Kamis, 29 Zulhijjah 1435 / 23 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Pendakian Rintisan Fuyul Sojol Sulteng (2): Titik Awal Pendakian

Jumat, 16 Maret 2012, 16:51 WIB
Komentar : 0
Foto-foto: Haris M, Irwanto, Galih, Yudi
Di tengah hutan talas. Memasuki medan seperti ini seakan berada di kawasan para raksasa. Daun-daun talas mempunyai lebar daun yang jarang ditemui di pulau Jawa.
Di tengah hutan talas. Memasuki medan seperti ini seakan berada di kawasan para raksasa. Daun-daun talas mempunyai lebar daun yang jarang ditemui di pulau Jawa.

Hari masih terlalu pagi bagi penduduk Bonde untuk memulai rutinitasnya saat kami berkemas mempersiapkan peralatan. Suara berisik yang ditimbulkan membangunkan pemilik rumah yang akhirnya ikut sibuk hilir-mudik melihat persiapan kami.

Menjelang pukul delapan Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), setelah makan pagi, kami menumpang truk pengangkut pasir sampai tepian sungai. Kemudian kami lanjutkan dengan jalan kaki, termasuk menyeberang Bangkalang Silambo, menuju rumah yang telah ditandai kemarin.

Baru saja kami tiba di rumah panggung yang dimaksud, langit tiba-tiba gelap dan petir menggelegar di atas gunung dan bukit di atas. Rintik hujan turun, semakin lama semakin deras. Selang beberapa menit setelah hampir 2 jam hujan mengguyur, warna air sungai berubah coklat dan semakin pekat serta permukaannya meninggi. Gelegak arus sungai terdengar keras dan alirannya semakin deras. Beberapa orang petani coklat dan pembalak hutan yang bersiap pulang tertegun dan mengurungkan niatnya menyeberang sungai.

Setelah menunggu lama, air tak juga surut. Mereka kembali ke pondok sementara mereka. Saat kabut terbuka, puncakan-puncakan terlihat jauh di sana, puncakan yang akan kami jelang selama belasan hari ke depan.

Titik awal

Pagi datang bersama kesibukan persiapan yang dilakukan, di bawah tatapan keingintahuan penduduk di titik awal. Ransel disetel agar sesuai dengan punggung. Perbekalan pun diatur seefektif mungkin agar paket sejumlah 60 bungkus untuk 20 hari, seberat lebih dari 250 kg, dapat diangkut ke depan, aman dan tak cepat rusak. Suhu udara begitu cepat naik, peluh bercucuran saat langkah maju menerobos kebun coklat.

“Tunggu saja disini, sementara kita cek dulu punggungan di depan,” kata saya yang bertugas menjadi pembuka jalur bersama Ayonk dan Agus, wakil dari PA Palu, ketika sampai di sebuah gubuk petani coklat menjelang satu punggungan. Memang pada bagian bawah, kaki Sojol memiliki tingkat kesulitan yang tersendiri dengan banyaknya punggungan kecil yang memiliki alur sendiri-sendiri. Seperti saat kemarin ketika mengecek titik awal dan mencoba naik salah satu punggungan, ternyata alurnya banyak menabrak dinding punggungan besar sehingga membentuk tebing dan jurang.

Takut kejadian kemarin terulang, mengingat beban yang begitu banyak yang harus diangkut regu pengangkut logistik, saya berinisiatif agar mereka menunggu. Selang 1 jam kemudian saya kembali. “Ok, punggungannya sudah benar, langsung aja naik ikuti tanda bacokan tiga sampai pondok di atas!” kata saya. Ransel-ransel penuh beban di bawah terik suhu udara membuat sekujur badan basah oleh keringat. Nafas-nafas terdengar berat, menapak satu demi satu pijakan menanjak.

Suara anjing ramai terdengar saat kami sampai di sebuah pondok pada sebuah punggungan yang tak terlalu lebar. Biji coklat yang disebar di tanah untuk dikeringkan menutupi bidang tanah yang harus dilewati. Sambil uluk salam pada penghuni pondok kami meminta ijin untuk lewat.

