Kamis 5 Januari 2012, hari ini kami hanya beristirahat saja di High Camp. Ada tiga tim yang mencoba mencapai puncak hari ini, namun satu di antaranya mundur di tengah perjalanan karena angin kencang dan kabut yang tebal.
Dua tim lainnya mulai lebih awal dan lebih beruntung. Mereka berhasil mencapai puncak dan kembali ke High Camp dengan selamat. Kami semua pendaki mengucapkan selamat pada mereka. Semoga besok alam bersahabat dengan kami. Sudah tak sabar rasanya ingin mengibarkan Merah Putih di puncak.
Jumat 6 Januari 2012, Garret membangunkan kami pukul 09.00. Aku kurang tidur malam tadi, mungkin karena terlalu bersemangat. Kami langsung sarapan pancake, roti bakar dan telur. Aku membuat secangkir kopi kental dan menyeruputnya panas-panas, menghilangkan kantuk yang tadi masih singgah. Setelah selesai kami bergegas menyiapkan diri masing-masing untuk mendaki ke puncak.
Aku memilih untuk tak mengenakan atau membawa down suit. Aku memilih mengenakan base layer, soft shell, hard shell, dan down jacket. Di tangan, aku mengenakan liner dan mitten. Di kaki tentu saja kaos kaki tipis dan tebal, sepatu super boots dan crampon. Wajah selalu kututupi dengan lapisan tipis kain elastis dan kacamata. Sedang di dalam tas aku membawa sarung tangan tebal berbahan goretex sebagai cadangan, masker muka, kupluk tebal, google, ice axe, 2 liter air, snack siang, botol air kencing dan kamera. Aku memimpin teman-temanku berdoa agar kami diberi kemudahan, ketabahan, kesabaran serta keselamatan untuk dapat mengakhiri apa yang sudah kami mulai.
Kami meninggalkan camp pukul 10.30, tim lain sudah mendaki satu atau dua jam yang lalu. Medan lintasan satu jam pertama cukup menantang, kami sampai ke ketinggian 4.114 meter dan beristirahat.
Di jam berikutnya medan lintasan cenderung landai. Istirahat lagi dilakukan di ketinggian 4.300 meter. Sudah hampir tiga setengah kilometer berjalan dari High Camp, artinya sudah hampir setengah perjalanan terlampaui. Di tempat istirahat yang kedua ini terdapat pee hole (tempat membuang air kencing). Kami dapat mengosongkan isi botol atau langsung kencing di sini.
Kami berjalan cukup cepat sehingga bisa menyusul tiga tim yang memulai jauh lebih pagi, namun ini bukan kompetisi. Kami menyalip tim yang lain sambil menyapa dan saling memberi semangat.
Pendakian kembali dilanjutkan. Lintasan semakin terjal, kami menambah ketinggian dengan perlahan namun pasti. Suara monoton gemeretak es yang terkoyak oleh cakar es di bawah sepatu menemani sepanjang perjalanan yang mulai terasa berat ini. Kami kembali beristirahat di ketinggian 4.500 meter.
Kami melanjutkan mendaki dan setengah jam kemudian tiba di punggungan yang akan mengarah ke puncak. Di lokasi ini tampak ransel-ransel tergeletak di atas es diamankan dengan picket. Kami istirahat terakhir di sini. Ransel-ransel kami juga ditinggalkan di sini. Beberapa snack dimasukkan dalam kantong pakaian. Sedang botol air yang tak lagi penuh digantungkan pada harness dengan menggunakan carabiner.
Kami mulai berjalan menghadapi medan yang semakin terjal melelahkan. Walau tak merasa pusing, namun tubuh yang lemas adalah salah satu gejala mountain sickness. Sesekali kami kehilangan irama satu dengan yang lain sehingga tali di antara kami mengencang.
Aku yang berada di bagian paling depan paling tersiksa bila saat menanjak seperti ini tertarik ke belakang. Kadang bila emosi aku memaksa menyeret-nyeret teman di belakangku dengan tidak sabar, namun hal itu makin menguras tenaga.
Bentuk puncakan tergambar di depan dengan tanjakan yang semakin curam dan berbatu. Aku menempatkan crampon dengan hati-hati pada batu-batu tersebut, tak berani gegabah. Kami tiba di puncakan tersebut yang ternyata puncakan semu.
