Kamis , 02 November 2017, 05:31 WIB

Jaringan Keilmuan Indonesia-Mesir (4)

Red: Elba Damhuri
Republika/Daan
Azyumardi Azra
Azyumardi Azra

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Azyumardi Azra

Pertumbuhan komunitas murid Jawi di Kairo tidak lepas dari intipan pemerintah kolonial Belanda. Sedangkan, masyarakat Jawi di Hijaz telah lama menjadi pengawasan Belanda. Untuk kepentingan itu, Christiaan Snouck Hurgronje bermukim di Jeddah guna kemudian masuk ke Makkah; dia dibantu Abou Bakar mengumpulkan informasi tentang masyarakat Jawi di Hijaz.

Hasilnya, antara lain, adalah Tarajim `Ulama Jawi yang menjadi bahan utama Snouck untuk menulis riwayat sejumlah ulama Jawi dalam karyanya, Mekka in the Latter Part of the Nineteenth Century. Namun, Snouck sama sekali tidak menyebut dalam karyanya itu nama Abou Bakar yang berjasa besar padanya.

Aboe Bakar tidak lupa mengingatkan Snouck tentang munculnya al-Hijaz al-Jadiddi tempat lain, yang tak lain adalah Kairo, di mana iklim intelektual dan aktivisme Islam jauh lebih terbuka dan bebas. Hasilnya, sejak 1900-an murid Jawi kian banyak di Kairo. Maka pada 1908, Pemerintah Belanda mulai mendaftar nama murid-murid Jawi di Kairo.
Menurut catatan Belanda, murid-murid Jawi di Kairo datang dari berbagai tempat di nusantara; termasuk Lampung, Minangkabau, Sambas (sejak 1910), dan Banten (sejak 1912).

Di antara murid-murid ini juga ada tiga murid keturunan Hadhrami, yang sebelumnya berencana menuntut ilmu di Galatasaray, Istanbul. Ada pula laporan Belanda yang menyatakan, sejak 1900 sampai 1915 seorang ‘Jawi’ bernama Syekh Umar Tabrani mengajar di al-Azhar.

Dia lahir di Tegal pada 1878, putra seorang pedagang, Haji Nawawi. Tabrani diduga sampai di Kairo setelah sebelumnya selama empat tahun belajar di Makkah.

Dengan terus meningkatnya jumlah murid Jawi, riwaq Jawi juga kian sesak; pada 1912 dilaporkan ada 12 murid Jawi yang tinggal di sana. Hal ini mendorong Isma`il `Abd al-Mutalib, syekh riwaq Jawi mengajukan permohonan kepada Kementerian Wakaf Mesir untuk menambah kamar. Permintaan yang disampaikan juga kepada Konsul Belanda di Mesir, Van Lennep, mendapat respons negatif dari Belanda.

Meski ada preseden, pemerintah kolonial Italia membangun riwaq di Kairo untuk murid-murid Muslim yang berasal dari wilayah jajahannya di Eretria dan Tripolitania, Pemerintah Belanda atas saran Snouck Hurgronje menolak melakukan hal serupa. Menurut Snouck, secara sinis ‘aneh jika Pemerintah Belanda sampai mempertimbangkan murid-murid Jawi yang telah menjadi sampah di tempat pengajaran abad pertengahan, seperti Kairo dan Makkah.

Jika Pemerintah Belanda menyediakan asrama bagi murid-murid Jawi di Kairo, sebelumnya Belanda harus juga menyediakan perumahan bagi ribuan masyarakat Jawi di Makkah’.

Menghadapi sikap pemerintah kolonial Belanda seperti itu, murid-murid Jawi tidak punya pilihan lain, kecuali membentuk organisasi tolong-menolong di antara mereka. Organisasi ini terutama bertujuan membantu murid-murid Jawi yang baru datang di Kairo, dan menolong mereka yang telah menjadi mahasiswa di Universitas al-Azhar, tetapi mendapat kesulitan dalam pelajaran mereka.

Maka, organisasi pelajar Jawi yang pertama kali didirikan di Kairo adalah Jami`ah Setia Pelajar yang didirikan pada 1913 dan dipimpin Syekh Isma`il. Pengurus dan sekaligus anggota inti organisasi ini awalnya berjumlah 12 orang.

Sebagaimana dilaporkan al-Munir (Vol 2, No 2, 9 Januari 1913), Jami`ah Setia Pelajar juga menerbitkan majalah al-Ittihad dengan redaksi Ahmad Fauzi Sambas dan Muhammad Fadl Allah bin Muhammad Suhaymi Singapura. Selain mereka, penulis lainnya adalah Muhammad Basyuni dan `Abd al-Wahid `Abd Allah Tapanuli.

Majalah al-Ittihad diedarkan tidak hanya di lingkungan mahasiswa Jawi di Kairo, tetapi juga di Makkah, Semenanjung Malaya, dan Hindia Belanda, sehingga dapat mendatangkan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Jawi Asia Tenggara.

Membantah sinisme Snouck Hurgronje, majalah al-Ittihad dalam edisi pertamanya menurunkan tulisan Fadl Allah dan Ahmad Fauzi yang menyatakan, orang Eropa keliru meremehkan Kairo sebagai pusat belajar bagi murid-murid Jawi. Mereka menyatakan, Kairo memiliki berbagai bentuk dan jenis pendidikan.

Mereka juga mengutip ungkapan yang menyatakan, “Orang yang belum pergi ke Kairo, sesungguhnya belum melihat dunia”. Bagi mereka, Kairo adalah pusat intelektual yang sempurna.

Perang Dunia I memengaruhi pertumbuhan mahasiswa Jawi di Kairo. Kedatangan mahasiswa Jawi ke Kairo berkurang signifikan, sementara mereka yang sedang belajar di negeri ini juga mengalami kesulitan keuangan; uang sulit sekali dikirim dari Tanah Air.

Hal ini mengakibatkan para mahasiswa di Kairo sekali lagi terpaksa meminta bantuan Pemerintah Belanda, termasuk untuk biaya pulang ke Tanah Air. Permintaan ini tidak dipenuhi pemerintah kolonial.

Sebaliknya Khedif Ismail, penguasa Mesir, yang prihatin dengan kesulitan mereka, membantu dengan pemberian makanan roti dan bantuan keuangan sebesar 20 piaster sebulan. Dengan bantuan ini, para murid Jawi bertahan hidup dan terus menuntut ilmu.