Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Kisah Relawan di Mentawai (2-habis): Terkatung-katung di Samudera Hindia

Rabu, 18 Januari 2012, 09:53 WIB
Komentar : 0
Foto-foto: Mer-C
Shalat di atas kapal yang terkatung-katung di tengah laut.

21 November 2011, rencana pelayaran tim relawan hari ini ke Eruk Paraboat. Informasi yang kami dapatkan, untuk menjangkau lokasi tersebut memakan waktu 6 - 8 jam berlayar dan kira-kira 4 jam berjalan kaki.

Pagi itu seperti biasa kami membawa semua barang bantuan dan obat-obatan. Kali ini sedikit berbeda. Kami menaiki kapal yang lebih besar muatannya karena menyesuaikan jumlah korban di pengungsian sehingga barang bantuan yang kami bawa pun lebih banyak. Kapal tersebut panjangnya 12 m dengan lebar 3 m. Lumayan, kami bisa sedikit lebih leluasa bergerak dan membawa bantuan.

Setelah 6 jam kami berlayar, tibalah di Eruk Paraboat. Tapi, untuk menjangkau daratan kami harus berenang ke tepian karena kapal yang besar ini dikhawatirkan akan menabrak karang dan merusak badan kapal.

Kami melakukan assesment awal untuk survei lokasi. Setelah berdiskusi, saya dan satu ABK ditugaskan untuk berenang ke daratan mencari informasi. Di daratan, sekitar 1 jam, tidak ada informasi yang kami dapatkan. Di pos polisi tidak ada petugas. Pulau itu sepertinya sudah ditinggal penghuninya. Seluas mata memandang, hanya tinggal sisa-sisa rumah yang sudah tersapu tsunami. Dengan hasil assessment ini, akhirnya kami berinisiatif untuk ke berlayar ke pulau terdekat, tepatnya menuju ke Desa Purourogat.

Dalam perjalanan, kami melihat ada sinyal bendera yang dilambai-lambaikan. Kami berusaha mendekati. Setelah jelas, kami lihat banyak sekali tumpukan barang dan kerumunan warga yang berteriak meminta bantuan. Kami coba berlabuh, tapi lagi-lagi karena kapal terlalu besar dan dekat dengan karang, ditambah ombak yang tinggi, kami tidak bisa mendekat. Kami pun memberikan kode ke mereka untuk menjemput kami dengan sampan. Akhirnya, kami berhasil berlabuh.

Kami bertemu dengan Kepala Dusun dan menjelaskan tentang niatan kami untuk memberikan bantuan barang dan makanan serta medis. Alhamdulilah, semua itu diterima dengan baik. Setelah selesai memberikan semua bantuan dan pengobatan, kami pun berpamitan. Tetapi, Kepala Dusun menahan kami, tidak boleh pergi dari pulau ini. “Ada apa ini? Kenapa kami ditahan?” tanya kami heran.

“Pemerintah menjanjikan kamu untuk memfasiltasi dan mengevakuasi seluruh warga di pulau ini dengan kapal besar ke pulau yang aman, tetapi sudah 1 minggu lebih kami tunggu bantuan tersebut tidak datang juga. Kami merasa was-was di pulau ini yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia. Pulau ini tidak aman, maka kami berharap agar kami dievakuasi ke pulau teraman, yaitu pulau Mabolak,” ungkap Kepala Dusun menjelaskan permasalahan mereka.

Kami pun berkordinasi bagaimana caranya mengevakuasi orang sebanyak itu. Kapasitas kapal hanya 20 orang, sedangkan yang mau dievakuasi ada ratusan. Jarak pulau Eruk Purorogat 2 jam berlayar, kalau dihitung pulang pergi 4 jam, sedangkan solar hanya untuk satu kali perjalanan pulang ke pulau Sikakap, tempat basecamp MER-C. Kapasitas barang yang bisa dimuat di kapal 4-5 ton.

