Rabu, 24 Syawwal 1435 / 20 Agustus 2014
find us on : 
  Login |  Register

Omerta (catatan sepakbola)

Selasa, 03 Juli 2012, 23:34 WIB
Komentar : 0
Reuters/Giampiero Sposito
Suporter timnas Italia terdiam lesu usai tim kesayangan mereka kalah 0-4 dari Spanyol di final Piala Eropa 2012.
Suporter timnas Italia terdiam lesu usai tim kesayangan mereka kalah 0-4 dari Spanyol di final Piala Eropa 2012.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Abdullah Sammy (wartawan Republika)

Tradisi omerta menjadi sebuah prinsip yang dipegang teguh oleh setiap mafia Italia. Omerta (hukum tutup mulut) jadi senjata untuk menutupi betapa besar kekuatan sebuah kelompok mafia. Hukum omerta membuat keluarga Corleone jadi salah satu mafia terbesar di New York.

Dalam novel The Godfather, terlukiskan sosok Vito Corleone yang mampu menjaga “kesucian” mulutnya. Dari tutur kata, Vitobagaikan dewa. Namun semua jadi kamuflase Vito demi memperkuat kedudukannya sebagai raja mafia.

Penggalan kisah Godfather di atas tentu sudah mengelotok di kepala 23 pemain sepak bola Italia. Mereka sudah hafal di luar kepala makna omerta yang mampu membuat kelompok mafia bisa menjaga kesolidannya sebagai sebuah “tim”.

“Hukum menjaga mulut” omerta pun kerap ditiru oleh tim Azzurri kala menghadapi kejuaraan sepak bola. Mulut pemain Italia kerap terkunci ketika rapat ditanya seputar persiapan tim.

Skuat piala Dunia 2006 contohnya yang tidak ada satupun pemain berani nyaring bersuara. Saat itu, Francesco Totti cs senantiasa “bersuara rendah” soal peluang di Piala Dunia. Mulut mereka tertutup saat kritik senantiasa menerpa Italia terutama di tengah badaicalciopoli.

Pemain Italia 2006 hanya bersuara nyaring ketika bertarung dalam 90 menit pertandingan. Sebuah sikap yang akhirnya mengantarkan Azzurri jadi juara dunia 2006, tanpa seorang pun menduga. Namun omerta seperti sudah ditinggalkan skuat Italia di Piala Eropa 2012.

Para pemain Azzurri melanggar prinsip untuk menjaga rapat suara.

Sebagai contoh, seorang Andrea Barzagli melanggar omerta saat membocorkan strategi empat bek Azzurri jelang laga melawan Republik Irlandia. Bocornya strategi Italia lewat suara sang pemain, sempat menjadi perbincangan luas sejumlah media Italia.

Hukum Omerta makin tidak terlihat ketika Italia memasuki laga final Piala Eropa melawan Spanyol. Di tengah sanjung puji media akan penampilan Azzurri melawan Jerman, pemain pun makin lupa arti hukum tutup mulut. “Spanyol adalah tim kuat tapi kami tahu cara mengalahkannya,” ujar gelandang Italia, Claudio Marchisio, sehari jelang final di Kiev.

Di pihak lain, Spanyol (lawan Italia di final) mengerti betul cara memegang prinsip. Prinsip pulalah yang menjadi rahasia seorang VitoCorleone jadi mafia terhebat, Godfather.

Laiknya seorang Vito Corleone, pelatih Spanyol bernama Vicente Del Bosque setia memegang memegang teguh prinsipnya kendati dinilai luar kelaziman. Dalam menjalankan “bisnsinya” di lapangan hijau sepak bola, Del Bosque tidak pernah sekalipun meninggalkan ciri sepak bola menyerang. Gaya yang masih jadi nafas tiki taka di Piala Eropa 2012.

Namun hal yang di luar kelaziman dia lakukan dengan tidak memainkan satupun penyerang di laga pembuka grup C lawan Italia. Hasilnya, Spanyol dikritik karena ditahan imbang Italia 1-1.

Kritik ditanggapi Del Bosque dengan mulut yang tertutup. Omerta mampu dia jaga dihadapan media. Namun semua itu tidak mampu menggoyahkan prinsipnya akan strategi menyerang tanpa seorang pun penyerang.

Kendati kritik datang semakin kencang usai timnya hanya mampu menang adu penalti atas Portugal di semifinal, Del Bosque takbergeming. Seperti seorang Godfather sejati, dia berjalan tenang memimpin Spanyol menghadapi Italia yang bermandi sanjung dan puja.

Sikap jaga mulut dari sang bos juga jadi teladan para pemain Spanyol. Sejatinya, punggawa La Furia Roja bisa buka suara untuk menepis penilaian media bahwa tiki taka yang membosankan. Tapi xavi Hernandez cs memilih jalan omerta untuk menutupi kekuatan mereka yang sesungguhnya.

Hukum omerta pun berlaku. Dengan rapat menutup mulut, kesolidan Spanyol sebagai sebuah tim tetap terjaga. Sedangkan bagi Italia, kata yang terungkap justru membunuh mereka.

Jangankan melumpuhkan Spanyol seperti yang diutarakan Marchisio, para pemain Azzurri tidak mampu menjaga gawangnya dari jumlah kebobolan yang besar. Saat godot tiba, Italia dihabisi Spanyol empat gol tanpa balas!

Hukum omerta dirasakan 23 putra Italia. Seperti kisah mafia, siapa yang melanggar omerta sudah dipastikan dia akan mendapat ganjarannya; kematian.

Sebaliknya Del Bosque laiknya seorang Godfather mafia Italia sesungguhnya. Dia habisi musuh utama tanpa banyak bersuara.

“Balas dendam adalah hidangan terlezat bila disajikan dalam keadaan dingin” (Novel The Godfather halaman 618)

Redaktur : M Irwan Ariefyanto
Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan merupakan sedekah((HR Tirmidzi))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar