Sabtu, 19 Jumadil Akhir 1435 / 19 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Menjelajahi Cikini dan Sekitarnya

Jumat, 02 Maret 2012, 11:24 WIB
Komentar : 1
gambar.mitrasites.com
Gedung Joang 45
Gedung Joang 45

Sabtu 14 januari 2012, komunitas pecinta sejarah, seni dan budaya, Love Our Heritage, bersama Rotary Club Jakarta Batavia mengadakan kegiatan jalan-jalan wisata mengelilingi kawasan Cikini dan sekitarnya.

Cuaca pagi itu yang mendung dan agak gerimis tak sedikit pun menyurutkan semangat kami untuk bersenang-senang. Segala perlengkapan sudah kami persiapkan, payung, sunblock, dan lain-lain.

Tepat jam 9 pagi kami berkumpul di Gedung Joang 45 yang berlokasi di Jalan Menteng Raya 31, tidak jauh dari Tugu Tani. Kami berkumpul di halaman depan gedung, lalu absen. Setelah absen, kami mulai penjelajahan yang dipandu oleh Idfi Pancani & Ferry Guntoro. Kami mulai masuk ke dalam gedung setelah briefing perkenalan dari kedua pemandu tersebut.

Gedung yang dibangun pada sekitar tahun 1920-an yang saat ini dipergunakan sebagai Museum Joang 45 ini pada mulanya adalah hotel yang dikelola oleh keluarga L.C. Schomper, seorang berkebangsaan Belanda yang sudah lama tinggal di Batavia. Hotel ini diberi nama Schomper sesuai nama pemiliknya.

Hotel tersebut saat itu termasuk yang cukup baik dan terkenal di kawasan pinggiran Selatan Batavia, dengan bangunan utama yang berdiri megah di tengah dan diapit deretan bangunan kamar-kamar penginapan di sisi kiri dan kanannya untuk menginap para tamu.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia (1942-1945) dan menguasai Batavia, hotel tersebut diambil alih oleh para pemuda Indonesia dan beralih fungsi sebagai kantor yang dikelola Ganseikanbu Sendenbu (Jawatan Propaganda Jepang) yang dikepalai oleh seorang Jepang, Simizu. Di kantor inilah kemudian diadakan program pendidikan politik yang dimulai pada tahun 1942 untuk mendidik pemuda-pemuda Indonesia dan dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah Jepang.

Di museum ini dapat dilihat jejak perjuangan kemerdekaan RI dengan koleksi benda-benda peninggalan para pejuang Indonesia. Di antaranya adalah mobil dinas resmi Presiden dan Wakil Presiden RI Pertama yang dikenal dengan mobil REP 1 dan REP 2, dan Mobil Peristiwa Pemboman di Cikini.

Selain itu ada pula koleksi foto-foto dokumentasi dan lukisan yang menggambarkan perjuangan sekitar tahun 1945-1950-an. Beberapa tokoh perjuangan ditampilkan pula dalam bentuk patung-patung dada.

Pabrik roti Tan Ek Tjoan

Tujuan berikutnya adalah mengunjungi toko & pabrik roti legendaris “Tan Ek Tjoan”. Produsen Roti Tan Ek Tjoan didirikan pada 1921 oleh seorang pedagang berdarah China bernama Tan Ek Tjoan. Awalnya Tan Ek Tjoan didirikan di Bogor, tetapi kemudian menambah cabangnya di Jakarta pada 1953. Kalau dihitung-hitung, usia perusahaan roti itu kini sudah mencapai 87 tahun.

Toko roti bersuasana jadul ini hingga kini masih ramai dijejali pengunjung setiap harinya. Padahal, roti Tan Ek Tjoan tak hanya bisa dibeli dari tokonya langsung, tapi bisa juga diperoleh dari para pedagang roti Tan Ek Tjoan yang berkeliling menggunakan gerobak. Tetapi, kebanyakan para pengunjung setia Tan Ek Tjoan lebih memilih datang ke tokonya langsung.

