Ahad , 04 June 2017, 20:33 WIB

Dompet Dhuafa Galang Kepedulian Bagi Marawi

Red: Hiru Muhammad
dok Dompet Dhuafa
Para penguingsi di Marawi, Filipina Selatan
Para penguingsi di Marawi, Filipina Selatan

REPUBLIKA.CO.ID, MARAWI,-- Konflik bersenjata dan krisis kemanusiaan di Marawi, Filipina Selatan telah merusak ketenangan umat muslim setempat menjalankan ibadah Ramadhan. Lebih dari 100.000 jiwa mengungsi di 38 titik di Illigan, 66 jiwa dinyatakan hilang, dan sekitar 200.000 jiwa terjebak dalam konflik dan krisis kemanusiaan tersebut.

Arif R Haryono, selaku manager social development Dompet Dhuafa, melalui keterangan tertulisnya Jumat (2/6) menyatakan konflik ini  telah membuat lebih dari 100.000 jiwa mengungsi di 38 titik, dan tak kurang dari 200,000 jiwa terperangkap di kota Marawi. Dompet Dhuafa sebagai lembaga kemanusiaan menyerukan kepada segenap lembaga kemanusiaan di Indonesia dan dunia untuk segera membantu pengungsi di Marawi. 

Para pengungsi membutuhkan bantuan makanan, kesehatan, dan perlindungan di lokasi penampungan pengungsi. Logistik lain seperti kelambu nyamuk, alas tidur, selimut dan kebutuhan dasar anak-anak, serta lansia tentu perlu menjadi perhatian. "Dompet Dhuafa telah membangun komunikasi dengan mitra lokal untuk mendapatkan gambaran singkat atas kebutuhan pengungsi," katanya.

Pihaknya akan menurunkan tim kemanusiaan dan bantuan bahan makanan,  kesehatan, dan kebutuhan lain di lokasi pengungsian. Selain itu, tim akan membangun komunikasi dengan sejumlah pemangku kepentingan (institusi pemerintah, INGO, local leader di wilayah-wilayah pengungsian). Tentu dengan harapan dapat meredam konflik tersebut," kata Arif. 

Selain itu, Dompet Dhuafa juga mengajak sejumlah lembaga yang ada untuk dapat bekerja aktif menurunkan tensi konflik yang ada. Sehingga kondisi di Marawi dapat dengan cepat pulih, sehingga saudara muslim di sana menjalankan Ramadhan lebih khusyuk. "Kita tidak bisa diam akan konflik di Marawi karena kepedulian kita memberikan asa bagi mereka," katanya.

Berita Terkait