Senin , 10 July 2017, 06:00 WIB

Ke Mana ISIS akan Melarikan Diri?

Red: Maman Sudiaman
Republika/Daan
Ikhwanul Kiram Mashuri
Ikhwanul Kiram Mashuri

Oleh : Ikhwanul Kiram Mashuri

REPUBLIKA.CO.ID, Pada bulan Juli, tiga tahun lalu, ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) — yang waktu itu bernama Tandzimu Da’isy — berhasil menguasai Mosul. Kota terbesar kedua di Irak setelah Baghdad ini mereka ambil dengan cepat nan mencengangkan. Dengan hanya seribu ‘pejuang’, ISIS berhasil menundukkan tentara Irak di Mosul yang berjumlah lebih dari 30 ribu orang, hanya dalam tiga hari. Semua senjata berat — dari peluncur roket, tank hingga helikopter — milik tentara Irak pun mereka kuasai.

Masyarakat kala itu belum atau tidak ngeh tentang bahaya Tandzimu Da’isy. Termasuk media. Penguasaan Mosul oleh Tandzimu Da’isy tidak menjadi headline. Masih kalah dengan berita tentang pertandingan sepak bola Piala Dunia di Brasil. Masyarakat internasional, termasuk di Indonesia, baru paham mengenai bahaya Tandzimu Da’isy ketika Sheikh Abu Bakar al Baghdadi, pemimpin kelompok teroris itu, beberapa hari kemudian muncul untuk pertama kalinya ke publik.

Dari mimbar Masjid Agung al Nuri, Mosul, al Baghdadi mendeklarasikan berdirinya sebuah negara kekhilafahan yang bernama ad Daulah al Islamiyah fi al Iraq wa Suriah alias ISIS. Dan, ia mengangkat dirinya sendiri sebagai sang khalifah di negara yang terdiri dari wilayah-wilayah di Irak dan Suriah yang telah berhasil mereka kuasai. Ia juga menyerukan kepada seluruh umat Islam di dunia untuk tunduk dan berbaiat kepada dirinya.

Beberapa hari sebelum tampil memberi khutbah Jumat dan mendeklarasikan berdirinya kekhalifahan ISIS, al Baghdadi telah memerintahkan anak buahnya untuk membunuh seluruh marbot Masjid Agung al Nuri. Termasuk imam dan para khatibnya. Alasannya, karena mereka membangkang dan menolak untuk berbaiat kepada ‘Khalifah’ Abu Bakar al Baghdadi.

Masjid Agung al Nuri dipilih sebagai tempat deklarasi karena dianggap sebagai simbol kejayaan Islam. Masjid berjuluk al Hadba alias si bungkuk karena menaranya yang miring ini dibangun pada akhir abad 12. Nama masjid diambil dari pendirinya, Sultan Nuruddin Mahmud Zangi. Nuruddin merupakan seorang sultan Turki yang berhasil memobilisai dan menyatukan para pasukan Muslim untuk berjihad melawan tentara Salib Kristen.

Yang menyedihkan, masjid yang menjadi simbol kejayaan Islam dan dijadikan sebagai tempat pendeklarasian negara kekhalifahan al Baghdadi tiga tahun lalu itu telah dihacurkan sendiri oleh ISIS. Dua pekan lalu mereka sengaja meledakkan masjid itu dengan sejumlah bom sebelum melarikan diri dari Mosul karena terdesak oleh pasukan Irak yang didukung oleh pasukan koalisi internasional. Masjid bersejarah itu kini telah rata dengan tanah. Termasuk menara miringya. Dengan begitu hilang pula masjid bersejarah yang menjadi simbol kejayaan Islam di Mosul.

Banyak pihak meyakini penghancuran Masjid Agung al Nuri menandai akhir dari kekuasaan ISIS di Mosul dan sekaligus eksistensi dari negara kekhalifahan yang dideklarasikan oleh al Baghdadi. ‘’Sebentar lagi kekuasaan ISIS akan lenyap,’’ ujar Perdana Menteri (PM) Irak, Haidar al Abadi, ketika pasukan Irak sedang mengepung sisa-sisa pejuang ISIS di Mosul dua pekan lalu.

Pada waktu bersamaan, pasukan kelompok Demokratik Suriah yang didukung militer AS sedang meringsek sisa-sisa ISIS di Raqqa, Suriah, yang selama ini dijadikan sebagai ibukota negara kekhalifahan al Baghdadi. Sebelumnya, ISIS juga telah kehilangan wilayah luas akibat serangan pasukan Kurdi dan koalisinya di satu sisi, pasukan Suriah yang didukung Rusia, Iran, dan milisi-milisi lokal di sisi yang lain. Juga akibat serangan pasukan oposisi Suriah yang didukung militer Turki di sisi lainnya lagi.