Sepertinya evakuasi tidak akan efektif apabila dilakukan dengan kapal kami. Kami memutuskan pulang ke Sikakap untuk membawa kapal yang lebih besar dan berkordinasi dengan pemerintah setempat tentang masalah ini. Kami coba menyampaikan hal ini ke Kepala Dusun. “Kami akan memfasilitasi Bapak untuk mengevakuasi seluruh warga, tetapi kami harus kembali ke Sikakap terlebih dahulu,” ujar kami menerangkan baik-baik.

Mereka memelas tidak percaya dengan janji kami, karena seperti itu juga yang mereka alami satu minggu lalu. Dijanjikan, tetapi tidak terealisasi. Alhasil kami ditahan lagi oleh warga. Sambil putar otak, kami ajukan usulan bagaimana kalau kami membawa dua orang perwakilan dari warga ikut ke Sikakap untuk mencari kapal yang lebih besar dan berkoordinasi dengan pemerintah. Untunglah, Kepala Dusun setuju dengan usulan ini.

Mesin kapal rusak

Siang itu pun kami bergegas berlayar ke Sikakap dengan membawa 2 tambahan penumpang baru. Baru satu jam perjalanan, tiba-tiba laju kapal tersendat-sendat. Ternyata ada masalah di mesin. Kita berhenti memperbaiki kapal. Satu jam kemudian kapal pun mulai melaju. Belum jauh, kapal kembali tersendat dan deru mesin pun mati.

Kondisi kami yang sudah lelah ditambah kejenuhan berlayar diperparah dengan ayunan gelombang yang sangat terasa mengombang-ambingkan kapal kami. Akhirnya juru kemudi memerintahkan ABK untuk menurunkan jangkar.

Saat para ABK sedang berusaha memperbaiki kapal, dari kejauhan kami melihat kapal “surfaid”. Kontan kami pun berteriak dan melambai-lambaikan apa pun yang dapat dilihat orang-orang di kapal tersebut. Mereka melihat dan mengangkat tangan tetapi tidak mendekati kami. Kami pun kembali harus berjuang sendiri.

Deru mesin mulai berbunyi keras, tetapi hanya bertahan 30 detik. Berulang kali dicoba, hasilnya sama saja. Peralatan inti yang dibawa malah rusak, patah, dan tidak bisa digunakan lagi. ABK terus berusaha untuk menghidupkan kapal karena beresiko jangkar putus dan tidak bisa bertahan apabila ada badai.

Saat itu ombak di Samudra Hindia berkisar 6 - 7 m. Kami bagaikan kaleng kosong terombang ambing di lautan berjam-jam. Tingkat kesulitan memperbaiki kapal juga meningkat karena tidak bisa fokus akibat guncangan ombak. Akhirnya, malam itu, juru kemudi resmi menyatakan tidak ada harapan. Metal mesinnya retak dan tidak bisa diperbaiki. Semoga jangkar tidak putus. “Kami akan terus berusaha memperbaikinya,” imbuhnya.

Dingin, lapar, dan haus ditambah guncangan ombak membuat kami bertambah pusing dan mual. Fathy yang punya pengalaman di Wanadri mengintruksikan supaya kami mengumpulkan makanan dan minuman yang ada serta apa pun yang bisa dimakan. Kebetulan sekali makanan yang ada sudah diberikan semua ke warga Eruk Purorogat. Yang tersisa hanya seperempat kaleng biskuit, setengah botol air, 1 botol cairan infus NACL, 1 bungkus susu bubur, 3 botol paracetamol syrup, 1 dus oralit bubuk, bahkan antacid tablet pun kami masukkan dalam daftar yang bisa dimakan. Semuanya kami kumpulkan.

Dahaga dan lapar sangat terasa. Jumlah penumpang kapal ada 7 orang. Semoga makanan dan minuman ini cukup kalau di-manage dengan baik. Perorang dapat satu potong biskuit dan satu tutup botol air per jam. Jangan minum kalau tidak butuh. Untuk menghilangkan haus, kami berwudhu. Alhamdulilah, dengan begitu dahaga sedikit hilang.

