Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Indonesia 7 Summits Expedition (3): Flight to Antarctica

Senin, 27 Februari 2012, 12:27 WIB
Komentar : 0
themagazine.ca
Vinson Massif

Kamis 29 Desember 2011, satu jam sebelum matahari tebit kami sudah bangun dan mengantri kamar mandi. Syukurnya, kamar mandi dilengkapi dengan air panas. Kalau tidak, pasti tersiksa rasanya.

Kang Galih dengan baik hati membuatkan kami mie instan untuk mengganjal perut. Belum ada restoran yang buka sepagi ini. Matahari sudah mulai keluar malu-malu. Langit biru tak berawan. Kami berharap banyak agar dapat terbang ke antartika pagi ini. Kami keluar dari pintu hostel, berdoa bersama, lalu beranjak menuju Dream Hotel.

Kami berkumpul di lobby Dream Hotel dengan Jeff dan keempat kliennya yang lain. Berbincang-bincang sambil harap-harap cemas menunggu kabar dari ALE (Antartic Logistics and Expedition). Pukul 7.10, telepon di resepsionis berbunyi. Petugas memanggil Jeff, ada telepon untuknya.

Jeff berbicara sebentar di telepon, raut wajahnya tampak senang. Usai menutup telepon dia menuju ke arah kami sambil tersenyum lebar. “You will be picked up at 7.55 and flying today!” serunya. Kami semua ikut tersenyum senang. Pengeras suara di hotel menyuarakan lagu tema dari film “the Last Mohican”, semangat kami terbakar.

Kami dijemput tepat waktu oleh bis dan staff ALE. Jeff tidak ikut ke bandara, dia melambaikan tangan, tugasnya selesai di sini. Bis berputar-putar ke beberapa hotel lainnya menjemput semua orang yang akan terbang bersama kami hari ini, lalu mulai keluar dari pusat kota menuju bandara.

Tiba di bandara, kami harus terlebih dahulu melewati security check, lalu masuk ke ruang tunggu. Berbagai pendaki dari seluruh dunia bergabung bersama kami menunggu penerbangan. Ada yang berasal dari Filipina, Rusia, Amerika, Brasil, Jepang, Mesir dan dari beberapa negara lain.

Beberapa waktu kemudian kami sudah naik ke pesawat, kang Galih melambaikan tangan melepas keberangkatan kami. Beberapa waktu kemudian, pesawat ini terbang dengan suara bising menuju Antartika. Semua penumpang diberikan penyumbat telinga untuk mengatasi suara mesin.

Pesawat yang digunakan ALE untuk membawa penumpang ke Antartika berjenis Ilyusin 76. Pesawat buatan Rusia yang dirancang khusus untuk mendarat di landasan tak beraspal termasuk es, dan handal terbang dalam cuaca buruk. Pesawat berbobot 72 ton yang dilengkapi empat buah mesin jet ini sanggup mengangkut beban sampai 50 ton, sehingga sering diperuntukkan sebagai pesawat kargo.

Mendarat di es

Lewat empat jam terbang, kami akhirnya mendarat. Satu persatu kami turun menginjakkan kaki di es yang keras berwarna biru. Angin dingin langsung menyambut kami. Suhu di sini -10 ° Celcius, mengharuskan kami merapatkan resleting jaket.

Es yang dijadikan landasan ini sangat licin, sehingga beberapa dari kami terpeleset dan terjatuh karenanya.  Mengagumkan bagaimana pesawat sebesar Ilyusin 76 mampu mendarat di atasnya tanpa tergelincir.

Kami berjalan dengan hati-hati menjauh dari landasan menuju kabin kecil di sisi bandara yang berfungsi sebagai ruang tunggu. Mobil khusus salju dengan gebong panjang yang terkait di belakangnya stand by di depannya. Kami diminta naik pada bagian gerbongnya beramai-ramai, lalu dibawa sejauh 9 km menuju kamp induk ALE di Union Glacier.

