Sabtu , 13 January 2018, 06:01 WIB

Setiap Jengkal Bumi-Nya adalah Masjid

Red: Elba Damhuri
Daan Yahya/Republika
Asma Nadia
Asma Nadia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Asma Nadia

Alhamdulillah, enam puluh dua negara, 370 kota telah Allah perkenankan saya jelajahi. Di manakah saya pernah mengalami teguran ketika shalat? Bagi setiap Muslim, ada keringanan khusus untuk menegakkan rukun Islam tersebut.

Jumlah rakaat yang dapat disingkat. Dua waktu shalat pun boleh digabungkan. Bahkan saat safar, shalat bisa dikerjakan dalam kendaraan. Tetapi, ada situasi darurat di mana seorang Muslim terpaksa shalat di tempat apa pun yang memungkinkan. Rasulullah pernah mengatakan bahwa bumi Allah adalah masjid, kecuali kuburan dan kamar mandi.

Di buku The Jilbab Traveller, antologi kisah perjalanan bersama Muslimah berjilbab ke-16 negara, mereka di antaranya berbagi pengalaman wisata halal. Selain tips menemukan makanan halal, juga bagaimana menyiasati shalat. Membuka cerita, tempat-tempat yang biasanya digunakan ketika tidak menemukan masjid terdekat.

Khususnya saat berjalan di negara Muslim minoritas. Beberapa pilihan: taman, pojok museum atau restoran, sampai kamar pas pakaian pada pertokoan besar yang biasanya memiliki toilet untuk berwudhu. Di Seattle, saya pernah diajak shalat di toilet mewah yang memang memiliki ruang tunggu dengan sofa dan karpet tebal. Memahami karakter tempat yang dipilih untuk shalat merupakan hal penting.

Selain beberapa pertimbangan lain sebelum menggelar sajadah lipat ringan yang belakangan saya produksi untuk memenuhi kebutuhan Muslim dan Muslimah travelker. Memilih tempat yang agak tersembunyi atau jarang dilewati, hingga tidak menarik perhatian dan tidak mengganggu lalu lintas orang.

Menjaga kebersihan dan kerapian kamar mandi saat wudhu. Termasuk mengelap dengan tisu jika selama berwudhu kamar mandi menjadi becek. Prinsipnya seorang Muslim/Muslimah merupakan rahmatan lil ‘alamin yang keberadaannya tidak boleh membuat keadaan atau suatu tempat menjadi lebih buruk.

Pengalaman shalat di berbagai tempat ini biasanya tidak ada masalah. Jika memungkinkan, saya meminta izin. Namun, ketika merasa tempatnya tersembunyi, alias nyaris tidak dilewati orang, biasanya saya langsung menggelar sajadah.

Sebelumnya, saat berwudhu kepada petugas yang menjaga dan membersihkan kamar mandi, saya memberi pendahuluan bahwa saya akan berwudhu, tetapi akan memastikan lantai dan wastafel tetap kering setelahnya. Ditambah sedekah atau memberi tip dengan harapan semoga ini menjadi sosialisasi yang kelak memudahkan Muslimah yang mampir dan berwudhu di sana.

Kembali ke paragraf awal, lalu kapankah soal shalat ini menjadi sensitif? Lima benua yang sempat dijejaki alhamdulillah baik. Satu-satunya negara di mana saya pernah mengalami teguran terkait shalat, bahkan sebelum berniat adalah Spanyol. Tepatnya di Mezquita-Catedral de Cordoba.

Barangkali karena saya berjilbab dan meski tidak berfungsi sebagai tempat ibadah, toh khalayak dunia tahu bangunan tersebut sebelum awalnya merupakan masjid atau dikenal Great Mosque of Cordoba. Ketika waktu shalat tiba saya melipir ke stasiun kereta, berniat mendirikan shalat di ruang tunggu. Namun, meski meminta izin, ternyata hal tersebut tidak memungkinkan. “Tidak boleh shalat di sini.”

Ketika saya melemparkan pertanyaan lanjutan di mana saya mungkin shalat, si petugas mengangkat bahu. Singkat cerita akhirnya usai berwudhu, saya menggelar sajadah lipat di sisi peron di antara suara kereta yang melintas. Kenangan tersebut saya kira menjadi satu-satunya momen saya tidak diizinkan shalat.