Setiba di pondok itu, RPL atau regu pengangkut logistik harus kembali ke gubuk di bawah untuk kembali mengangkut sisa logistik yang tak bisa dibawa dalam sekali jalan. Sedangkan saya, Ayonk dan Agus terus maju ke depan membuka jalur sampai titik akhir yang direncanakan di hari pertama ini.
Medan yang lebih berat

Lintasan yang dilalui ternyata lebih berat dari lintasan sebelumnya. Kemiringan jalur bahkan mencapai 70 sampai 80 derajat. Selain kaki, tangan kami pun harus membantu berpegangan pada akar dan daun di sekitar lintasan yang dibuat.

Mengingat RPL membawa beban yang berat, kami sebagai RPJ (regu pembuka jalur) selain menentukan dan membuka lintasan juga membuat pijakan dengan melobangi tanah. Untung saja lintasan dengan kemiringan curam ini hanya beberapa puluh meter saja sehingga kami tak terlalu lama menghabiskan waktu di satu lintasan itu saja.

“Ok, di sini saja kita bermalam! Sepertinya tim di belakang tak akan bisa jauh dengan jalur seperti ini. Kita pasang flysheet dulu, nanti kita buka jalur ke depan dan kembali lagi ke sini!” putus saya.

Belum sempat memasang flysheet sebagai tanda berhenti untuk regu di belakang, hujan turun semakin lama makin deras. Pohon pandan dan rotan yang rimbun di dekat lokasi tersebut kami gunakan untuk berlindung dari hujan, dan ternyata efektif, tak mampu ditembus air hujan.

Selang 30 menit kemudian hujan berhenti, flysheet kami pasang bersamaan dengan datangnya RPL yang basah kuyup. “Di sini kita bermalam,” kata saya pada 5 rekan yang menjadi RPL. Setelah ransel dikosongkan oleh RPL, sekitar pukul 14.00 WIT mereka segera turun kembali ke pondok di atas punggungan untuk mengangkut sisa perbekalan dan perlengkapan. Sementara saya bertiga melanjutkan ke depan membuka jalur tanpa membawa ransel.

Menembus vegetasi

Berbeda dengan vegetasi sebelumnya yang relatif mudah dilalui, lintasan ke depan ternyata lebih sulit dilalui. Bukan kemiringan medan yang menjadi kendala, tapi vegetasi semak belukar dengan rotan dan pandan yang rapat sangat sulit untuk ditembus. Tak terbilang luka-luka di tangan akibat duri dan sulur rotan serta pandan, seakan menguji ketabahan tekad kami untuk meneruskan niat mencapai puncaknya.

Dua  jam menebas hanya sekitar 300 meter jarak yang bisa kami tembus, itu pun hanya sebatas ruang yang hanya pas seukuran tubuh kami yang tak membawa ransel. “Tak apalah, besok kita perbesar jalurnya, biar bisa dilalui RPL,” pikir kami.

Setengah jam kemudian ketika kembali ke lokasi dimana flysheet didirikan, ternyata RPL belum seluruhnya berkumpul. “Masih ada satu bullsack yang belum terangkut. Kolotok sedang mengambilnya,” lapor ‘Mas Item’, pendaki tertua di pendakian ini.

Menjelang maghrib, Yayat yang dipanggil Kolotok itu dengan tubuh basah kuyup bergabung kembali. Malam itu, kantuk begitu cepat datang membuai tidur kami yang sangat lelap. Hhh, sungguh hari yang melelahkan...



Haris Mulyadi (Wanadri)
W-644 Bayu Rawa
Tim Sojol: Irwanto, Haris, Kolotok, Yudi Barkah, Galih, Djarot, Ayonk, dan Agus










Rubrik ini bekerja sama dengan komunitas relawan AlamSemesta.
AlamSemesta Institute didukung oleh Mer-C dan Wanadri.


Menguap adalah dari setan. Karena itu, apabila salah seorang dari kalian menguap, tutuplah serapat mungkin karena ketika salah seorang dari kalian berkata ‘huah’ (pada saat menguap), setan akan menertawakannya". (HR Bukhari)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Zulkifli Hasan: Halal Itu Budaya Indonesia
JAKARTA -- Predikat negara dengan penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, membuat produk halal menjadi sesuatu yang penting di Indonesia. Bahkan Ketua MPR...