Suasana jadul (jaman dulu) memang terasa betul saat berada di dalam toko. Mungkin itulah salah satu alasan kenapa para pelanggan menyukai datang ke sana. Desain bangunan yang didominasi tiang-tiang besar otomatis membawa nuansa jaman kompeni. Di bagian belakang toko, ada pabrik pembuatan roti Tan Ek Tjoan.  Untuk menjaga kenyamanan para pekerja, pabrik roti ini tidak bisadikunjungi untuk umum pada hari kerja.  Masyarakat umum bisa melihat suasana pabrik berdasarkan perjanjian hanya pada hari Sabtu saat para pekerja libur. Sejak pertama kali dibangun, toko roti Tan Ek Tjoan Cikini tak pernah berpindah tempat.

Daerah Cikini memang telah lama dikenal sebagai salah satu daerah kota tua peninggalan Belanda di Jakarta. Yang menarik, bangunan toko Tan Ek Tjoan belum pernah direnovasi hingga sekarang. Kecuali bagian lantai yang sudah diganti keramik.  Kini, pemilik toko roti Tan Ek Tjoan Cikini berpindah ke Betty Tamara yang merupakan istri dari Kim Tamara generasi kedua Tan Ek Tjoan. Namun ibu Betty kini  tinggal di Belanda.

Keunikan roti Tan Ek Tjoan terletak pada rasa yang enak dan penggunaan bahan pengawet yang sangat sedikit, karena itu roti produksi Tan Ek Tjan tak bisa bertahan lama, maksimal tiga hari.

Toko roti buatan Tan Ek Tjoan kini sudah memiliki banyak cabang, misalnya di Tangerang, Ciputat, Bekasi, Cinere, Rawamangun, dan Kebayoran Baru. Dari tempat-tempat itu, roti buatan Tan Ek Tjoan paling banyak dipasarkan para pedagang gerobak dorong ke kompleks-kompleks perumahan.

Tidak hanya berkesempatan untuk melihat-lihat toko & pabrik tapi kami juga mendapatkan pengalaman yang unik yaitu berkesempatan untuk membuat sendiri roti khas merk legendaris tersebut.

Planetarium Jakarta

Tujuan berikutnya yaitu Planetarium. Meskipun sebagian besar dari kami berdomisili di Jakarta, tapi hampir semua peserta wisata hanya pernah berkunjung sekali ke Planetarium, itu pun pada saat kami masih di bangku sekolah. Bahkan ada juga yang belum pernah sekali pun berkunjung ke sana. Jadi kunjungan ke Planetarium juga menjadi pengalaman tersendiri bagi kami.

Planetarium dan Observatorium Jakarta adalah satu dari tiga wahana simulasi langit di Indonesia selain di Kutai, Kalimantan Timur, dan Surabaya, Jawa Timur. Planetarium tertua ini letaknya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Planetarium Jakarta merupakan sarana wisata pendidikan yang dapat menyajikan pertunjukan/peragaan simulasi perbintangan atau benda-benda langit. Pengunjung diajak mengembara di jagat raya untuk memahami konsepsi tentang alam semesta melalui acara demi acara.

Planetarium Jakarta berdiri tahun 1964 diprakarsai Presiden Soekarno dan diserahkan ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 1969. Di tempat ini juga tersedia ruang pameran benda- benda angkasa yang menyuguhkan berbagai foto serta keterangan lengkap dari berbagai bentuk galaksi, teori-teori pembentukan galaksi disertai pengenalan tokoh-tokoh di balik munculnya teori.

Di ruang pameran ini, ada juga pajangan baju antariksa yang digunakan mengarungi angkasa, termasuk mendarat di bulan. Beberapa peralatan lain untuk pengamatan antariksa turut dipamerkan.

Selain pertunjukan Teater Bintang dan multimedia/citra ganda, Planetarium & Observatorium Jakarta juga menyediakan sarana prasarana observasi benda-benda langit melalui peneropongan secara langsung, untuk menyaksikan fenomena / kejadian-kejadian alam lainnya, seperti gerhana bulan, gerhana matahari, komet dan lain-lain.

Gado-gado Bonbin

Setelah mengunjungi beberapa tempat wisata, kami berlanjut ke wisata kuliner. Tempat kuliner pertama yang kami kunjungi adalah Gado-gado Bonbin.