Kamp Union Glacier sangat mengesankan, dengan puluhan tenda kecil dan tenda-tenda besar. Beberapa kabin yang difungsikan sebagai toilet tampak berjajar. Kendaraan salju aneka jenis hilir mudik. Kami diarahkan ke guide tent (tenda pemandu) yang cukup besar.

Kami disambut oleh Vern Tejas, salah seorang pemandu dari AAI (Alpine Ascents International), yang merupakan pemandu bagi tim Frank, Mark, Mac dan Will. Lalu dipersilahkan masuk ke dalam tenda di mana semua orang yang baru tiba bersama dengan kami dijamu makan malam dan aneka minuman. Tenda ini dilengkapi dengan penghangat ruang sehingga kami dapat melepas jaket tebal dan bergerak lebih leluasa.

Kami berbincang-bincang dengan antusias bersama Vern. Sosok lelaki berusia 58 tahun ini melegenda di kalangan para pemandu. Dia sudah mendaki sebanyak 50 kali di Denali dan 30 kali di Vinson Massif. Bahkan dia adalah pendaki solo pertama yang mendaki Denali saat winter dan turun dengan selamat. Kami yang sudah pernah mencicipi Denali beberapa bulan lalu tersenyum nyeri mendengarnya. Winter di Denali mencapai -100° Celcius.

Base camp Vinson

Baru pukul 21.30 kami terbang dari Union Glacier. Kali ini menggunakan pesawat jenis DC-3. Dua puluh menit terbang, kami diturunkan di Boys Ridge, suatu kawasan yang terletak 4 jam jalan kaki dari Base Camp Vinson.

Seharusnya kami hanya menunggu 20 menit di sini untuk dijemput oleh pesawat yang lebih kecil berjenis Twin Otter dan diangkut ke basecamp Vinson. Namun, karena pesawat yang dimaksud mengalami kerusakan mesin, kami luntang-lantung hampir selama tiga jam sebelum akhirnya dijemput. Untung saja cuaca cukup cerah.

Penerbangan dari Boys Ridge menuju Base Camp Vinson berlangsung selama 10 menit. Kami mendarat mulus di landasan pendek yang hanya bisa digunakan oleh pesawat jenis Twin Otter. Kami mendarat pukul 23.30, sudah menjelang tengah malam, namun matahari masih menyorot garang. Di sini matahari bersinar 24 jam sehari.

Garret Madison, yang menjadi guide tim kami, menyambut kedatangan kami dengan gembira. Walau mengantuk, kami tak bisa langsung tidur. Terlebih dahulu kami harus mendirikan tenda. Vern dan Garret mendirikan satu buah mencontohkan caranya pada kami, lalu kami mendirikan sisanya. Malam itu, aku berbagi tenda dengan Mac.

Latihan Crevasse Rescue

Jumat 30 Desember 2011, kami bangun pukul 9.30. Usai MCK di tempat yang ditentukan, kami menuju tenda dapur untuk sarapan. Menunya adalah pancake dioles selai, crakers dan keju. Untuk minuman tersedia aneka pilihan, aku memilih kopi + krimer.  Sambil sarapan kami berkenalan lebih jauh dengan Garret. Tenda dapur berukuran kecil dengan bentuk kerucut. Saat waktu masak dan kompor dinyalakan, di dalamnya menjadi tempat favorit kami karena rasa hangat yang nyaman.  

Garret Madison masih cukup muda, baru 33 tahun. Jabatannya adalah manager ekspedisi AAI di Amerika Selatan, Antartika dan Everest. Walau jauh lebih muda, namun jabatannya sudah di atas Vern. Dia sudah mendaki berbagai gunung seperti Vinson Massiv, Everest, Cho Oyu, Aconcagua, Denali, Kilimanjaro, Elbrus, Ama Dablam, Raineer, dan beberapa gunung lainnya di berbagai belahan dunia. Garret senang bercanda dan sangat ramah, sebentar saja kami langsung akrab dengannya.

