Beberapa kali terbangun karena berisiknya terpaan angin yang menimpa shelter dan bangunan yang ada di pos tiga membuat saya terjaga lebih awal, yaitu pukul 03.00 pagi. Nampak di ranjang sebelah, dua orang anggota tim ekspedisi sedang menjerang air kebutuhan seluruh anggotanya dari bongkahan salju yang diambil bolak balik dari luar shelter.
Selanjutnya, saya pun terlibat dalam kegiatan masak memasak untuk sarapan dan bekal di perjalanan nanti. Kegiatan berikutnya, saya mulai packing dan memisahkan perlengkapan yang akan dibawa mendaki dan ditinggal di shelter.
Berbekal daypack Eiger yang berisi perbekalan dan perlengkapan pendakian, tanggal 19 Januari 2007 pukul 06.00, perjalanan menggapai puncak Damavand dimulai. Headlamp dipasang karena pagi itu cuaca masih terlihat gelap.
Angin yang bertiup tidak nampak mereda sepanjang perjalanan menapaki jalur pendakian, bahkan terasa semakin kencang menerpa tubuh yang terkadang membuat terhuyung saat posisi tidak stabil menjejak. Dengan bantuan skipool dan pakaian produk Eiger yang saya kenakan, mulai dari longjohn, polar suit, eteral jacket, dan wind breaker, perjalanan yang saya lakukan terasa lebih mantap.
Perlahan cuaca berubah menjadi lebih terang. Headlamp dilepas, thermos dibuka untuk sekedar membasahi tenggorokan. Punggungan yang dipilih sebagai jalur pendakian mulai terasa mengeras karena terlihat sudah tidak lagi dipenuhi salju. Hal ini dimungkinkan karena proses alam yang terjadi pada lokasi itu. Ini karena merupakan medan terbuka yang terus menerus diterpa angin sehingga salju yang turun tidak lama menumpuk di permukaan, namun terlanjur membeku jadi es jadi jalanan yang licin untuk diinjak. Crampoon pun dipasang supaya tidak tergelincir.
Perjalanan terus saya lakukan dengan berbagai cara untuk menyiasati angin yang terus menerpa. Terkadang berhenti sejenak berjongkok saat angin bertiup begitu kencang. Sekali-sekali berbalik melawan angin yang datang dari depan karena terasa menyayat kulit muka. Dalam kondisi seperti itu, senjata utama saya, yaitu kamera, tidak lepas saya gunakan untuk merekam panorama dan fenomena pemandanagan selama pendakian.
Ujung jari membeku
Karena keinginan menghasilkan gambar yang bagus, saya terkadang harus melepas sarung tangan. Barangkali inilah yang secara tidak sadar menjadikan salah satu jari tangan saya secara perlahan mengalami pembekuan pada ujung jarinya. Hal ini baru saya sadari pada ketinggian 16.600 kaki di lokasi “palawangan”, perbatasan kawasan puncak, saat saya membongkar perbekalan untuk makan siang pukul 12.00. Ujung jari tengah tangan kanan saya mengalami gejala pembekuan stadium awal, kondisinya tampak sudah memutih dan mati rasa ketika saya coba gigit.
Melihat kondisi seperti itu, masih dalam kondisi angin yang mendera, secepatnya saya bergerak mengabadikan kawasan tersebut dan meminta tolong dua orang tim ekspedisi yang berada di lokasi tersebut untuk mendampingi saya membuat foto berlatar bendera kebangsaan yang saya bawa dan beberapa produk pendukung kegiatan pendakian yang saya laksanakan.
Dari kawasan pamuncakan, masih terekam di kejauhan rangkaian puncak gunung yang nampak seperti bendungan, berdiri kokoh membentengi lautan Kaspia. Biasanya, bila saat musim semi dan panas, saat hari cerah, angin puncak datang menyapa dengan aroma dan gemuruhnya yang khas. Detik-detik seperti itulah biasanya yang dinantikan para pendaki saat menyapa puncak Damavand, tempat Sang Naga ditawan.
Untuk menghindari kondisi yang lebih buruk terhadap jari tangan tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk segera turun kembali ke pos tiga pendakian. Sedikit bergegas saya menuruni rute punggungan, mengikuti kembali jejak perjalanan pada saat mendaki.
Teringat obrolan saya sebelum berangkat ke Iran dengan salah seorang pelatih saya, anggota Wanadri yang bekerja di Lakespra TNI AU. Dia mengingatkan saya agar selalu berkepala dingin tidak terbawa oleh nafsu bila melakukan perjalanan seorang diri karena segala keputusan tergantung kita semata.
Dan yang lebih penting adalah kita harus menentukan rambu-rambu terhadap batas kemampuan kita, satu tingkat lebih tinggi dari kondisi nyata yang kita alami. Contohnya, walaupun kondisinya masih menunjukan lampu hijau, kita harus mewaspadainya sebagai kondisi lampu kuning. Begitupun apabila kondisi yang kita rasakan sudah menunjukan lampu kuning, harus sudah dianggap lampu merah untuk saat itu, apalagi bila melakukan pendakian di ketinggian di atas 4000 m.
Kembali ke pos tiga
Terdorong oleh keinginan untuk terus berkarir melakukan ekspedisi pendakian pada gunung-gunung yang lain, saya kembali pulang menuju pos tiga untuk melakukan perawatan terhadap kondisi jari tangan saya dengan merendamnya pada air hangat.
Malam itu saya lewati dengan kembali melakukan wawancara kecil dengan tim putri ekspedisi Damavand, sekedar mengorek keterangan perkembangan dunia pendakian di kalangan perempuan Iran. “Mountaineer, me? I am adventure, by adventure I mean search. Search in every way, in all directions.” Terakhir kalinya saya abadikan puncak Damavand yang saat itu sudah tertutup awan dan diselimuti kabut tebal.
Setelah berpamitan, Sabtu 20 Januari, saya nikmati perjalanan kembali pulang menempuh jalur awal pendakian yang sudah tersamar karena tersapu angin dan tertimbun salju kembali. Route flag tim ekspedisi mengantar saya kembali menuju pos satu di kota Rehna.
‘Ay gonbade gītī, ay Damāvand’. Terima kasih Damavand, saya telah diingatkan kembali akan kesadaran terhadap kuasa-Nya dalam bertahan terhadap terpaan angin, salju, dan semangat untuk mendaki dan terus mendaki right mountain. Mutasakhram.
Galih Donikara (Wanadri)
W 628
Topan Rawa
Rubrik ini bekerja sama dengan komunitas relawan AlamSemesta.
AlamSemesta Institute didukung oleh Mer-C dan Wanadri.