Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Ekspedisi Mt. Damavand (2): Never Walk Alone

Kamis, 09 Februari 2012, 10:29 WIB
Komentar : 0
Galih Donikara
Rombongan ekspedisi beriringan berjalan menapaki punggungan Gunung Damavand.

Hari pertama di Tehran, 16 Januari 2007, di KBRI, saya mengumpulkan berbagai informasi tambahan mengenai segala hal yang berkaitan dengan kegiatan pendakian yang akan dilakukan, di samping belanja bahan bakar berupa spirtus dan camping gas. Malamnya saya lalui dengan menyantap jamuan makan malam dengan Bapak dan Ibu Sugeng Kuasa Usaha Indonesia di Iran yang bertindak sebagai pelaksana Tugas Duta Besar Republik Indonesia. Beliau berdua memperkenalkan saya dengan menu lengkap makanan khas Iran.

Sesuai dengan referensi dan rencana operasi pendakian yang saya buat, keesokan harinya tanggal 17 Januari dengan diantar oleh Ibu Yanti dari Densosbud KBRI Tehran, saya berangkat pukul 06.00 saat kota Tehran masih diselimuti pekatnya kabut pagi.

Perjalanan sepanjang kurang lebih 95 km menuju kota Rehna sebagai daerah awal pendakian dari rute selatan gunung Damavand ditempuh dalam waktu 3 jam setelah mampir terlebih dahulu untuk sarapan di sebuah kedai makanan di kota Polur. Mendekati kota Rehna, perjalanan mobil melambat karena jalan berubah menjadi berliku dan menanjak. Salju yang turun begitu tebal, menutupi jalan sehingga Ali, lokal staff KBRI, harus menjalankan mobilnya dengan perlahan dan hati-hati.

Masih dalam suasana hujan salju yang tebal, kurang lebih pukul 09.30 kami tiba di Pos Pendakian kota Rehna yang berada pada ketinggian 2000 mdpl. Pos Pendakian yang dibangun 70 tahun lalu terlihat bersih dan terawat. Di dalamnya terdiri atas satu ruangan tamu yang besar dan dua buah kamar lengkap dengan pemanasnya. Satu kamar terletak di depan dengan kapasitas 15 orang dan satu lagi terletak di belakang bangunan bersebelahan dengan dapur, memuat 6 orang sesuai dengan tempat tidur yang tersedia pada masing-masing ruangan. Kamar mandi, WC dan wastafel terletak di lantai bawah.

Di dalam ruangan pos pendakian tersebut ternyata telah berkumpul 17 orang pendaki dari Federasi Pendaki Gunung Neyshabur salah satu kota yang berada di provinsi di Iran. Mereka sedang berkemas mempersiapkan diri melakukan ekspedisi pendakian musim dingin ke gunung Damavand. Setelah turut mendaftaran diri kepada Mr. Hasan, salah seorang petugas pengelola pendakian, saya diperkenalkan kepada tim tersebut.

Melalui salah seorang anggota yang bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris saya tahu rencana kegiatan mereka. Melalui ketua rombongannya, lewat Ibu Yanti, saya meminta ijin untuk turut serta mengikuti rute yang akan mereka tempuh. Ijin prinsip yang mereka berikan membuat lega kami yang semula kesulitan mencari pemandu di sekitar kota pendakian tersebut yang karena alasan musim salju mereka tidak bersedia mendampingi saya mendaki. Ah, akhirnya perjalanan pendakian saya menuju puncak Damavand tidak saya lakukan seorang diri, ternyata banyak pendaki di mana-mana.

Makan siang dan sedikit obrolan yang dapat saya lakukan dengan tim ekspedisi karena problem bahasa mengantar saya untuk istirahat setelah sebelumnya melakukan packing ulang terhadap perlengkapan yang saya bawa.

Jalan-jalan sore hari saya lakukan setelah ngepas crampoon, mencoba kompor gas dan kompor trangia yang saya bawa. Ini untuk aklimatisasi dan mengenal sebagian kawasan kota tersebut di tengah sepinya kota Rehna karena sebagian penduduknya tidak banyak keluar rumah karena sedang turun salju.

Suhu pada saat itu adalah 8°C. Fasilitas umum, seperti kantor pos dan telepon umum, nampak terlihat sepanjang jalan yang saya lalui. Demikian pun beberapa toko terlihat buka sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari, terdiri dari toko kelontong sekelas mini market, dan salah satunya adalah kedai makanan yang saya datangi untuk makan malam.

