluh juta jiwa, 97% penduduknya merupakan muslim sementara sisanya adalah penganut agama Kristen dan Hindu. 

Nama "Pakistan" sendiri memiliki makna “Tanah yang  murni”, diambil dari olahan bahasa Urdu dan Persia. Nama ini awalnya diusung oleh Chaudry Rahmat Ali, seorang aktivis gerakan pembebasan Pakistan dari India pada tahun 1934.  

Negara yang merupakan bagian dari sejarah indus kuno ini, memiliki banyak peninggalan sejarah dari peradaban lembah indus. Tak kalah menariknya, gelombang sejarah budaya Islam juga melebur di dalamnya, berasal dari Persia, Arab, Turki, dan Mogul yang sempat berdiam berabad-abad di bagian sub-continent tersebut hingga begitu lekat mewarnai kehidupan masyarakat saat itu. Maka, tak heran jika acap kali kita menemukan kedua unsur budaya yang terkolaborasi di keseharian Pakistan.

Islamabad yang merupakan ibukota negara Pakistan, terletak di dataran tinggi Photohar bagian Utara. Secara sejarah, kota ini merupakan penghubung antara dua provinsi yakni Punjab dan Khyber Pakhtunkhuwa.

Islamabad dikelilingi oleh deretan bukit Margalla, yang merupakan kaki dari pegunungan himalaya. Sehingga menjadikan Islamabad sebagai kota yang Indah, asri, sejuk dan segar. Hingga sangat mendukung untuk menciptakan miliu belajar. Keberadaannya menggantikan Karachi sebagai Ibukota dimulai pada tahun 1966. 

Negara dengan motto Faith, Unity, and Discipline ini menjadikan bahasa Urdu dan Inggris sebagai bahasa resminya. Hal ini memudahkan orang asing untuk berbelanja hingga ke pasar tradisional sekalipun, karena mayoritas masyarakatnya mengerti Bahasa Inggris. Setidaknya, illiterate people pun mengerti jumlah dan bahasa tawar menawar dalam bahasa Inggris. 


Firman Arifandi 
PPMI Pakistan


Rubrik ini bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia

Redaktur : Miftahul Falah
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu(QS.Al-Baqarah:45)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Ritual Seks Gunung Kemukus, Ini Solusi MUI
JAKARTA --  Terungkapnya sebuah ritual seks kuno di Gunung Kemukus, Jawa Tengah, oleh seorang wartawan asal Australia, Patcrik Abboud membuat geger masyarakat Indonesia....