Selasa , 21 Maret 2017, 06:00 WIB

Malala: Oase di Bumi Muslim yang Tandus (III)

Red: Maman Sudiaman
Republika/Daan
Professor Ahmad Syafii Maarif
Professor Ahmad Syafii Maarif

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Sebelum menurunkan bagian-bagian dari isi Pidato Nobel Malala, ada baiknya ditambahkan sedikit keterangan tentang Lembah Swat, bumi tempat kelahirannya di sebelah barat daya Pakistan. Kawasan pegunungan ini dulunya terkenal sebagai “Switzerland of Pakistan” karena cantiknya. Sejuk di musim panas, bersalju di kala musim dingin. Letaknya tidak terlalu jauh dari Islamabad. Lembah ini kemudian menjadi rusak saat Taliban menguasainya sebelum dibebaskan kembali oleh pasukan Pakistan. Ratusan sekolah ditutup oleh rezim pro kekerasan ini.

Pidato Nobel Malala disampaikan pada 10 Desember 2014, saat usianya 17 tahun enam bulan. Saya telah dengarkan pidato itu dari awal sampai ke ujung serta mengamati suasana di gedung tempat Hadiah Nobel itu diberikan. Antara teks tertulis dan bahasa lisan Malala ada beberapa kalimat yang berbeda, substansinya sama. Tetapi bahasa lisannya terasa lebih kaya dan lebih sedap diikuti dengan tekanan kalimat yang sarat makna dan penuh wibawa. Kita tidak bisa membayangkan betapa berbunganya perasaan ayah-bundanya menonton puterinya yang telah jadi bincangan luas publik dunia itu. Malala telah jadi sumber ilham bagi kaum muda.

Tatkala mengulangi nasehat ayahnya yang tidak pernah menggunting sayapnya untuk terbang tinggi, gemuruh suara hadirin demikian membahana sebagai tanda keterpukauan yang luar bisa dalam mengikuti suara bocah Muslimah ini. Ini kalimat asli Malala sebagai tanda terima kasih kepada ayahnya: “Thank you to my father for not clippimg my wings and for letting me fly“ (Terima kasih ayahku karena tidak menggunting sayapku dan membiarkanku terbang). Sang ibu juga hadir di sana dengan penuh rasa haru terlihat jelas di wajahnya. Sampai di ujung pidato, pada setiap tikungan kalimat yang menghentak, tepuk sorak hadirin tak pernah berhenti. Semuanya terlihat bahagia, terharu, dan terhenyak. Suara Islam damai bergema lantang di gedung itu. Saya tidak tahu apakah Taliban sempat mendengarkan pidato bocah yang hendak dibunuhnya ini.

Beberapa bagian Pidato Nobel Malala itu akan diturunkan di bawah ini, terutama bagi mereka yang belum sempat mengikutinya. Tuan dan puan yang ingin mendengarkan langsung pidato itu, silakan buka YouTube. Barangkali kesan kita akan sama. Sama-sama bangga di tengah-tengah prahara dunia Muslim yang melelahkan. Nama Malala mencuat di lingkungan keganasan teroris di tanah kelahirannya dengan mengusung teologi tunggal: “Di luar mereka tidak ada kebenaran!” Maka atas nama kebenaran tunggal inilah penembak Taliban hendak menghentikan jantung Malala berdenyut. Alangkah nistanya, alangkah kejamnya!

Masih di bagian awal pidatonya, Malala berkata: “Hadiah ini bukan semata buat saya. Ia untuk semua anak-anak yang terlupakan yang menginginkan pendidikan. Ia untuk anak-anak yang menderita yang rindu perdamaian. Ia untuk anak-anak yang bungkam yang ingin perubahan. Saya berdiri di sini untuk memperjuangkan hak-hak mereka, mengumandangkan suara mereka…bukanlah waktunya lagi untuk mengasihi mereka. Waktunya adalah untuk bertindak, maka ini adalah kali terakhir kita melihat seorang anak yang terenggut dari pendidikan.”

Lalu diceritakan pengalaman masa kecilnya di lembah yang cantik itu yang kemudian jadi neraka. “Saat saya berusia 10 tahun, Swat yang semula adalah tempat yang indah dan tempat turisme, tiba-tiba berubah jadi tempat terorisme. Lebih 400 sekolah dibinasakan. Anak-anak perempuan dilarang pergi sekolah. Perempuan didera. Orang tak berdosa dibunuh. Semua kami menderita. Dan mimpi-mimpi kami yang indah berubah jadi mimpi buruk. Pendidikan beralih dari sebuah hak menjadi sebuah kejahatan.” Pendek kata, baik pidatonya di PBB mau pun di Oslo tekanannya sama: jangan rampas pendidikan anak-anak. Pendidikan adalah segala-galanya!

Mengahapi situasi sulit dalam kepungan Taliban, ada dua pilihan yang terbuka bagi Malala: pertama, membisu dan menunggu saat dibunuh; kedua, bersuara terus terang dan kemudian dibunuh. “Saya pilih yang kedua. Saya putuskan untuk berkata terus terang.” Sewaktu kalimat ini diucapkan, ruang tempat Hadiah Nobel itu diberikan untuk sekian kalinya jadi riuh dengan tepuk tangan sebagai tanda kekaguman atas pilihan teramat berani dari bocah ini: mengadang maut. Drama itulah yang terjadi pada 9 Oktober 2012.