Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Ekspedisi Mt. Damavand (1): Pesona Damavand

Rabu, 08 Februari 2012, 15:04 WIB
Komentar : 0
Galih Donikara
Gunung Damavand

Ajakan yang datang untuk melakukan kembali ekspedisi sangat menggoda hati. Mendaki gunung, menyusur pulau terluar negri tercinta atau kembali ke Himalaya telah menggoyahkan rencana diri dalam menata pekerjaan.

Walau masih suka tantangan, tapi untuk kembali berekspedisi perlu keberanian tersendiri. Selain menjadi fasilitator untuk kegiatan outward-bound yang mengajarkan tentang rasa percaya diri, tata nilai, dan keberanian, terkadang juga saya mengikuti berbagai aktivitas penjelajahan dan petualangan untuk sekedar melepas dahaga akan berkegiatan di alam bebas.

Akhirnya keputusan melakukan ekspedisi diambil setelah melalui berbagai pertimbangan. Tulisan berikut ini merupakan catatan selama melaksanakan kegiatan Ekspedisi Mt. Damavand di Republik Islam Iran.

Pesona Damavand


Inilah gunung tertinggi di jajaran pegunungan Elburz, Iran, yang pada musim semi dan musim panas banyak didaki baik oleh masyarakat maupun para pendaki. Lokasinya yang terletak di kawasan Mazandaran, hanya 95 km ke arah timur laut dari ibu kota Iran dan berbatasan dengan laut Kaspia di sisi utara, menjadikan gunung Damavand populer di kalangan masyarakat Iran untuk berkemah atau menunggu matahari terbit dan terbenam.

Gunung Damavand yang mempunyai ketinggian 5671 mdpl juga merupakan salah satu tujuan dari para pendaki manca negara. Mempunyai karakteristik sebagai gunung berapi dengan tipe strato vulcano, menyimpan keindahan dan panorama yang belum diketahui banyak orang. Berbagai kegiatan alam bebas bisa dilakukan mulai dari hiking, trekking, sampai dengan kegiatan ekspedisi.

Damavand adalah gunung api muda yang terbentuk selama periode Holocene (kira-kira lebih dari 10.000 tahun yang lalu). Lereng bagian barat terdiri dari bentukan aliran lava beku dengan dinding alur jatuhan lavanya terbentuk sebagai akibat sisi samping luar lava yang mengalir dengan cepat kemudian mendingin membentuk terowongan lava pada bagian dalamnya yang lebih panas.

Dua aliran tersebut dilapisi salju pada sisi-sisinya sehingga membentuk alur-alur yang indah. Meskipun tidak tercatat letusannya dalam sejarah, mata air panas pada lereng gunung api dan lubang-lubang uapnya pada kawah puncak menunjukkan bahwa kondisi magma panas yang sedang mendingin masih terdapat di bawah gunung api ini. Aktivitas yang masih berlanjut ini, meskipun kecil, mengindikasikan bahwa gunung ini dalam keadaan tidur bukan mati.

Gunung Damavand selalu berada dalam temperatur yang rendah karena selalu diterpa angin dan diselimuti salju hampir setiap musim. Pada musim panas, hembusan angin yang disertai salju bertiup cepat dari arah slopes sebelah selatan dan barat. Permulaan bulan Juli gletser dan snowfields di atas 5.000 meter membentuk sejumlah nieves yang menjadi batas tumbuh bagi satu-satunya tumbuhan yang berkembang disana. Tumbuh-tumbuhan berduri dari jenis Astralagus ditemukan pada ketinggian di atas 4500 meter.

Pada lereng yang lebih rendah dan berbatu terlihat seperti layaknya hamparan sebuah permadani, sedangkan pada lereng yang lain terlihat padang rerumputan dari jenis rumput yang berbunga seperti candu liar. Rumput tersebut merupakan makanan bagi khewan peliharaan para penggembala yang tinggal disekitar kawasan Damavand.

Perjalanan panjang

Perjalanan mendaki gunung Damavand --di benak saya masih penuh dengan pertanyaan tentang Iran dan pegunungannya-- saya lakukan pada tanggal 15 Januari 2007. Selesai mengurus visa dari Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta, dengan berbekal tiket dari Kementrian Negara Pemuda dan Olah Raga RI, Surat Ijin Jalan dari Wanadri, Surat Keterangan dari Bulletin Wanadri, Surat Rekomendasi dari Federasi Panjat Tebing Indonesia, Surat Pengantar dari Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, dan beberapa lembaran dolar dari Bank Jabar, saya berangkat menggunakan pesawat Emirats menuju Tehran sebagai tujuan pertama.

Perlengkapan yang sepenuhnya didukung oleh PT Eiger saya packing ke dalam dua buah bulsack, diacak antara peralatan pendakaian, perlengkapan travel dan perbekalan. Hal ini dilakukan sesuai pengalaman untuk menghindari kehilangan semua perlengkapan apabila salah satu bagasi tercecer.

Perjalanan panjang mulai ditempuh pada pukul 22.00 WIB dari Bandara Soekarno–Hatta. Setelah transit sejenak di Singapura dan berganti pesawat di Dubai, saya tiba di Imam Khomeini Airport di Tehran, Iran, pada keesokan harinya, pukul 10.00 waktu setempat. Dari atas pesawat sebelum mendarat tampak jelas pemandangan Jazirah Persia ini seluruhnya putih tertutup salju musim dingin.  

Menukar uang adalah kegiatan pertama saya di Bandara, karena harus melakukan transaksi pembayaran dengan mata uang real atau toman untuk taksi yang saya gunakan menuju KBRI di Tehran. Bandara Imam Khomeini sendiri terletak 30 km dari kota Tehran.

Sedikit keterangan yang diberikan oleh sopir taksi yang mengantarkan saya menuju KBRI dan pemandangan yang membentang begitu kendaraan keluar dari kawasan bandara menjawab sedikit pertanyaan di benak saya tentang pegunungan di Iran. Terlihat kota Tehran dikelilingi oleh jajaran pegunungan yang semuanya memutih. Terbayang kota Bandung tempat saya tumbuh dan berkembang yang juga dikelilingi jajaran pegunungan, kehijauannya saja yang membedakannya.

Sambutan hangat KBRI

Sambutan hangat saya dapatkan dari jajaran KBRI yang kebetulan sedang berkumpul menjelang makan siang pada saat saya tiba di sana. Beberapa pertanyaan yang hampir sama kembali muncul dari staf KBRI tentang keberangkatan yang hanya seorang diri dan dilakukan pada musim dingin.

Menurut kete-rangan, saat ini sedang terjadi hujan salju di kawasan Damavand. Beberapa penjelasan saya berikan, tentang tujuan dan latar belakang pemilihan lokasi serta waktu yang saya pilih. Akhirnya dengan mengeluarkan beberapa contoh Bulletin Wanadri yang sengaja saya bawa, teman-teman dari KBRI memahaminya, bahkan turut membantu rencana kegiatan pendakian saya ini.


Galih Donikara (Wanadri)
W 628
Topan Rawa








Rubrik ini bekerja sama dengan komunitas relawan AlamSemesta.
AlamSemesta Institute didukung oleh Mer-C dan Wanadri.


Redaktur : Johar Arif
1.081 reads
Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...