Padahal di sebuah museum di Vancouver, Kanada, petugas penjaga keamanannya malah mengiringi langkah saya mencari tempat untuk shalat, meskipun dia non-Muslim. Pun, di sebuah ruangan kecil tersembunyi di balik penitipan jaket di salah satu museum di Oslo.

Mengapa tidak? Praktik shalat hanya beberapa menit, tidak dibutuhkan area luas, dan tidak menimbulkan kebisingan. Mungkin itu pertimbangan mereka selain shalat merupakan kegiatan ibadah yang seyogianya sesama makhluk Allah saling menghormati dan memberi ruang.

Ternyata, pengalaman di Cordoba bukan satu-satunya yang saya alami. Beberapa waktu lalu saya menjenguk Adam, ananda yang belajar sepak bola di sebuah akademi di Valencia.

Mengingat masa liburan, saya dan Adam sempat ke Madrid selama sehari dan berkunjung ke beberapa tempat wisata. Salah satunya Palacio Real atau Royal Palace of Madrid. Rencananya, kami akan shalat di hotel, namun khawatir kehilangan Ashar, saya mengajak ananda melakukan shalat di sudut buntu, tersembunyi monumen, dan lalu lalang orang yang keluar setelah selesai wisata akan berada jauh di belakang kami.

Saya lebih dulu mengerjakan shalat jama takhir Zuhur dan Ashar, ketika Adam berwudhu. Baru satu rakaat, terdengar suara lelaki menegur. Saya putuskan meneruskan shalat. Sewaktu selesai demi melihat tidak ada siapa-siapa di sekeliling, saya lanjutkan shalat berikutnya dua rakaat.

Setelah usai, saya minta Adam segera melakukan shalat sementara saya berjaga. Benar saja tidak lama muncul seorang lelaki kurus tinggi--sesama pengunjung sepertinya--diiringi petugas keamanan perempuan yang dia panggilkan. “This is not a place for praying.

Saya jelaskan bahwa Muslim boleh shalat di mana saja selama bersih dan ini pun terpaksa karena khawatir terlewat kewajiban shalat. Orang tersebut menggeleng. Tetap bersikeras tidak boleh shalat. Saya sempat bertanya apakah ada larangan tertulis. Lelaki tersebut menjawab, tidak. Tapi, ini tempat publik.

Menurutnya, shalat kami bisa menyinggung perasaan pemeluk agama lain dan sama saja tidak menghormati penganut agama berbeda. Saya--masih mengulur waktu--menegaskan, jika Anda mau beribadah di sini sesuai kepercayaan Anda, saya tidak akan keberatan.

Lagi pula saya dan Adam sebelumnya mempertimbangkan lokasi shalat dengan cermat agar tidak mengganggu orang lain. Dan, terbukti tidak ada yang keberatan, bahkan sang petugas keamanan bisa mengerti. Apalagi, hanya aktivitas beberapa menit.

Lelaki yang berbahasa Inggris dan Spanyol tetap bersikeras. Sementara, petugas keamanan kadang membenarkan saya kadang berpihak ke si pengunjung bahwa benar ini tempat umum. Syukurlah tidak lama ananda menyelesaikan shalatnya. Adam dengan bahasa Spanyol, sempat sedikit adu argumentasi.

Intinya, jika ada larangan tertulis, mohon kami diperlihatkan. Terakhir, saya hanya mengucapkan terima kasih kepada si petugas keamanan dan permohonan maaf jika merepotkan--membuatnya terlibat situasi yang tidak mengenakkan.

Dalam perjalanan menuju stasiun kereta, saya dan Adam melanjutkan diskusi. Ada perasaan berduka sebab kedua kali pengalaman teguran shalat ini saya alami, di negeri di mana Islam pernah begitu jaya dan gemilang. Jejaknya pun masih bertebaran di Andalusia.

Saya melihat Adam termangu lama, entah bagaimana perasaanmya, sebelum kemudian bertanya, “Jika tadi bukan Mama, bukan Adam, tapi Christiano Ronaldo yang shalat, misalnya, apakah lelaki tadi akan tetap mempersoalkan, Ma?”