Jumat , 02 June 2017, 14:27 WIB

KWG Jadi Wadah Para Pebisnis Alumni Gonzaga

Red: Hazliansyah
Republika/Desy Susilawati
para anggota Komunitas Wirausaha Gonzaga
para anggota Komunitas Wirausaha Gonzaga

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komunitas Wirausaha Gonzaga (KWG) berdiri tahun 2013. Saat itu sang inisiator, Bambang Mukti Nugroho mempunyai sebuah mimpi. Ia ingin mendirikan sebuah wadah untuk menampung para pebisnis atau wirausahawan yang merupakan alumni sekolah Gonzaga, Jakarta Selatan.

“Saya kepikiran kita ini sedang menghadapi persaingan global, bagaimana caranya memperkuat koneksitas teman-teman terdekat dulu. Saya angkatan pertama Gonzaga, lebih gampang garapnya, karena paling senior, kita buat Komunitas Wirausaha Gonzaga. Ini adalah satu-satunya wirausaha alumni SMA yang bisa dapat angkatan 1 sampai angkatan 27,” ungkapnya kepada Republika.co.id di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, kekuatan bisnis KWG ada pada jejaring (networking). Dimana alumni Gonzaga mempunyai produk dan yang dibutuhkan adalah pasar (market). Bambang melihat para anggota KWG sesama alumni merupakan market utama.

“Konsepnya kesana. Kami lebih mengutamakan produk-produk internal. Misalnya ada yang butuh percetakan, kenapa tidak bantu teman sendiri. Harga professional, kalau bagus negosiasi. Bagaimana bisa perform, ketepatan waktu dan lainnya,” paparnya.

Hingga saat ini dari 4.000 alumni Gonzaga, yang menjadi wirausaha dan terdaftar dalam komunitas ini baru sekitar 200 orang. Mereka memiliki berbagai macam usaha, mulai dari food and beverages, fashion, percetakan, dan usaha lainnya.

Dari masing-masing angkatan alumni, terdapat satu orang penanggung jawab angkatan atau PIC. Mereka juga dibantu dengan sosial media.
“Kita mencoba menjadi sales company-nya, di internal maupun keluar," tambahnya.

Untuk mendukung kegiatan komunitas, Bambang mengatakan KWG kerap memberikan pelatihan pada anggota. Seperti pelatihan membuat kontrak kerja yang bagus seperti apa atau trik agar bisnis berjalan lancar. "Narasumbernya langsung dari sesama pebisnis di komunitas tersebut," kata dia.

Kegiatan lainnya adalah kumpul rutin di sekretariat KWG di kafe bisnis, Kedai 54, kawasan Jeruk Purut, Jakarta Selatan milik Bambang. Dalam kumpul-kumpul ini juga dilakukan sharing mengenai bisnis.

Baru-baru ini mereka juga menyelenggarakan KWG Fair. Sebuah pameran yang menampilkan produk dari semua anggota KWG pada 20 hingga 21 Mei 2017 lalu di One Ball Park, Jakarta.

Kegiatan lainnya adalah membangun kemitraan dengan pihak ketiga. Seperti BRI terkait pembiayaan atau GoPay untuk proses pembayaran.
Selama empat tahun, menurut Bambang, peluang komunitas ini semakin besar. Meski pada awalnya banyak yang meragukan dirinya.

“Ini apa sih maksudnya, mau main politik atau apa. Tapi untuk mengatasinya saya konsisten saja. Organisasi itu ketika bisa memberikan manfaat pada anggota, baru diminati. Jadi tantangannya adalah bagaimana KWG ini bisa memberikan manfaat pada teman-teman,” ujarnya.

Menurutnya, komunitas ini akan terus berjalan apabila bisnisnya terus berjalan.

“Pada pelaksanaannya pro dan kontra biasa. Setelah masuk 2017 ini, mulai banyak yang mengerti, oh gambarannya seperti ini, akhirnya muncul ide-ide baru, teman-teman baru memperkuat gagasan yang sudah ada,” ujarnya.

Berita Terkait