Gado-gado Bonbin di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, terbilang istimewa. Tak mengherankan usaha kuliner ini mampu bertahan selama setengah abad. Mulai dari tetangga dekat, artis, sampai pejabat menjadi langganan restoran legendaris satu ini.

Nama restoran ini terkait dengan masa lalunya. Saat didirikan pada 1960, restoran di kawasan Cikini ini terletak di Jalan Kebon Binatang 3. Karena itu ia dinamakan Bonbin yang merupakan singkatan dari "Kebon Binatang." Suasana nostalgia kental sekali terasa begitu kaki memasuki restoran ini. Menunya tidak banyak, tapi tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung. Menu favorit tentu saja gado-gado.

Dibantu anak-anaknya, sang pemilik, Lanny Wijaya, yang sudah berusia 80 tahun, selalu turun langsung sejak pukul 05.00 WIB untuk memastikan kualitas dan kesegaran masakannya. Menurut Lanny, rahasia gado-gado lezat ini ada di bumbu yang selalu menggunakan kacang kualitas nomor satu. "Nggak digoreng pakai minyak, tapi disangrai, " kata Lanny.

Sepiring gado-gado tanpa lontong dijual dengan harga Rp 19 ribu. Jika disertai lontong, banderolnya Rp 21 ribu. Rata-rata dalam satu hari, 200 piring gado-gado laku terjual.

Satu lagi keistimewaan gado-gado Bonbin, yaitu lontongnya bisa tahan hingga tiga hari di luar kulkas karena dimasak selama enam jam. Menu lain seperti asinan dan lontong cap gomeh juga tak kalah lezat. Gado-gado bonbin buka setiap hari dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Pempek Megaria

Tempat kuliner setelah gado-gado Bonbin adalah Pempek Megaria. Kedai Pempek Megaria yang terletak di kawasan komplek Megaria, Jakarta Pusat ,ini sudah berdiri sejak tahun 1989 dan merupakan tempatnya makanan pempek Palembang yang paling terkenal di kawasan Cikini.

Warga Jakarta maupun yang sering wira-wiri ke Ibukota RI ini tentu mengenal Megaria, yang cukup beken sebagai tempat nongkrong anak muda. Apalagi di sini ada bioskop legendaris. Sehingga kawasan yang berlokasi di Jalan Diponegoro, Senen, ini dikenal juga sebagai Kompleks Bioskop Metropole.

Tak harus menonton film kalau berkunjung ke kawasan ini. Karena, di Megaria ada lumayan banyak kedai makan yang oke dan laris manis. Salah satunya: Pempek Palembang Megaria.

Sebagai tempat kongko bersama handai tolan, tempat ini cukup familier. Ancar-ancar yang gampang adalah Stasiun Kereta Cikini. Kebetulan jalurnya satu arah, sekitar 200 meter dari situ Anda akan menemukan Kompleks Bioskop Metropole. Nah, Pempek Megaria salah satu kios di kompleks itu.

Kedai ini memang bukan satu-satunya yang terkenal di kawasan Megaria. Tapi memang dia satu-satunya yang menjajakan makanan asal Palembang itu. Kondisi kiosnya sendiri tidak luas, bahkan cenderung sempit. Hanya berkapasitas 24 orang. Kebetulan baru dua minggu yang lalu kedai ini diperluas dengan menambah tempat duduk, sehingga berkapasitas 34 orang.

Lantaran lokasinya satu kompleks dengan bioskop, banyak yang di masa mahasiswa dulu makan di sini, setelah menikah dan punya anak, masih berkunjung ke sini. Nonton film lalu kongko atau sekedar bernostalgia.

Perjalanan wisata kami kali ini merupakan kerjasama yang pertama kali bagi kedua komunitas ini, yaitu Love Our Heritage & Rotary Club Jakarta Batavia. Kami berencana untuk mengadakan kerjasama lagi untuk perjalanan wisata selanjutnya. Semoga wisata selanjutnya bisa lebih menyenangkan lagi.



Ira Latief
Anggota Love Our Heritage






Rubrik ini bekerja sama dengan Komunitas Love Our Heritage.
www.loveourheritage.org

@loveourheritage




Allah melaknat orang yang menyiksa hewan dan memperlakukannya dengan sadis((HR. Bukhari))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar