Selasa , 08 Agustus 2017, 06:00 WIB

Desa Tenggulun, Terorisme, dan BNPT (III)

Red: Maman Sudiaman
Republika/Daan
Ahmad Syafii Maarif
Ahmad Syafii Maarif

Oleh : Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Ada pribasa Minang tentang tali atau benang: “Indak guno dirantang panjang, elok dikumpa naknyo singkek” (Tidak berguna direntang panjang, elok dikumpar (digulung) supaya pendek). Jika kata hati diperturutkan, kisah tentang terorisme ini bisa berlama-lama, berpanjang-panjang. Saya sudahi Resonansi ini sampai seri ketiga ini saja. Drama maut yang ditebarkan pelaku terorisme di berbagai negara belum usai sampai sekarang. Suasana buram yang membuat hati semakin pilu adalah karena terorisme yang membahana pada tingkat global sekarang ini nyaris selalu dikaitkan prilaku Muslim yang kesasar jalan.

Bahkan pihak Barat secara sengaja dan sembrono mengatakan bahwa Islam identik dengan terorisme! Maka apa yang diprakarsai BNPT dengan dukungan penuh dari para mantan kombatan mungkin bisa menjadi contoh bagi dunia tentang metode pendekatan lunak dalam penanggulangan terorisme supaya lebih efektif. Jalan kekerasan bisa melahirkan teroris tujuh keturunan, sekalipun proses penegakan hukum jangan sampai melemah.

Di Desa Tenggulan sejak 29 Maret 2017 telah dibentuk oleh Ali Fauzi dan kawan-kawan sebuah Yayasan Lingkar Perdamaian, sebagaimana telah disinggung sekilas sebelumnya. Direktur Perlindungan BNPT Jenderal Pol. Herwan Chaidir ditugasi untuk turut membantu yayasan ini dalam tugas-tugas sosial-keagamaannya. Ujar Herwan: “…pihaknya terus berupaya menanggulangi aksi-aksi terorisme. Salah satunya, pembangunan TPA plus dan renovasi Masjid Baitul Muttaqien, di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro ini.” Suhardi Alius dalam sambutannya mengatakan: “…pembangunan TPA plus dan renovasi Masjid Baitul Muttaqien, akan menjadi pohon harapan. Di antaranya sebagai tempat menuntut ilmu bagi anak-anak generasi bangsa….Ini wujud komitmen kami, bahwa negara selalu hadir.”

Tuan dan puan perlu mencatat bahwa Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. DR. Nasaruddin Umar juga telah mendampingi Amrozi dan kawan-kawan di saat-saat akan ditembak mati pada bulan Nopember 2008, sembilan tahun yang lalu. Dia sudah dianggap orang tua oleh para mantan kombatan ini. Cerita ini saya dengar langsung dari yang bersangkutan ketika kami berada dalam satu mobil dari Desa Tenggulun menuju Bandara Juanda di Surabaya pada 21 Juli 2017.

Desa Tenggulun yang dulu dikenal sebagai pusat terorisme yang mendebarkan, kini telah berubah menjadi pusat perdamaian dan pohon harapan dalam upaya penanggulangan perbuatan jahat yang sangat ditakuti itu, justru dipelopori oleh para mantan kombatan yang sebagian mereka berpengalaman pada tingkat dunia dalam bertempur, merakit bom, dan membunuh orang tak berdosa, termasuk anggota polisi Indonesia yang dianggap thaghut. Jika kini Eropa, Australia, dan Amerika mau belajar kepada Indonesia bagaimana strategi menanggulangi aksi teror, maka rahasianya antara lain terletak pada pendekatan melalui bahasa hati dan bahasa sosial-ekonomi. Bahasa kekerasan sejauh mungkin harus dihindari dengan catatan sikap tegas aparat jangan sampai dilupakan.

Inilah keterangan Ali Fauzi tentang tujuan Yayasan Lingkar Perdamaian: “…untuk mendidik anak-anak, janda, serta para isteri yang suaminya masih di penjara karena kasus terorisme….Yayasan Lingkar Perdamaian ini menjadi sebagai satu-satunya yayasan yang bergerak di bidang Control Flow Integrity (CFI). Yayasan ini untuk menjauhkan dari sifat-sifat destruktif, termasuk pengeboman.” Dalam hati saya berbisik bahwa betapa pun pekatnya dosa seseorang tidak tertutup kemungkinan akan menjadi terang kembali jika Langit menghendaki. Tidak ada yang mustahil bagi Allah sebagai Zat Muqallib al-qulûb (Pembolak-balik kalbu hamba-hambaNya) untuk memutihkan yang hitam, mencerahkan yang abu-abu. Dia Maha Kuasa atas segala-galanya, yang tampak dan yang tersembunyi. Para mantan kombatan tentu amat faham ungkapan ini.

Rasanya, renungan panjang saya kini telah mulai menemukan salurannya melalui perubahan drastis dari kesan warna hitam Desa Tenggulan dengan mulai berkibarnya bendera harapan Yayasan Lingkar Perdamaian yang menorehkan  cahaya cerah masa depan Indonesia, agar aksi-aksi terorisme di Nusantara ini akan surut dan melemah dalam tempo yang tidak terlalu lama lagi. Islam Qur’ani dan Islam kenabian sangat terluka oleh perbuatan mereka yang menyalahgunakan ayat-ayat dan sabda nabi untuk tujuan yang justru mengkhianati pesan-pesan suci itu. Sekarang sebagian mantan kombatan telah menyadari bahwa pesan-pesan suci itu tidak akan dilukai dan dicederai lagi, sekali dan untuk selama-lamanya. Semoga!