Selasa , 19 September 2017, 06:00 WIB

Ateisme di Dunia Arab (II)

Red: Maman Sudiaman
Republika/Daan
Azyumardi Azra
Azyumardi Azra

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Muhamad Ali dengan mengutip sumber-sumber Arab, ateisme biasa dikategorikan sebagai ilhâd, zindiq, lâ dîniyyah, dahriyyah, kufr, irtidâd, dan sebagainya. Untuk masa kontemparer muncul ungkapan al-mulhidûn al-judûd (kaum atieis anyar). Penulis ini juga mencatat bahwa ateisme baru ini melibatkan kalangan terdidik, sastrawan, ilmuwan, baik laki-laki mau pun perempuan. Dikatakan bahwa Dâr al-Iftâh al-Mishriyyah tahun 2014 mencatat 866 ateis di Mesir, tetapi sumbernya tidak jelas, bahkan sumber lain mengatakan jumlah mereka sudah ribuan.

Bagi saya, mengubah diri dari seorang beriman menjadi ateis adalah masalah pilihan dan kemauan bebas seseorang. Ancaman hukuman mati atas orang semacam ini tidak akan pernah efektif, jika ateisme itu telah menjadi pilihan hidupnya. Sudah pasti jika anak saya misalnya berbuat demikian, saya akan menjerit kepada Allah agar dia kembali beriman sebagaimana orang tuanya. Hati ini tidak akan pernah rela jika keturunannya mengikuti jejak Ali Sina yang telah dijatuhi hukuman mati melalui fatwa oleh ulama India.

Keberatan saya kepada Ali Sina dalam karyanya itu adalah caranya yang kasar dalam mencaci maki Alquran dan nabi Muhammad, persis metode kaum orientalis era awal yang menghujat Kitab Suci dan nabi terakhir itu. Andaikata hanya sekadar mengucapkan sayonara kepada Islam, itu adalah hak seseorang. Tetapi ucapan sayonara disertai rasa benci dan maki-maki semestinya tidak dilakukan oleh manusia terdidik. Adab terhadap keyakinan orang lain wajib dijaga. Sikap semacam ini yang tidak ditunjukkan Ali Sina.

Fenomena ateisme di dunia Arab dan di bumi Muslim lainnya perlu disikapi dengan tenang, tetapi waspada. Sikap marah dan ancaman, seperti telah disinggung sebelumnya, tidak akan berhasil. Sejauh mungkin, tunjukkan bahwa Islam itu adalah agama yang lembut, beradab, dan melindungi siapa pun, bukan dengan sikap kejam dan antikemanusiaan yang adil dan beradab. Maka ISIS dan Boko Haram adalah bagian dari misguided Arabism (Arabisme yang kesasar jalan) yang harus ditolak dan dilawan! Munculnya ISIS dan Boko Haram menjadi penyebab lain mengapa penganut ateisme di beberapa negeri Muslim seperti kehilangan pegangan, sementara cara berislam penguasa dan bahkan ulama dinilai tidak lagi menampilkan idealisme Islam yang seharusnya.

Adapun kelompok garis keras itu sering mengutip ayat-ayat perang dalam Alquran yang seluruhnya terlepas dari konteksnya. Maka  Kitab Suci ini telah dijadikan sumber untuk memerangi siapa saja yang berbeda dengan ideologi mereka. Ini adalah krisis identitas, teologis, dan kultural yang parah. Kaum ateis juga terjebak dalam lingkaran penafsiran golongan garis keras ini untuk melepaskan diri dari Islam.

Di antara ateis Arab yang tersohor adalah Zakî al-Arsûzî (1899-1962), filosuf, filologis, dan sejarawan Suria yang di kala kecil sudah hafal Alquran. Karyanya yang terkenal adalah The Genius of Arabic in Its Tongue (1943). Saat dewasa alam fikirannya dipengaruhi oleh Karl Marx, Nietzsche, dan lain-lain, sehingga akhirnya berubah menjadi seorang ateis. Di era digital sekarang ini, orang akan dengan sangat mudah menyerap ide-ide liar, termasuk ateisme, maka jumlah pengikutnya akan selalu membengkak.

Maka tantangan pemeluk beriman menjadi ratusan kali lipat beratnya dibandingkan dengan era seorang al-Arsûzî yang memerlukan tempo cukup lama untuk berubah jadi seorang ateis. Dan tantangan itu terasa semakin berat, jika pemeluk yang mengaku beragama tidak mampu lagi menegakkan prinsip keadilan dan persaudaraan yang sejati di tengah kehidupan kolektif umat manusia. Faktor penguasa dan elite Muslim yang kejam dan korup plus ulama yang kehilangan wibawa telah membuat situasi keagamaan semakin runyam dan ruwet.

Dengan segala kerendahan hati saya mengimbau kepada teman-teman seagama untuk memahami Islam secara benar dan sungguh-sungguh. Jadikan ungkapan rahmatan lil’âlamîn (Alquran s. al-Anbiyâ 107) sebagai filosofi dasar untuk memahami dan menjalankan seluruh kegiatan keagamaan kita. Prilaku yang menyimpang dari jalan lurus itu haruslah ditolak secara berani sebagai sesuatu yang melawan Alquran.

Akhirnya, krisis yang dihadapi sekarang ini bukanlah krisis biasa, tetapi krisis serius yang berdimensi banyak yang tidak selalu gampang difahami. Otak saya yang semakin tua ini belum tentu mampu memahami secara mendalam hakikat krisis yang berada di depan kita semua. Fakta ateisme di dunia Arab boleh jadi hanyalah sebuah gunung es, di bawahnya tersimpan unggukan masalah besar yang tak terselesaikan sekian lama.