Kamis 22 Desember 2011, sekretariat ekspedisi kami di bilangan Patal Senayan mulai ramai sejak pagi. Ada yang berbelanja, berkutat di depan komputer, mengemasi barang-barang, dan ada pula yang pura-pura sibuk.
Sore harinya kami melakukan konfrensi pers selama dua jam lalu dilanjutkan dengan acara pelepasan. Dilepas kemana? Ya, dini hari nanti kami akan berangkat melakukan ekspedisi ke Antartika untuk mengibarkan Merah Putih di puncak tertinggi di sana, Vinson Massif (4.892 m).
Pak Endriartono Sutarto (Jendral Purnawirawan) selaku ketua umum ekspedisi ini memberikan kata sambutan dan menekankan agar kami mengedepankan keselamatan, baru hal-hal yang lain. Upaya pendakian gunung, apalagi gunung-gunung es, memang memiliki resiko sangat tinggi. Untuk itulah latihan berat dan rangkaian ekspedisi sebelumnya kami laksanakan dengan sungguh-sungguh.
Pelepasan ini dihadiri beberapa orang tua tim pendaki dan puluhan anggota Wanadri. Acara sederhana, namun khidmad dan penuh rasa kekeluargaan. Turut hadir tim penasehat ekspedisi, di antaranya: Bapak Erry Riyana Hardja Pamekas, Bapak Sarwono Kusumaatmadja dan Bapak Anis Baswedan. Ketiganya adalah sosok penting di negeri ini yang perduli dengan semangat nasionalisme dan prestasi.
Adapun tim yang akan berangkat:
1. Galih Donikara (47 tahun), anggota Wanadri angkatan 1989. Bertugas sebagai perwira komunikasi dan komando pengendali yang akan menempati posisi di kota terdekat di Punta Arenas – Chile.
2. Aku, Ardeshir Yaftebbi (29 tahun), anggota Wanadri angkatan 2005. Aku bertugas sebagai ketua tim pendaki, memimpin pendaki ke Antartika, mengibarkan Merah Putih di titik tertinggi di sana dan kembali lagi ke Tanah Air dengan selamat.
3. Nurhuda (24 tahun), anggota Wanadri angkatan 2008. Bertugas sebagai staf operasi, yang membantu menyiapkan rencana operasi pendakian dan segala hal yang dibutuhkan untuk kelancaran operasi tersebut.
4. Iwan Irawan (39 tahun), anggota Wanadri angkatan 1993. Bertugas sebagai staf logistik, medis, dan dokumentasi video.
5. Fajri Al Luthfi (26 tahun), anggota Wanadri angkatan 2008. Bertugas sebagai bendahara.
6. Martin Rimbawan (26 tahun), anggota Wanadri angkatan 2008. Bertugas sebagai staf dokumentasi foto.
Usai acara pelepasan, kami bersegera berangkat menuju bandara. Gerimis turun, jalanan yang biasa macet malam ini lancar. Kami check-in 120 menit sebelum jadwal penerbangan dan berlangsung hampir 100 menit. Banyaknya koneksi penerbangan yang kami lewati menyebabkan proses check-in berlangsung selama ini.
Tanggal 23 Desember 2011, tepat pukul 00.15 WIB, pesawat yang mengangkut kami lepas landas dengan tujuan Dubai. Dari Dubai kami melanjutkan menuju Sao Paolo di Brazil. Di Sao Paolo, tim di-split menjadi dua karena sulitnya memesan tiket untuk 6 orang sekaligus pada saat akhir tahun begini.
Timku, Nurhuda dan Iwan, menuju Monte Video (Uruguay), sedang tiga yang lain terbang menuju Buenos Aires (Argentina). Dari kedua lokasi ini, kami kemudian berkumpul kembali di Santiago (Chile). Dari Santiago baru kemudian kami terbang bersama ke Punta Arenas.
Tiba di Punta Arenas
Setelah terbang selama 28 jam 30 menit ditambah transit selama 36 jam 30 menit, tanggal 25 Desember 2011 pukul 12.30 waktu setempat kami tiba di kota tujuan. Zona waktu Punta Arenas adalah GMT (Greenwich Mean Time) -3, sedang Jakarta GMT +7, artinya selisih waktu antara Punta Arenas dan Jakarta adalah 10 jam lebih lambat. Contohnya waktu ketibaan kami di Punta Arenas = 12.30, maka waktu di Jakarta saat itu = 22.30 WIB.
Punta Arenas adalah kota yang terletak di ujung selatan Chile sekaligus di ujung selatan benua Amerika Selatan. Kota ini merupakan pintu masuk ke Antartika. Kota kecil yang didirikan pada tahun 1848 ini penuh dengan bangunan-bangunan tua. Kota yang awalnya dinamakan “Sandy Point” oleh John Byron pada abad ke-17 ini adalah pelabuhan penting untuk lalu-lintas bioceanic.
Dari bandara kami menggunakan mobil van sewaan selama 30 menit untuk mencapai pusat kota. Komunikasi dengan pengemudi dan masyarakat lokal tak mudah, karena Anda harus mahir berbahasa Spanyol. Hal ini sudah kami antisipasi semampunya. Nama hostel dan alamatnya yang kami booking lewat internet melalui link di www.lonelyplanet.com sudah di-print, tinggal tunjukkan saja pada sang pengemudi. Untuk tawar-menawar harga, Fajri mengeluarkan kalkulator sehingga komunikasi angka langsung diketik di situ.
Kami menginap di hostel Fin del Mundo dengan tarif USD 38/orang. Cukup murah bila dibandingkan dengan tarif hotel berbintang. Bila anda menginap berhari-hari, dekatilah pemilik dan mintalah diskon tambahan, hal ini berhasil kami lakukan. Lokasinya cukup strategis, berjarak kurang dari 200 meter dari pantai. Di seberang jalan terdapat beberapa restoran terkenal di Punta Arenas seperti La Luna, Jekus dan Brocolino. Anda bisa menyantap aneka hidangan khas Chile dengan tarif sekitar USD 20-25/orang.
Saat ini Punta Arenas sedang musim panas. Namun jangan salah, suhu siang hari sekitar 16° celcius dan malam hari bisa turun di bawah 10° celcius, ditambah dengan angin yang tak henti-henti berhembus kencang. Jaket menjadi setelan wajib tiap keluar. Matahari terbenam menjelang pukul sebelas malam dan terbit menjelang pukul enam pagi.
Kami menyediakan beberapa hari di kota ini sebelum perjalanan ke Antartika dimulai. Hal ini penting untuk memulihkan kondisi dari jet lag dan kelelahan selama penerbangan. Di samping itu, tentunya kami ingin melihat-lihat Punta Arenas terlebih dahulu, menikmati arsitektur, lansekap dan makanannya. Makanan favorit kami selama di Punta Arenas adalah Cordero: hidangan iga domba Patagonia yang dibakar disajikan dengan kentang goreng. Dagingnya empuk dan gurih walau minim bumbu.
Ardeshir Yaftebbi (Wanadri)
W 859 Hujan Rimba

Rubrik ini bekerja sama dengan komunitas relawan AlamSemesta.
AlamSemesta Institute didukung oleh Mer-C dan Wanadri.