Sekitar pukul 2 dini hari, ombak makin menjadi dan menghantam kapal kami. Bagian dalam kapal basah dan sudah tergenang air. Sedikit demi sedikit air kami keluarkan dari kapal. Pukul 4 pagi, mesin kapal mulai berderu lagi. Kami semua berteriak mengucap syuku. Juru kemudi yang hafal betul dengan kondisi Samudra Hindia langsung mengarahkan kapal ke alur mengikuti arus.

Pelan sekali kapal ini melaju. Cuma bertahan satu jam, mesin kembali mati. Kali ini kami tidak buang jangkar, melainkan mencoba mengikuti hantaman arus ombak untuk ke tepi. Ombak memang tidak kompromi dengan keadaan, kami terus dihantam hingga semua kelelahan.

Sinyal Penolong

Pagi pukul 05.00 WIB, kami shalat subuh berjamaah. Ombak mulai tenang. Kami mencoba bersenda gurau, saling bertanya apa wasiat yang mau ditulis untuk keluarga kalau ditakdirkan syahid?

Seorang rekan relawan, Robby, mengeluarkan handpone yang tidak berguna karena tidak ada sinyal. “Jaringan komunikasi di Indonesia masih sempit belum meluas, harus diperbaiki nantinya supaya mudah memberikan informasi,” ujarnya sambil menggerutu.

Ia lalu memutar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang dibacakan dengan murotal. Subhanallah syahdu, damai, dan tenang sekali, ditambah terpaan semilir angin Samudera Hindia. Fikiran kami melanglang buana memikirkan orang-orang terkasih di Jakarta. Semua diam menghayati lantunan ayat-ayat suci Al –Quran.

Tiba-tiba, ada suara yang mengganggu keheningan kami. Semua saling memandang dan berteriak “Sinyal…!! Alhamdulillah ada sinyal…!!!“ Semua tertegun takjub. Fathy mencoba mengecek HP tersebut, dan memang benar. Adalah SMS yang menandakan bahwa ada sinyal. Kami pun mencoba mengaktifkan handphone masing-masing, tapi tidak ada sinyal. Fathy langsung mengirimkan SMS ke nomor MER-C Jakarta dari HP Robby sebelum sinyal hilang lagi.

"SOS, kami dari MER-C, empat relawan dan anak buah kapal (ABK) terdampar dari kemarin (Minggu, 21/11) siang jam 14.00 WIB. Mesin kapal rusak. Sampai saat ini lepas jangkar di laut lepas, Samudera Hindia," demikian bunyi pesan singkat (SMS) kami. Juru kemudi juga memberikan pesan singkat ke keluarganya di Sikakap. “Segera jemput kami, jangan lupa bawa makanan dan minuman,” isi SMS terakhir kami, dan itu sinyal terakhir pula.

Segala puji bagi Allah SWT,  sinyal hanya bertahan 10 menit, setelah itu tidak ada. Pukul 12 siang, akhirnya kami ditemukan oleh keluarga juru kemudi. Mereka datang membawa satu kapal dan menarik kapal kami ke Sikakap. Alhamdulilah, sore itu kami tiba di Sikakap tanpa kurang satu apa pun.

‘Cuma itu saja?’

Perjalanan ternyata belum berakhir, di basecamp kami didatangi beberapa NGO di Mentawai untuk menanyakan kabar. Bahkan ada dari pihak Bupati yang mengabarkan kalau malam ini kami akan disidang perihal terdamparnya kami.

Ba`da shalat Maghrib kami mendatangi kantor Kecamatan. Di sana sudah hadir Wakil Bupati dan beberapa pihak militer. Mereka menayakan bagaimana kejadian sebenarnya. Salah satu tim MER-C, Mustafa, mencoba menjelaskan dengan sederhana. Tiba-tiba penjelasan Mustofa dipotong dengan lontaran pertanyaan, “Apa yang kalian lakukan di sana dan apa yang kalian berikan di sana?”

Belum selesai penjelasan kami, Pak Wakil Bupati memotong lagi, “Berapa ton yang kalian bawa? 10 ton? 20 ton?”

