Selasa , 12 September 2017, 06:00 WIB

Ateisme di Dunia Arab (1)

Red: Maman Sudiaman
Republika/Daan
Professor Ahmad Syafii Maarif
Professor Ahmad Syafii Maarif

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Jika di belahan bumi Barat, fenomena ateisme itu bukan sesuatu yang asing. Bisa dicari akarnya pada zaman Yunani kuno. Untuk keperluan tulisan ini kita merujuk saja kepada era yang agak baru. Bukankah Friedrich Wilhelm Nietzche (15 Okt. 1844-25 Agustus 1900) pada abad ke-19 dengan lantang mengatakan bahwa tuhan telah mati? Tetapi membaca kebangkitan ateisme sebagai wacana publik di dunia Arab terasa sebagai hal yang baru dan mengagetkan: mengapa orang Arab bisa jadi ateis?

Menurut catatan Muhammad Omar al-Amoudi bahwa sejak beberapa tahun terakhir jumlah kaum ateis di dunia Arab semakin meningkat pada tingkat yang mencemaskan. Ditengarai bahwa ateisme sekarang menyebar di tempat-tempat yang di masa silam merupakan kawasan yang aman. Pemain-pemaian luar tidak diragukan lagi telah turut berperan dalam penyebaran virus ateisme ini melalui TV stelit, website medsos, dan radio. (Lih. “Why are there so many atheists in the Arab world?”

Bahkan ada laporan, kata al-Amoudi, gejala ateisme menjadi biasa di kalangan kaum terdidik, pada umumnya lulusan universitas. Tetapi sejauh ini, dunia Arab belum mengambil tindakan drastis atau melakukan upaya sungguh-sungguh untuk memerangi gelombang ateisme ini. Virus ini tidak saja menyerang Islam, tetapi juga menciptakan kehampaan spiritual di hati rakyat dan mendorong mereka untuk tidak lagi sebagai penyembah Maha Pencipta. “Saya menyaksikan di sebuah negeri Arab,” tulis al-Amoudi, “sudah ada beberapa kafe bagi kaum ateis.”

Ada yang berpendapat, kata al-Amoudi, bahwa munculnya ateisme di sana karena reaksi terhadap pemikiran dan ideologi garis-keras dan ekstrem yang telah menyergap prinsip-prinsip moderasi. Sebagian lagi menyalahkan para sarjana Muslim yang tidak peduli terhadap kekuatan ateisme ini karena mereka lebih memerhatikan isu-isu lain yang tidak begitu penting. Penyebab lain dikaitkan dengan masalah pengangguran, korupsi yang merajalela, dan rezim-rezim penindas yang tak peduli.

Amat disayangkan, tulis al-Almoudi, sebagian besar sarjana tidak memberikan jawaban yang jelas dan sempurna terhadap alasan mengapa jumlah kaum ateis semakin bertambah. Pun para guru tidak menyediakan jawaban yang baik tentang mengapa dunia Arab dilanda oleh kaum ateis yang semakin menjadi-jadi.

Berapa jumlah kaum ateis di dunia Arab? Belum ada angka statistik yang pasti. Brian Whitaker dalam “The rise of Arab atheism” (29 Juni 2015) berdasarkan poling WIN/Gallup 2012, menulis: “Kaum ateis Arab semakin menampakkan diri, terutama karena medsos. Muncul juga sebuah persepsi bahwa bilangan mereka semakin meningkat…di antara 57 negara, Saudi Arabia khususnya merasa paling terancam. Sebagai tempat kelahiran Islam yang diaku sebagai yang paling suci di negeri-negeri Arab. Berdasarkan wawancara di sana, 19% mengatakan bahwa mereka tidak lagi orang beragama dan 5% menggambarkan diri mereka sebagai kaum ateis yang yakin.” Hitung saja dengan penduduk di Saudi Arabia sekitar 29 juta, maka angka itu jelas tidak sederhana.

Sebenarnya bukan hanya di dunia Arab ateisme itu mulai menampakkan diri secara terang-terangan. DR. Ali Sina kelahiran Iran yang menyatakan dirinya sebagai mantan Muslim, sekarang menjadi warga Kanada telah menulis sebuah karya di bawah judul:  Understanding Muhammad: A Psychobiography of Allah’s Prophet (Penerbit: Felibri.com, edisi 2, 1 Mei 2008). Dalam karya setebal 316 halaman ini, penulisnya dengan panjang lebar memaparkan perjalanan hidupnya yang berliku sampai akhirnya menjadi seorang ateis.

Pada bagian berikutnya akan dibicarakan tentang virus ateisme dengan penyebab yang kompleks. Oleh sebab itu harus dirumuskan strategi akademik dan kearifan dengan emosi yang terukur dan terkendali untuk menghadapinya. Jika di dunia Arab, ateisme telah dibicarakan secara terbuka, khususnya melalui medsos, negeri-negeri Muslim lain bisa terseret oleh kejadian di sana. Imbasnya sudah dirasakan di Indonesia sejak tiga tahun yang lalu. Aritel panjang dari penulis Muhamad Ali di bawah judul yang juga seperti judul Resonansi ini (2015) cukup memberi latar belakang sejarah yang luas tentang virus ateisme ini.

Berita Terkait