Abu Bakar al Baghdadi sendiri hingga kini masih misteri. Yakni, apakah ia sudah terbunuh atau sedang bersembunyi di wilayah luas di perbatasan Irak-Suriah, untuk kemudian muncul dan dihabisi sebagaimana nasib pemimpin Alqaida Usamah bin Ladin. Yang jelas ia masih meninggalkan sisa-sisa anak buahnya yang tergabung dengan ISIS.

Kekalahan ISIS di Mosul, di Raqqa, dan di wilayah-wilayah lain di Suriah dan Irak mungkin saja menjadi tanda hancurnya negara yang dideklarasikan oleh al Baghadi. Namun pertanyaannya, apakah ISIS benar-benar akan hilang dari muka bumi? Apakah dunia akan aman dari kegilaan kelompok-kelompok teroris?

Jawabannya adalah tidak sama sekali. Para teroris akan terus tetap bergentayangan menghantui masyarakat dunia. Hal inilah yang kita pelajari dari pengalaman kekalahan Alqaida dan Taliban di Afghanistan. Para kelompok teroris itu telah berhasil menyelamatkan diri dari gua-gua di Tora Bora di tengah serangan pasukan koalisi dari udara dan darat. Taliban telah kembali melancarkan berbagai serangan di Afghanistan. Sementara itu, orang-orang Alqaida muncul di daerah-daerah lain dengan nama yang berbeda-beda.

Kini orang-orang ISIS pun banyak yang masih berada di Irak dan Suriah. Juga di tempat-tempat lain. Mereka mulai menggunakan taktik dan metode baru. Termasuk menggunakan ranjau, drone, dan mengintensifkan operasi sniper dengan jumlah personil yang lebih kecil. Juga membuat kekacauan di berbagai tempat.

Dari pengalaman di Afghanistan, Irak, dan Somalia, para teroris itu paham betul bahwa mereka akan bisa eksis di wilayah-wilayah konflik, penuh kekacauan, tidak stabil, dan hilangnya keamanan masyarakat. Kekacauan yang bisa saja diakibatkan oleh konflik suku, kelompok, agama, dan seterusnya.
 
Lihatlah Irak yang sejak sejak serangan AS tahun 2003 terus mengalami gonjang-ganjing. Ketidakstabilan politik, keamanan, ekonomi dan sosial telah memungkinkan munculnya para pemimpin teroris semacam Abu Musab al Zarqawi dan Abu Bakar al Baghdadi. Eksistense kelompok-kelompok seperti ISIS masih sangat dimungkinkan di tengah instabilitas politik dan keamanan serta adanya intervesi dan keberadaan militer asing. Juga konflik horisontal antarsuku dan agama. Terutama antara Sunni-Syiah.

Sedangkan di Suriah, konflik yang berlangsung selama enam tahun tampaknya  semakin menjauhkan dari stabilitas. Negara itu telah terkoyak-koyak dalam konflik sektarian yang tiada ujungnya. Kondisi itu semakin sulit ketika ada intervensi kekuatan asing seperti Rusia, AS, Iran, Turki, dan seterusnya yang saling berebut pengaruh.

Karena itu, para politisi boleh saja berpuas diri dan merayakan kemenangan atas kekalahan ISIS. Namun, tidak ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa ISIS atau kelompok teroris lain akan habis dengan kekalahan mereka di Mosul dan Raqqa. Kelompok-kelompok teroris akan terus tumbuh subur di wilayah-wilayah atau negara yang diwarnai perebutan kekuasaan tanpa mempedulikan nasib rakyat, di negara-negara yang gagal menciptakan kehidupan bersama yang penuh harmoni, di negara-negara yang gagal menciptakan toleransi, dan di negara-negara yang selalu mengalami konflik sektarian.

Ke negara-negara seperti itulah, ISIS atau kelompok-kelompok teroris lain akan melarikan diri. Bila sudah kuat mereka pun akan membentuk markas atau bahkan negara baru dengan nama yang bisa saja berbeda. Apa yang terjadi di Irak, Suriah, Libia, Yaman, Somalia, Afghanistan, dan lainnya adalah pelajaran berharga. Bahwa kelompok radikalis dan teroris akan terus muncul dan tumbuh subur selama ada konflik, instabilitas, kekerasan, dan campur tangan kekuatan asing.