Dengan membayar 2000 toman saya menginap di kamar tidur belakang di dalam pos pendakian. Sebelumnya saya berjanji dengan Mr. Hasan untuk berangkat keesokan harinya kurang lebih pukul 08.00 waktu setempat, untuk diantar jemput menuju lokasi awal pendakian dengan menggunakan Jeep Landrover-nya.

Rute pendakian

Sekurangnya terdapat enam belas rute pendakian menuju puncak, dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Beberapa dari rute tersebut sangat berbahaya dan membutuhkan teknik rock climbing. Rute terpanjang adalah rute timur laut untuk pendakian mencapai puncaknya. Rute barat terkenal dengan pemandangan matahari tenggelamnya. Pada rute ini terdapat air terjun beku yang sering menyebabkan longsoran salju yang besar.

Rute pendakian yang saya pilih adalah dari sisi selatan, merupakan rute yang bisa didaki pada berbagai musim. Sedangkan dua rute umum lainnya setiap musim salju turun ditutup untuk alasan keselamatan.

Tanggal 18 Januari, setelah sarapan dan berkemas, sambil menunggu mobil jemputan datang, saya memanfaatkan waktu tersebut untuk hunting foto mengabadikan suasana pagi kota Rehna yang masih diselimuti salju. Tidak lama berselang, Landrover jemputan datang diikuti oleh mobil pickup yang juga menjemput rombongan tim ekspedisi.

Tak sampai setengah jam, jeep yang mengantar saya tiba di lokasi awal pendakian, perjalan menuju puncak pun dimulai. Setelah kurang lebih lima belas menit menyusuri jalan raya yang diselimuti salju tebal, perjalanan mulai memasuki medan menanjak mengikuti alur punggungan yang mengarah ke puncak.

Tak seperti hari kemarin yang dipenuhi oleh hujan salju, udara hari ini begitu cerah. Matahari tampak terik bersinar membuat saya harus melepas wind breaker karena kegerahan. Sepanjang perjalanan terlihat disekeliling saya panorama alam yang terbentang. Hampir semuanya memutih tertutupi salju yang turun semalam.

Setelah melewati bukit kecil, perjalanan dilanjutkan dengan menuruni lembahan pendek yang mengarah pada sebuah sungai kecil yang saat itu membeku. Selanjutnya medan yang saya lalui mendaki terus memanfaatkan punggungan yang ada. Tampak jelas rombongan ekspedisi beriringan berjalan menapaki punggungan meninggalkan jejaknya pada hamparan putih salju sepanjang perjalanan, memandu saya untuk sampai di pos dua pendakian pada ketinggian 3000 mdpl.

Masjid megah di pos dua

Pos dua adalah shelter tempat berteduh dan menginap yang terdiri atas bangunan seluas kurang lebih 4 x 10 meter persegi yang terbagi atas dua buah ruangan yang dapat menampung 30 orang. Dari keterangan yang didapat, kawasan pos ini biasa disebut Gosfand Sara.

Yang menakjubkan pada kawasan pos dua ini adalah adanya bangunan mesjid yang cukup megah menurut ukuran mesjid sejenis dan berdiri pada ketinggian sebuah gunung yang belum pernah saya temui sebelumnya dalam pengalaman saya mendaki gunung di berbagai daerah di Tanah Air.

Sayang sekali, dalam kondisi musim dingin, air yang biasanya mengalir dalam wc dan kamar mandinya nampak membeku semuanya, sehingga saya tidak dapat menyempatkan diri untuk berdoa seperti halnya masyarakat dan pendaki yang biasanya datang pada musim semi dan musim panas. Mesjid ini dibangun oleh masyarakat untuk keperluan para pendaki dan wisatawan yang berkunjung sehingga dapat beristirahat pada kawasan tersebut.

Memanfaatkan cuaca yang masih terang dan panas, rombongan melakukan jemur-jemur sepatu dan gaiters yang terperosok salju selama perjalanan, disamping melakukan stretching mengendurkan otot yang terkena beban barang bawaan dalam ransel. Memasak dan makan pun dilakukan di halaman shelter depan mesjid sambil berjemur karena mudahnya mengeduk salju sebagai bahan dasar membuat rebusan air minum atau sop.

Dua orang dari rombongan ekspedisi nampak serius bermain catur. Perubahan fenomena alam terasa cepat sekali, di ufuk barat nampak semburat jingga yang berubah kemerahan menjadi lembayung senja, dan mengantar kami memasuki shelter untuk berkemas menatanya menjadi tempat selonjoran meluruskan punggung menanti waktu tidur tiba.

