Senin , 04 December 2017, 03:07 WIB

Festival Melanesia Nusantara Siap Digelar 2018

Red: Yudha Manggala P Putra
Republika/C13
Jumpa pers Festival Melanesian di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
Jumpa pers Festival Melanesian di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI

REPUBLIKA.CO.ID,8 JAKARTA -- Komunitas Tiga Batu Tungku siap menggelar Festival Seni dan Budaya Melanesia Nusantara dengan tagline "Dari Melanisia untuk Indonesia Raya" pada 2018.

Festival tersebut rencananya akan dilaksanakan bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional Mei 2018, berdasarkan keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Ahad (3/12).

Kesepakatan tersebut dicapai setelah Komunitas Tiga Batu Tungku yang mewadahi elemen masyarakat Papua, Maluku, dan NTT, mengadakan jamuan makan malam dengan sejumlah tokoh dari Indonesia Timur di antaranya Komarudin Watubun (tokoh Papua), Ivan Nestorman (NTT), Glenn Fredly (Maluku), Berty Fernandes (NTT), Servas Pandur (NTT), Gabriel Mahal (NTT), dan lain-lain.

Sebelum acara Festival Seni dan Budaya Melanesia 2018, Komunitas Tiga Batu Tungku akan menggelar acara Karnaval Tiga Batu Tungku di Bundaran HI Jakarta medio Februari 2018. Koordinator Tiga Batu Tungku, Matias Mboi menjelaskan prosesi karnaval budaya ini diisi dengan parade budaya Tiga Batu Tungku dari tiga penjuru menuju bundaran Hotel Indonesia.

Ia mengatakan perwakilan dari setiap daerah menuangkan air dan tanah di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta sebagai ekspresi rasa cinta akan tanah Air Indonesia. Adapun air, tanah dan batu ini diambil langsung dari mata air dan tanah yang ada di masing-masing daerah yaitu Papua, Maluku dan NTT.

"Usai prosesi ini dilanjutkan dengan membentangkan spanduk yang bertuliskan Dari Melanesia untuk Indonesia Raya sebagai tanda peluncuran Festival Melanesia Nusantara 2018," kata Matias.

Lebih lanjut, Matias mengatakan Festival Seni dan Budaya Melanesia ini bertujuan mengangkat seni dan budaya lokal untuk memperkuat kebhinekaan serta semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. "Wilayah Indonesia Timur itu tidak hanya kaya akan sumber daya alamnya, tetapi juga memiliki budaya lokal (local wisdom-nya) yang sangat potensial. Dan ini harus diberdayakan agar memberi warna perekat serta kecitaan bagi bangsa ini," ujarnya.

Sementara itu, musisi senior asal Manggarai, Flores NTT, Ivan Nestorman mengatakan acara festival ini akan diisi dengan parade kolosal seniman dan budayawan Indonesia yang berasal dari Papua, Maluku dan NTT.

Moment tersebut sekaligus menunjukan eksistensi seni dan budaya melanesia di tiga wilayah timur Indonesia di pentas nasional. "Ini ajang etalase seniman dan budayawan Indonesia Timur. Semua pengisi acara nanti adalah putra-putri daerah dari kawasan Melanesia di Indonesia Timur," kata Ivan penuh semangat.

Sementara itu musisi asal Maluku, Glenn Fredly menekankan perlunya mengangkat seni dan budaya ini sebagai bagian dari pergaulan anak-anak melaneal sehingga tetap terjaga nilai-nilai seni dan budaya Indonesia dalam berbagai tantangan perubahan zaman.

"Packaging konsep event festival ini akan mengikuti gaya anak jaman now dan perilaku anak muda melaneal sehingga tidak saja akan melibatkan diaspora Tiga Batu Tungku di Jakarta dan sekitarnya tetapi menjadi bagian dari hajatan anak muda melaneal di Jakarta saat ini," tutur Glenn.

Tokoh senior Komarudin Watubun mengatakan bahwa Festival Melanesia ini harus menjadi sarana komunikasi yang membangkitkan rasa cinta akan budaya lokal sekaligus memupuk kebanggaan sebagai satu bangsa yaitu bangsa Indonesia.

"Saya kira, Festival Melanesia ini sangat penting untuk digelar. Dan sebagai senior, saya memiliki kewajiban moril untuk mensukseskan acara ini demi lahirnya generasi-generasi baru yang tetap mencintai seni dan budaya bangsanya," ucap Komarudin.

Sementara itu pemerhati Budaya, Gabriel Mahal menekankan pentingnya mengangkat seni dan budaya lokal sebagai bentuk diplomasi generasi melaneal dalam merajut semangat persatuan dan kesatuan bangsa. "Karnaval Tiga Batu Tungku dan Festival Melanesia ini harus menjadi sarana komunikasi budaya yang merekatkan rasa memiliki dan cinta akan budaya yang tersebar diseluruh nusantara," ujar dia.

Koordinator Komunitas Tiga Batu Tungku, Matias Mboi menyatakan kesiapannya untuk melakukan koordinasi dengan berbagai elemen demi suksesnya kegiatan ini. "Sebagai putra daerah dari kawasan Tiga Batu Tungku ini, saya siap mengkawal proses kegiatan ini dari sisi manajemen event sehingga kegiatan ini bisa berjalan secara baik, terencana dan terukur," kata dia.

Sumber : Antara