Senin , 23 Oktober 2017, 17:49 WIB

Komunitas Tembang Balada Franky & Jane Gelar Gathering

Red: Hazliansyah
ist
Ketua Komunitas Tembang Balada Franky & Jane (TBF&J), Darul Farhan (kiri), bersama anggota TBF&J Vira dan Johnny Sahilatua (kanan) menyanyikan lagu karya Franky & Jane di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur
Ketua Komunitas Tembang Balada Franky & Jane (TBF&J), Darul Farhan (kiri), bersama anggota TBF&J Vira dan Johnny Sahilatua (kanan) menyanyikan lagu karya Franky & Jane di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Komunitas Tembang Balada Franky & Jane menggelar acara gathering yang dihadiri lebih dari 150 penggemar musik balada, Ahad (22/10) kemarin di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Dalam acara itu, komunitas TBF&J menyanyikan lagu-lagu Franky dan Jane, antara lain Bis Kota, Musim Bunga, Lelaki & Rembulan, dan Perahu Retak. Seluruh anggota komunitas bergantian naik ke panggung untuk bermain alat musik dan bernyanyi. Dalam acara itu, hadir pula komunitas Koes Plus dan komunitas Ebiet G Ade.

“Sebagai generasi penerus, saya merasa bertanggung jawab untuk melestarikan lagu balada Franky & Jane. Salah satu upaya kami untuk melestarikannya adalah dengan menggelar acara gathering komunitas TBF&J,” ujar Ketua umum komunitas Tembang Balada Franky & Jane (TBF&J), Darul Farhan.

Darul Farhan mengatakan, lagu karya almarhum Franky sangat unik dan masuk kategori legenda. Darul Farhan menjelaskan, Franky Hubert Sahilatua lahir di Surabaya, Jawa Timur, 16 Agustus 1953 dan meninggal dunia di Jakarta, Indonesia, 20 April 2011 pada umur 57 tahun.

Franky meninggal dunia di RS Medika Permata Hijau, Jakarta pada pukul 15.15 WIB akibat kanker sumsum tulang belakang

Franky adalah penyanyi balada berdarah Maluku asal Surabaya, Indonesia. Dia adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara, yang di antaranya adalah Jane Sahilatua dan Johnny Sahilatua. Namanya dikenal publik sejak paruh kedua dekade 1970-an, ketika dia berduet bersama adiknya, Jane Sahilatua, dengan nama Franky & Jane.

“Duet ini sempat menghasilkan lima belas album, semuanya di bawah Jackson Record,” jelas Darul Farhan.

Duet itu mengakhiri kerja samanya. Sebab, Jane kemudian menikah dan hendak memusatkan diri pada keluarga. Sedangkan, Franky lebih banyak bersolo karier.

 Pada 2006, Franky diangkat menjadi duta buruh migran Indonesia bersama Nini Carlina oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI).

Lirik lagu karya Franky pada masa Franky & Jane cenderung pada pemujaan alam pada awalnya. Misalnya, pada lagu Musim Bunga dan Kepada Angin dan Burung-Burung. Namun, seperti kebanyakan penulis lagu balada lain, Franky gemar pula bercerita mengenai kehidupan orang sehari-hari, seperti Perjalanan atau Bis Kota.

Franky pernah menulis dan menyanyikan lagu-lagu soundtrack untuk film Ali Topan.

“Sejak dasawarsa 1990-an hingga dua tahun menjelang meninggalnya, Franky banyak terlibat dalam aksi-aksi panggung bertema sosial dan nasionalisme. Dia aktif terlibat dalam masa peralihan politik dari Orde Baru menuju Reformasi, penentangan RUU APP, serta gerakan anti globalisasi,” ujar Darul Farhan.

Johnny Sahilatua, adik kandung Franky nomor enam mengucapkan rasa bahagianya atas kegiatan ini.

“Saya merasa bahagia atas kegiatan ini. Sebab, teman-teman masih menghargai dan mengenang Franky. Semoga ke depan, kegiatan seperti ini dapat terus berlangsung,” ujar Johnny.

Ia menjelaskan, dirinya adalah anak keenam dari pasangan Hubert Johanes Sahilatua dan Theodora Juveva Sahilatua.

“Kakak pertama saya adalah FBA Sahilatua, Anthony Wellem Sahilatua (alm), Franky Sahilatua (alm), Jane Sahilatua, Linda Sahilatua, dan adik saya adalah Mellanie Sahilatua,” jelas Johnny.