Sejenak kami tertegun mendengar pertanyaan ini, kami hanya menjawab, “Kami tidak membawa berton-ton pak. Saat itu hanya satu kapal beserta barang bantuan dan satu tim medis.”

“Cuma itu saja? Bagaimana bisa menolong kalau yang dibawa cuma segitu saja,” tanyanya lagi.

Pertanyaan yang satu ini benar-benar membuat kami kaget, bangkitlah emosi kami. Saya langsung melancarkan pertanyaan balik, “Ada berapa ratus dokter di Mentawai? Ada berapa ratus perawat di Mentawai? Ada berapa ribu ton logistik bantuan di Mentawai? Kenapa tidak ada satu pun dokter atau pun perawat bahkan barang bantuan yang sampai ke Tumale, Eruk Parabuat dan Eruk Purorogat?” Beliau hanya menjawab, “Kami sedang proses untuk ke sana.“

Cukup…!! Kami tidak mau melanjutkan pembahasan ini. Intinya kami disalahkan karena tidak ada kordinasi tentang keberangkatan kami. Tetapi, dengan kordinasi dengan pemerintah, mungkin kami belum sampai ke Tumale dan Eruk Purorogat dan melihat langsung apa yang terjadi serta apa yang sangat dibutuhkan warga di sana.

Pulang dari kantor Kecamatan, kami mengadakan rapat kecil guna membahas mengevakuasi masyarakat di Eruk Purorogat. Alhamdulillah, keputusan bulat dan kita mencoba bekerja sama dengan NGO lain yang siap membantu memfasilitasi kapal besar.

Perjalanan tersebut bukan yang terakhir. Terkatung-katung di samudera Hindia tidak membuat kami kapok. Kami terus berlayar guna menyampaikan amanah kepada korban tsunami di Mentawai yang membutuhkan, di antaranya Desa Parak Batu (Pagai Selatan), Desa Boriei (Pagai Selatan), Mabolak Selatan  (Pagai Selatan bagian Timur), Mangkabakha (Pagai Selatan bagian Timur), Desa Silaoinan  (Pagai Selatan), Desa Mapinang dan Mabulo Buggei (Pagai Utara), desa Tubeuket (Pagai Utara-Selatan) dan desa Maonai (Pagai Selatan).


Kamal Putra Pratama
Relawan Medis MER-C







Rubrik ini bekerja sama dengan komunitas relawan AlamSemesta.
AlamSemesta Institute didukung oleh Mer-C dan Wanadri.


Redaktur : Johar Arif
2.261 reads
Rasulullah SAW melarang membunuh hewan dengan mengurungnya dan membiarkannya mati karena lapar dan haus.((HR. Muslim))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
  abu zahwa Jumat, 3 Februari 2012, 01:42
subhanallah... sukarelawan mer-c emang layak di ajungi jempol...
  bayu Sabtu, 28 Januari 2012, 09:35
sungguh dramatis sekali.. karena saya jg pernah menjadi rekawan ketika tsunami terjadi.. dan memang sambutan dari pejabat disana terkesan tidak acuh.. seakan tidak menghargai perjuangan yg kita lakukan.. mdh2an Allah SWT selalu memberikan ketabahan kepada penduduk mentawai.. amiiiin
  sukma hamsyi Sabtu, 21 Januari 2012, 21:41
salut buat tim mer-c,,, dari semua informasi dan kisah2 perjuangan para dokter2 mer-c emang di patut di acungkan jempol ! subhanallah !
  hasuri Jumat, 20 Januari 2012, 18:08
subhanallah..Allahuakbar..!! niat baik kadang selalu ada rintangan yang besar..niat buruk malah lbih mudah di lakukan..tapi yakinlah kawan team Mer-c..pertolongan dari Allah akan selalu datang untuk umatnya yang mau membantu sesamanya..amin
  jauza afraa Jumat, 20 Januari 2012, 17:05
kisah yang menyentuh..saya suka baca artikel ini
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...