Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Indonesia 7 Summits Expedition (6): Pendakian ke High Camp

Kamis, 01 Maret 2012, 15:45 WIB
Komentar : 0
Foto-foto: Martin Rimbawan/Wanadri
Suasana High Camp (4892 m). Tampak tumpukan es yang merupakan WC.

Senin, 2 Januari 2012, saat itu masih cukup pagi untuk ukuran antartika, baru pukul 9.30. Suhu udara di luar dingin menggigit membuat malas untuk keluar tenda. Namun kami harus bergegas, karena hari ini akan melanjutkan pendakian.

Aku membuka pintu tenda dan sejenak mengagumi indahnya bentang alam di hadapan. Langit biru gelap kontras dengan bentangan permadani putih yang berkilauan tertimpa sinar matahari yang tak dihalangi awan. Jajaran pegunungan batu yang sebagian permukaannya tertutup salju tampak garang merangsang jiwa-jiwa yang penasaran akan petualangan. Hatiku terasa berombak tak karuan, sadar akan kebesaran Tuhan.

Garret memanggil kami semua dari dalam tenda dapur tempatnya tidur. Aku menutup reslueting pintu tenda lalu beranjak ke dapur. Teman-teman yang lain juga satu per satu keluar. Di dapur Garret sudah menyiapkan hairs brown (kentang iris tipis yang digoreng), roti bakar dan telur orak-arik. Sambil menikmati sarapan, kami berbincang-bincang. “Are you guys sleep well?” tanya Garret. “Yes!” jawab kami serempak.

Pertanyaan yang sederhana ini penting untuk mengetahui bahwa kondisi para pendaki sehat dan bugar. Karena bila anda terserang AMS (Accute Mountain Sickness), maka salah satu gejalanya adalah sulit tidur karena pusing atau batuk-batuk. Pusing biasa disebabkan oleh adanya cairan di dalam otak akibat ketinggian dan kadar oksigen yang menipis. Kondisi terparahnya adalah celebral edema (radang otak). Sedang batuk-batuk bisa disebabkan oleh adanya cairan dalam paru-paru akibat udara dingin yang menyebabkan radang tenggorokan yang merambat ke paru-paru, sering disebut pulmonari edema (radang paru).

Keduanya, baik celebral edema maupun pulmonari edema, sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan kematian dalam 24 jam bila tidak segera dievakuasi ke tempat yang lebih rendah dan ditangani di rumah sakit.

Selesai sarapan kami kembali ke tenda menyiapkan barang-barang yang akan dibawa dan mengemasnya dalam ransel. Tendaku harus dibongkar dan dibawa ke High Camp (3.700 m) karena menurut Garret salah satu tenda yang ditimbunnya di sana kondisinya sudah tak lagi baik untuk menahan angin.

Kami lalu mengenakan seluruh perlengkapan termasuk crampon (cakar es yang dipasangkan di sepatu agar dapat menancap di es), lalu bersiap di tali masing-masing. Sled tidak lagi digunakan karena medan di depan jauh lebih terjal.

Setelah semua siap dan terhubung oleh tali, kami berdoa bersama lalu mulai berjalan. Kali ini ada perubahan susunan di taliku untuk kebutuhan dokumentasi; Fajri berada paling depan diikuti Iwan dan aku.

Awal tali pemanjatan

Empat puluh menit kemudian kami tiba di awal tali pemanjatan. Medan sebelumnya cukup landai namun di depan sangat terjal walau tak vertikal. Kemiringan mencapai 70° di beberapa lokasi dan di sebagian yang lain berkisar antara 45°-60°. Untuk itulah tali sepanjang 1.200 meter membentang di hadapan kami.

Kami melepas tali yang saling menghubungkan kami agar dapat bebas memanjat dengan ritme masing-masing. Lalu satu persatu mengaitkan diri pada tali panjat dengan menggunakan cowstail seperti yang diajarkan kemarin, dan mulai memanjat.

Tim Vern berada tak jauh di atas kami, dan diatasnya ada lagi beberapa tim lain yang juga akan menuju High Camp. Sesekali terjadi kemacetan karena tim yang di atas bergerak lebih lambat. Kami semua bersabar dan menikmatinya. Bila kemacetan terjadi agak lama, kami cukup membebani ascender dan duduk bergantung pada tali.

Tiap satu jam kami berhenti, melepas ransel dan menggantungkannya di tali pemanjatan, menyantap pocket lunch untuk menambah energi, minum air secukupnya, mengoleskan sunscreen dan lip balm, lalu kembali bergerak.

Suhu udara yang cukup panas, berkisar di angka 15° celcius dan angin yang sesekali bertiup sepoi-sepoi, memaksa kami membuka lapisan pakaian ketiga dan mengenakan dua lapisan saja, cukup base layer dan soft shell.

Akhirnya setelah berkutat di tali selama empat setengah jam, kami tiba di ujung tali pemanjatan. Kami melepaskan cowstail lalu menuju tempat yang lebih aman untuk istirahat. Tali dinamis untuk saling menghubungkan kami kembali digerai dan dipasangkan pada harness masing-masing. Kami kembali berjalan di medan yang tak terlalu terjal.

Menimbun barang di High Camp

Pukul delapan malam kami tiba di High Camp yang tersembunyi di balik gundukan sehingga tak terlihat dari arah kami datang. Saat melewati gundukan tersebut dan tiba-tiba saja sampai di sana adalah kejutan yang menyenangkan.

