Selasa 27 Desember 2011, rangkaian kegiatan ekspedisi kami menggunakan jasa perusahaan pemandu Alpine Ascents International (AAI) dimulai. Hari ini kami awali dengan sarapan nasi liwet ayam a la Cheff Galih. Walau bumbu masaknya tak selengkap di Indonesia, namun chef satu ini pintar menyulapnya menjadi cukup lezat. Kami mengisi waktu dengan membuat tulisan untuk dikirim ke kang Yoppi di Indonesia selaku ketua harian ekspedisi.
Makan siang cukuplah nasi pagi tadi digoreng. Kami sengaja hemat hari ini agar malam nanti bisa makan sedikit mahal. Usai makan siang aku dan Huda menuju ke Dream Hotel, hanya 5 menit berjalan kaki dari hostel kami, tempat janji bertemu dengan utusan AAI.
Di sana kami bertemu dengan utusan AAI, Jeff Justman. Pertemuan tersebut berlangsung singkat. Hanya perkenalan, dilanjutkan dengan mengatur jadwal pertemuan berikutnya malam nanti dan sedikit ulasan tentang ekspedisi. Klien AAI untuk ekspedisi kloter ke-2 musim ini bukan hanya kami. Ada 4 klien lainnya yang saat ini belum tiba. Rencananya malam nanti kami akan dibriefing bersamaan.
Siang itu kami harus pindah hostel karena Fin del Mundo sudah penuh dua hari ke depan. Kami bergeser satu blok mendekati pantai ke hostel El Conventillo.Hostel ini lebih rapih dari Fin del Mundo, namun kami harus berdesakan dalam 1 kamar kecil berenam. Sebagian barang pendakian kami kunci dalam duffle bag lalu disimpan di lorong depan kamar karena tak muat di dalam.
Usai pindahan, kami santap malam. Sebagian memesan cordero. Tak bosan-bosan rasanya menyantap hidangan ini, dengan alasan menimbun lemak. Hehe... Setelah selesai kami semua menuju Dream Hotel untuk briefing.
Di lobby, Jeff Justman sudah menunggu. Kami menyapanya dan menunggu klien lainnya bergabung. Setelah semua hadir, kami naik ke bar di lantai atas hotel. Keempat klien AAI lainnya: Frank (California), Mark dan Mac (Seattle) dan Will (London).
Kami saling memperkenalkan diri, sedikit latar belakang dan bincang-bincang tentang pengalaman pendakian sebelumnya. Lalu Jeff Justman membriefing kami rencana esok hari. Usai pertemuan kami kembali ke hostel dan beristirahat.
Antartic Logistics and Expedition
Rabu, 28 Desember 2011, pukul 8.30 kami berkumpul di lobby Dream Hotel, lalu berjalan bersama ke Hotel Diego El Magro. Di hotel kami menghadiri briefing oleh Antartic Logistic an Expedition (ALE).
ALE adalah satu-satunya perusahaan yang menyediakan jasa penerbangan dan logistik dari Chile ke Antartika. Mereka juga lah yang menyediakan berbagai fasilitas di sana termasuk jalur pendakian ke Vinson Massif.
Semua perusahaan pemandu tunduk terhadap regulasinya. Semua yang akan berkunjung ke Antartika via Chile, baik pendaki, turis, pemandu atau pemain ski wajib datang dalam pertemuan ini.
Kami dibriefing tentang kondisi umum antartika, berbagai aturan selama di sana, terutama tentang menjaga kebersihan. Mereka juga menyampaikan berbagai bahaya dan kesulitan yang mungkin kami hadapi selama berada di sana.
Cek perlengkapan
Sejak pagi tadi angin bertiup sangat kencang. Kami berjalan dari hotel setengah terseret-seret. Angin berhembus lebih dari 100 km/jam. Banyak kabel listrik dan telepon yang terputus. Dengan was-was kami berjalan ditengah angin kembali ke hostel. Jeff Justman ikut dengan kami ke hostel untuk mengecek perlengkapan kami, sedang kliennya yang lain kembali ke Dream Hotel.
Cek list berlangsung cepat, hanya barang aku yang dicek, sedang yang lain menyaksikan dan mengkorfimasi bahwa mereka memiliki peralatan yang sama. Jeff menjelaskan barang mana saja yang harus dikemas dalam duffle bag dan dijemput oleh ALE sore nanti, dan barang apa yang kami kemas dalam day pack untuk dibawa ke kabin pesawat saat terbang nantinya.
Intinya, semua peralatan pendakian selain pakaian untuk di pesawat dimasukkan dalam dufle bag. Adapun pakaian dan perlengkapan tambahan yang harus dikenakan dan dibawa dalam day pack adalah:
1. 1 stel long john (pakaian dalam panjang) sebagai base layer atau lapisan pertama
2. 1 stel pakaian berbahan soft shell (seperti polartec) sebagai lapis kedua
3. 1 stel pakaian berbahan hard shell (seperti goretex) sebagai lapis ketiga
4. down jacket (jaket bulu angsa) sebagai lapis keempat
5. 1 pasang kaos kaki tipis dan tebal
6. Sepatu untuk di es yang sanggup menahan minimal -20° Celcius, dalam hal ini kami menggunakan sepatu berjenis super boot yang akan kami gunakan saat pendakian yang sanggup menahan suhu -40° Celcius.
7. Mid-weight gloves (sarung tangan berketebalan sedang).
8. Heavy-weight gloves (sarung tangan tebal), biasanya memiliki dalaman cukup tebal sebagai penghangat dan dapat dilepas, sedang lapisan paling luar berbahan anti air dan angin (seperti goretex).
9. Expedition mitten (sarung tangan sangat tebal, yang menyatukan semua jari tangan selain jempol) dengan spesifikasi mampu menahan suhu -40° Celcius.
10. Kacamata untuk di es dan salju yang sanggup menahan UV400 sebanyak 100%.
11. Topi hangat atau kupluk
Pakaian dan perlengkapan di atas sebagian langsung dipakai di badan saat penerbangan dan sebagian lainnya disimpan dalam day pack dan dikenakan bila terasa dingin saat tiba di Antartika.
Setelah selesai check list, Jeff kembali untuk melakukan hal yang sama pada kliennya yang lain. Lalu teman-temanku yang lain mulai mengemas barangnya, masing-masing mencontoh yang ditunjukkan Jeff terhadap barang-barangku. Pukul 14.00 kami membawa duffle bag ke Dream Hotel untuk kemudian dijemput oleh ALE.
Di sisa hari itu kami berjalan-jalan berkeliling walau angin masih saja berhembus kencang. Dan malamnya, seusai makan kami berisirahat lebih awal.
Ardeshir Yaftebbi (Wanadri)
W 859 Hujan Rimba
Rubrik ini bekerja sama dengan komunitas relawan AlamSemesta.
AlamSemesta Institute didukung oleh Mer-C dan Wanadri.