Jumat , 17 Februari 2017, 10:53 WIB

SDF Salurkan Beasiswa Bagi Umum, Penyandang Autoimun, dan Disabilitas Netra

Red: Agus Yulianto
Republika/Edi Yusuf
Ketua SDF Dian Syarief
Ketua SDF Dian Syarief

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Sebanyak 52 orang mahasiswa dan pelajar, besok akan menerima beasiswa dari Syamsi Dhuha Foundation (SDF) – LSM nirlaba peduli Lupus dan Low vision yang sedang bertransformasi menjadi social enterprise. Beasiswa diberikan kepada mahasiswa dan pelajar umum, juga kepada penyandang autoimun dan disabilitas netra.

Mereka diseleksi berdasarkan prestasi akademik dan membutuhkan dukungan finansial untuk kelancaran studinya. Mereka tidak hanya berasal dari Bandung dan berbagai kota di Jawa Barat, namun juga dari Solo, Lamongan, Kediri, Surabaya, Mataram dan Pontianak.

Simbolisasi penyerahan beasiswa dilakukan oleh Eko Pratomo (Pendiri SDF) dan dihadiri pula oleh wakil dari Lembaga Kemahasiswaan (LK) ITB sebagai mitra, para alumni penerima beasiswa dan relawan SDF, serta Ir Elia Massa Manik, Direktur Utama PTPN III Holding, yang juga alumni TL’83 ITB sebagai pembicara tamu.

“Selain di bidang kesehatan, kebermanfaatan SDF pun ingin ditebarkan di bidang pendidikan," kata Dian Syarief, Ketua SDF yang juga alumni FA’83 ITB serta penyandang Lupus dan Low vision, dalam keterangannya yang diterima Republika.co.id, Jumat (18/2).

Kebermanfaatan di bidang pendidikan ini, kata Dian, adalah hasil kerja sama dengan LK ITB sejak 2012 lalu. Bahkan, pihaknya telah merealisasikan sebuah skema beasiswa yang tak hanya berikan bantuan biaya hidup, tapi juga kesempatan bagi para penerimanya untuk dapat mengikuti berbagai pelatihan dan sesi motivasi serta mengasah kepekaan sosialnya melalui berbagai program yang ada di SDF.

Dengan demikian, diharapkan para mahasiswa dan pelajar ini tak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga secara emosional dan spiritual. “Tahun ini jumlah penerima beasiswa khusus meningkat 3 kali lipat dibanding tahun lalu, dari 12 orang menjadi 36 orang, mulai dari SD hingga perguruan tinggi,” tambah Dian.
 
Lebih jauh Eko Pratomo mengatakan, melewati 1 dekade pergerakan SDF, pihaknya berusaha untuk bertransformasi menjadi lembaga wirausaha sosial yg dapat mandiri secara finansial. Sehingga, hal itu dapat menjamin keberlangsungan SDF dan dapat terus menambah kebermanfaatan bagi banyak orang. "Untuk itu kami terus berupaya memberdayakan para penyandang autoimun, disabilitas netra dan keluarganya agar disamping survive juga bisa produktif. Para relawan pun terlibat aktif dalam proses tranformasi ini bersama stakeholders SDF lainnya," ujarnya.