Istirahat sejenak melepas dahaga, tali, dan crampon, kami mulai mengeluarkan barang-barang dari ransel, membungkusnya dalam plastik lalu menimbunnya dalam galian salju. Setelah galian ditutup kembali dan diberi tanda, kami kembali memasang crampon dan tali lalu bergegas turun mendahului tim lain agar tak terhalang di tali. Perjalanan turun lebih cepat karena tanpa berhenti dan tanpa terhalang tim lain. Dalam satu jam kami sudah kembali berada di Low Camp.

Kami santap malam dengan mie dan steik kambing, lalu beristirahat. Karena tendaku sudah ditimbun di High Camp, malam ini aku tidur bertiga dengan Huda dan Iwan. Walau sempit, namun lebih hangat.

Cucaca buruk di Low Camp

Selasa 3 Januari 2012, usai tidur pulas semalam, kami siap untuk kembali mendaki hari ini berpindah ke High Camp. Garret memanggil kami dari dapur mengajak sarapan. Huda membuka pintu tenda dan terlihat kabut tebal di luar tenda. Kami bertiga keluar dari tenda, Fajri dan Martin juga keluar dari tendanya. Pemandangan indah kemarin tak tampak pagi ini karena terhalang kabut. Di atas kami awan tebal menggantung rendah.

Sarapan pagi ini telur orak-arik, steik kambing dan rendang. Sambil makan kami membahas kemungkinan pendakian hari ini. Cuaca di luar tak tampak baik, namun kami akan menunggu info cuaca dari radio. Info cuaca ini akan disampaikan pada jam 13.00 dari Camp ALE di Union Glacier.

Beberapa lama menunggu, kami mendapat kabar bahwa cuaca akan bertambah buruk. Angin dikabarkan berhembus 50 kilometer/jam di sekitar High Camp dan ada kemungkinan bertambah buruk. Dengan info seperti ini tentu saja kami memilih untuk membatalkan rencana pendakian hari ini dan tinggal di Low Camp.

Dengan kabut yang tebal, suhu udara di Low Camp mencapai - 20° celcius. Kami menghabiskan lebih banyak waktu hari ini di tenda dapur. Makan siang menunya tortilla diisi keju. Sedang makan malam, nasi dan salmon goreng.

Bergerak ke High Camp

Rabu 4 Januari 2011, pukul sebelas siang kami baru mulai sarapan. Jadi bisa juga disebut jam sebelas pagi barangkali? Hehe... Waktu di sini memang membingungkan. Kami baru mulai aktifitas jam segini karena matahari baru muncul dari balik gunung di sebelah timur camp.

Suhu yang tadi beku sekarang jauh lebih hangat dan nyaman untuk beraktifitas. Menunya pancake dan telur, dan kami dapat menambah jumlah pancake sampai kenyang. Tapi biasanya kami berhenti di angka tiga karena sudah cukup mengenyangkan.

Menjelang pukul satu siang kami sudah siap bergerak meninggalkan lokasi camp. Tenda-tenda sudah dibongkar dan ditimbun. Barang-barang pribadi yang tak terpakai dimasukkan dalam duffle bag ikut pula ditimbun.

Setelah saling terhubung dengan tali, kami mulai bergerak. Kali ini kami kedatangan seorang tamu perempuan cantik asal Guatemala yang akan segera menjadi seven summiters wanita pertama dari Amerika Tengah. Harusnya dia adalah timnya Vern dan sudah bergabung sejak dua hari lalu menyusul di Low Camp. Dia telat bergabung di ekspedisi ini karena tertahan di kutub selatan oleh cuaca buruk.

Namanya Andrea Cardona. Saat dua hari lalu kami melakukan cache ke High Camp, dia merasa anggota timnya yang lain, terutama Mark, berjalan sangat lambat, dan melihat tim kami bergerak lebih cepat tanpa masalah. Perempuan yang juga seorang atlit dan guide ini melamar untuk bisa berjalan bersama dengan kami.

Aku dan teman-teman serta Garret mempersilahkannya untuk mencoba hari ini dan bila memang tidak mengganggu dapat terus berjalan bersama kami. Dia berjalan di belakang Garret, diikuti Huda dan Martin dalam satu tali. Sedang timku masih dalam formasi yang sama; aku, Fajri dan Iwan.

Perjalanan menuju High Camp berlangsung lancar tanpa halangan berarti. Cuaca cerah tak berangin dengan suhu rata-rata 8° celcius menguntungkan kami. Kami berjalan sekitar enam jam dan tiba di High Camp pukul tujuh malam.

Kami segera mendirikan tenda dengan berpasangan. Ini untuk memastikan sebelum terpasak kuat, tenda selalu ada yang menahan agar tak terbawa angin. Kami berada di lokasi yang lebih tinggi dan tebuka.

Makan malam kali ini adalah mie instan ditambah ikan salmon 3-4 potongan besar/orang. Kami menambahkan merica dan garam, maka rasa bertambah lezat. Hmmmm.... Mantap!

Kami baru bersiap tidur menjelang tengah malam. Suhu di luar tercatat -15° Celcius, tak terlalu untuk ketinggian segini. Aku masih tidur bersama Huda dan Iwan agar tak terlalu dingin. Kami berdesakan dalam tenda, masuk ke sleeping bag (kantung tidur yang sanggup menahan suhu sampai -40° celcius), berbincang sejenak dan terlelap.



Ardeshir Yaftebbi (Wanadri)
W 859 Hujan Rimba











Rubrik ini bekerja sama dengan komunitas relawan AlamSemesta.
AlamSemesta Institute didukung oleh Mer-C dan Wanadri.

Redaktur : Johar Arif
1.441 reads
Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS.Al-Baqarah [2]:110)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...