Usai sarapan kami membahas rencana pendakian, kesimpulannya sebagai berikut:
- 31 Des ’11 : mendaki dari Base Camp (2.100 m) menuju Low Camp (2.750 m) dengan membawa seluruh peralatan dan perbekalan. Selain menggunakan ransel, pada hari ini kami menggunakan sled (kereta luncur). Waktu tempuh rata-rata 4-6 jam.
- 1 Jan ’12 : istirahat di Low Camp
- 2 Jan ’12: mengangkut sebagian beban (cache) ke High Camp (3.700 m) lalu turun kembali dan tidur di Low Camp. Waktu tempuh rata-rata 8-10 jam pergi dan pulang.
- 3 Jan ’12 : mengangkut seluruh sisa barang dan bendaki ke High Camp. 6- 8 jam
- 4 Jan ’12 : istirahat di High Camp
- 5 Jan ’12 : pendakian dari High Camp menuju puncak Vinson Massif (4.897 m) lalu kembali turun ke High Camp. Waktu tempuh rata-rata 9 – 12 jam pergi dan pulang.
- 6 Jan ’12 : Turun dari High Camp langsung menuju Base Camp. Waktu tempuh rata-rata 6 – 8 jam.
- 7-? Jan ’12 : stand by menunggu pesawat jemputan. Sangat bergantung pada cuaca.

Setelah selesai membahas tentang pendakian, kami menyiapkan harness dan prusik untuk berlatih crevasse rescue. Crevasse adalah jurang es yang terbentuk karena rekahan pada es. Kedalamannya dapat mencapai ratusan meter. Seringkali tertutup oleh salju di bagaan atasnya sehingga tersamar.

Crevasse rescue adalah materi bagaimana menyelamatkan diri sendiri atau orang lain bila terperosok ke dalamnya. Materi yang sangat penting karena kami akan berjalan melintasi glasier yang tentu memiliki banyak crevasse (jurang es). Latihan ini kami lakukan bersama dengan timnya Vern (Mark, Mac, Will dan Frank). Materi awal adalah pengenalan jenis-jenis pengaman (picket, dead man dan bollard). Garret mencontohkan cara memasang atau membuatnya lalu meminta kami mempraktekkannya. Setelah kemampuan kami membuat anchor dianggap cukup baik, kami dipersilahkan untuk istirahat dan makan siang.

Garret menyiapkan mie instan. Kami mengeluarkan bekal tambahan: rendang, saus dan kecap. Kami makan dengan lahap lalu kembali bersiap meanjutkan latihan.

Kali ini Vern yang menjadi pemateri. Kami diajarkan bagaimana mengeluarkan teman yang terjatuh ke dalam crevasse. Kami diajarkan menginstal pengaman, kemudian membuat Z sistem untuk memudahkan menarik korban.

Menjelang pukul enam sore latihan baru selesai. Aku mengirimkan berita pada kang Galih dengan SMS menggunakan telepon satelit Iridium tentang kabar kami juga tentang kegiatan yang kami lakukan. Lalu Garret memanggil kami semua ke tumpukan makanan ringan padat kalori dalam kantung-kantung plastik besar. Ada coklat, kacang-kacangan, daging asap, sosis, buah kering, biskuit, permen, dan lain-lain.

Kami dipersilahkan memilih sendiri makanan untuk makan siang selama tujuh hari. Tujuh hari makan siang ini akan dikonsumsi hanya bila kami berjalan, sedang bila saat hari istirahat kami akan memasak. Kami mengambil secukupnya lalu kembali ke tenda bersantai menunggu makan malam.

“Big dinner is ready guys!!!” Garret berseru riang. Kami bergegas menuju dapur membawa peralatan makan masing-masing. Menu malam ini adalah nasi dan dua potong besar ayam/orang, ditambah nanas kalengan sebagai penutup. Ini baru makan. Kemudian botol-botol air diisi dengan air panas dan kami kembali ke tenda beristirahat.



Ardeshir Yaftebbi (Wanadri)
W 859 Hujan Rimba











Rubrik ini bekerja sama dengan komunitas relawan AlamSemesta.
AlamSemesta Institute didukung oleh Mer-C dan Wanadri.

Redaktur : Johar Arif
1.995 reads
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.(QS At Taubah ( 9:20))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...