Puncak Vinson
Puncak Vinson tak lagi jauh, sudah di depan mata. Kami berjalan di punggungan yang tipis berbahaya dengan es dan batu sebagai pijakan. Handycam sudah di-roll untuk merekam menit-menit akhir ini. Tim Garret, Andrea, Huda dan Martin sudah tiba di puncak. Aku mengayunkan langkah-langkah terakhir kemudian jatuh bersimpuh lalu bersujud dalam syukur pada Ilahi. Hanya atas izin-Nya kami semua yang kecil ini bisa berdiri di puncak tertinggi di ujung selatan bumi ini. Aku mencatat jam tangan menunjukkan angka 16.21.
Rasa haru dan bahagia tak bisa kugambarkan. Dengan terbata-bata aku berbicara di telepon satelit mengabarkan hal bahagia ini pada kang Galih di Punta Arenas. Aku mendengar suaranya menjadi serak karena terharu dengan keberhasilan kami bersama. Kami berdiri di sini bukan karena usaha sendiri, namun bantuan dari semua tim yang berada di Tanah Air, doa orang tua dan saudara-saudara kami, dan kemurahan hati pihak sponsor yang mau peduli dengan cita-cita kami.
Semua bendera tak kurang sepuluh jumlahnya kami dokumentasikan satu persatu. Suhu udara -31° Celcius tanpa angin. Kami menikmati detik-detik terakhir di puncak, lalu beranjak turun.
Kami bergerak turun dengan cepat. Mencapai titik penyimpanan ransel, lalu kembali bergerak. Hanya dua kali beristirahat dan akhirnya sekitar pukul tujuh malam sudah tiba kembali di High Camp. Aku melewatkan makan malam ini karena sudah sangat mengantuk.
Kembali ke Base Camp
Sabtu 7 Januari 2012, sarapan pagi ini adalah pancake dan ayam. Setelah berhasil mencapai puncak, suasana menjadi lebih santai karena tak ada lagi beban. Setelah sarapan kami mulai berbenah bersiap turun langsung menuju Base Camp. Tenda-tenda kami bongkar lalu ditimbun kembali di bawah salju.
Ransel yang penuh dengan semua barang, termasuk sampah dan kotoran, dengan berat sekitar 25 kilogram sudah menempel di punggung. Sekitar pukul dua belas siang kami berdoa lalu bergerak turun. Kami berjalan cepat namun tetap berhati-hati. Bagian terberat adalah saat harus menuruni tali dengan beban yang cukup berat di pundak. Belum lagi ditambah kabut tebal yang menghalangi pandangan.
Akhirnya kami selamat tiba di Low Camp. Setelah istirahat sejenak, kami menggali timbunan beberapa hari yang lalu dan mengeluarkannya. Ransel yang penuh barang dibongkar lalu sebagian besar isinya dimasukkan dalam duffle bag dan diikatkan pada sled, seperti saat perjalanan dari Base Camp menuju Low Camp ini.
Kami melanjutkan perjalanan turun ke Base Camp sambil menarik sled. Perjalanan selanjutnya lebih mudah karena bantuan sled dan medan yang landai. Pukul 16.30 kami tiba kembali di Base Camp disambut ucapan selamat semua orang di sana.
Bahagia sekali rasanya tiba kembali di Base Camp tanpa ada anggota tim yang bermasalah. Titik ini bisa dikatakan sebagai titik aman. Kami mendirikan tenda-tenda tidur dan dapur. Aku kembali mendapatkan tendaku sendiri, senang rasanya.
Usai berbenah di dalam tenda masing-masing, kami pun keluar menuju tenda dapur membantu Garret menyiapkan makan malam. Kami makan besar malam ini; mie, burger kalkun, rendang, dendeng dan gepuk mengisi kembali tenaga kami. Ditutup dengan buah peach kalengan. Segar rasanya.
Tertahan di Base Camp
Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, waktu penjemputan pesawat ke Base Camp sangat bergantung pada cuaca. Kami menghabiskan tiga malam di Base Camp karena cuaca yang buruk. Setiap hari kami hanya bisa berharap cuaca berubah lebih baik.
Selama menunggu di Base Camp, kami punya kegiatan asyik untuk mengisi waktu. Vern mengajarkan kami balapan sled menuruni bukit tak jauh dari lokasi camp. Tim ku dan timnya saling bertanding. Tentu saja sebagai orang paling berpengalaman dia yang selalu menang, namun kami semua senang.
Ardeshir Yaftebbi (Wanadri)
W 859 Hujan Rimba
Rubrik ini bekerja sama dengan komunitas relawan AlamSemesta.
AlamSemesta Institute didukung oleh Mer-C dan Wanadri.