Hari ketiga

Hari ketiga berada di kawasan Damavand, tanggal 19 Januari, dimulai dengan aktivitas pagi mencari lokasi untuk posisi “B.A.B”, dilanjutkan dengan packing perlengkapan dan memasak sarapan. Cuaca masih nampak bersahabat walaupun tidak secerah hari kedua, namun terasa cukup nyaman untuk memulai perjalanan menuju pos tiga pendakian di ketinggian 4150 mdpl.

Tidak berbeda dengan jalur sebelumnya, rute pendakian masih menggunakan punggungan gunung seba-gai jalan setapak yang dirintis menuju puncak, dengan pertimbangan salju yang tertimbun tidak terlalu tebal. Walaupun telah mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh tim ekspedisi, di beberapa lokasi tetap saja saya masih juga terjebak, terperosok pada kubangan salju, apalagi pada saat menyebrang untuk berpindah punggungan.

Rute yang saya tempuh ini merupakan rute paling populer, berada di sisi selatan gunung yang memiliki medan jalan tidak terlalu sulit, bahkan dikala musim semi dan musim panas akan terlihat jelas jalan setapaknya. Belum lagi jalur ini memiliki dua buah camp ditengah-te-ngahnya.

Namun demikian, tidak sama halnya apabila mendaki dilakukan pada musim dingin dan bersalju. Kita harus pandai-pandai memilih jalan setapak agar tidak banyak terperosok pada kedalaman salju karena itu akan menguras tenaga kita.

Selama menapaki jalur yang makin lama kian menanjak, sedikit demi sedikit pemandangan alam yang menjadi hiburan selama perjalanan menjadi berubah. Nampak jajaran pegunungan yang tadinya hanya terlihat punggungannya saja lambat laun berubah menjadi deretan puncak-puncak gunung. Karena ketinggiannya sudah tidak sejajar lagi dengan ketinggian tempat saya berpijak, pemandangan di baliknya jadi mulai Nampak. Di kejauhan dapat dilihat membentang garis biru laut Kaspia.

Pos tiga

Hampir seharian saya menempuh rute pendakian, menambah ketinggian menuju pos tiga pendakian. Tiba di sana, jam tangan saya telah menunjukan waktu pukul 16.20. Kawasan ini biasa disebut dengan Bargah Sevom.

Bangunan pos tiga ini menyerupai hangar. Di dalamnya terdapat kurang lebih 12 buah ranjang susun dua tingkat yang hampir penuh terisi oleh tim ekspedisi begitu saya tiba di dalamnya. Tawaran air teh panas tidak saya sia-siakan untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan karena seperempat terakhir pendakian menjelang pos angin dingin bertiup kencang.

Sambil memasak makanan untuk makan malam, saya mencoba berkomunikasi kembali dengan rombongan ekspedisi. Federasi pendaki gunung mereka merupakan gabungan dari beberapa klub pendaki yang ada di kota Neyshabur. Mereka datang dari berbagai latar belakang profesi dan usia.

Beberapa orang, terutama 3 orang perempuannya, berstatus mahasiswi. Ada pengusaha, petugas pemadam kebakaran, pegawai pemerintahan, dan satu orang lagi yang menjadi penerjemah di antara kami adalah pedagang antarnegara, yaitu Mr. Sadeqi. Yang tertua dari rombongan tersebut adalah Mr. Ali, berusia 50 tahun, berprofesi sebagai pemandu wisata.

Mengingat besok merupakan summit day, tak lama setelah selesai santap malam dan menimbun air panas dalam termos, kami tidur dengan cepat mempersiapkan diri untuk menggapai puncak. Di luar, tiupan angin terdengar semakin seru, menderu. Ah, beruntung saya telah berlindung di dalam kehangatan shelter.


Galih Donikara (Wanadri)
W 628
Topan Rawa







Rubrik ini bekerja sama dengan komunitas relawan AlamSemesta.
AlamSemesta Institute didukung oleh Mer-C dan Wanadri.


Redaktur : Johar Arif
960 reads
Anas Ra, pembantu rumah tangga Nabi Saw berkata, “ Aku membantu rumah tangga Nabi Saw sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah Beliau mengeluh “Ah” terhadapku dan belum pernah Beliau menegur “kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.((HR. Ahmad))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...