Kamis , 16 March 2017, 06:00 WIB

Raja Salman

Red: Maman Sudiaman
Republika/Daan
Azyumardi Azra
Azyumardi Azra

Oleh : Azyumardi Azra

REPUBLIKA.CO.ID, Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud, orang nomor satu Kerajaan Arab Saudi (KSA-1) meninggalkan Indonesia Ahad lalu (12/3/17) setelah mengadakan kunjungan kenegaraan resmi empat hari (1-4/3) yang kemudian berlanjut dengan liburan di Bali selama sepekan. Agaknya inilah rekor terlama di antara kunjungan berbagai kepala negara atau kepala pemerintah dari mancanegara di Indonesia.

Ada banyak simbolisme penting dari lamanya kunjungan Raja Salman di Indonesia. Di antara simbolisme itu adalah bahwa Indonesia adalah negara aman dan nyaman. Meski ada ledakan kecil yang dilakukan teroris di Cicendo Bandung, jelas tidak ada dampaknya terhadap keamanan dan stabilitas Indonesia.

Lalu, alam Indonesia yang subur, indah dan menghijau -- yang amat berbeda dengan lingkungan alam Arab Saudi yang padang pasir kering kerotang. Seperti dituturkan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, Raja Salman sangat mengagumi Indonesia yang indah, banyak pepohonan. “Beliau tanya juga apakah kurma bisa tumbuh di sini…[karena] kurma adalah makanan kesukaannya”.

Kemudian, tak kurang pentingnya adalah budaya Indonesia yang enak dinikmati. Apalagi warga sangat menghormati sang Raja, tidak hanya di Bogor dan Jakarta, tapi juga di Bali. Sejak Raja Salman keluar dari Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta, sepanjang jalan menuju Bogor, warga tumpah ruah menyambut kedatangannya. Raja Salman kepada Menteri Agama menyatakan: “Saya melihat ketulusan sambutan dari ekspresi wajah-wajah mereka yang begitu gembira”.

Kunjungan Raja Salman yang cukup panjang di Indonesia, sedikit banyak mengubah citra Indonesia, tidak hanya di Arab Saudi tapi juga di Dunia Arab secara keseluruhan. Dengan pemberitaan luas dalam media Arab, kunjungan Raja Salman membuka perspektif baru bagi masyarakat Arab; Indonesia adalah negara aman, damai dan maju. Indonesia bukan negara terkebelakang seperti masih ada dalam bayangan kalangan masyarakat Arab.

Penulis Resonansi ini beruntung ikut bertemu dengan Raja Salman ketika menerima pimpinan majelis enam agama beserta figur intelektual dan akademisi (3/3/17). Bahwa Raja Salman bersedia mengadakan pertemuan dengan para pimpinan dan tokoh dari keenam agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu) bagi kalangan Muslim maupun non-Muslim merupakan kejutan menyenangkan. Ada asumsi di kalangan publik, Raja Salman ‘mencukupkan’ bertemu dengan para pimpinan ormas Islam sehari sebelumnya (2/3).

Dalam pertemuan ‘tertutup’ dengan para pemimpin keenam agama, Raja Salman memulai pembicaraan dengan menyatakan kekaguman dan penghargaan pada Indonesia yang stabil secara ekonomi dan politik. Menurut Raja Salman, stabilitas politik dan ekonomi itu tercipta karena adanya toleransi yang kuat di antara warga Indonesia yang majemuk.

Raja Salman lebih lanjut menyatakan, toleransi bisa tumbuh dan menguat karena berbagai kelompok agama berbeda selalu bekerja sama dan berdialog. Raja menekankan, toleransi, kerja sama dan dialog sangat penting dalam memerangi radikalisme dan terorisme.

Dalam konteks itu Raja Salman juga menyebutkan tentang upaya kerajaan Arab Saudi mengembangkan dialog melalui pusat yang berlokasi di Wina. Pusat dialog yang dimaksudkan Raja Salman itu tak adalah King Abdullah International Center for Inter-Religious and Inter-Cultural Dialogue yang didirikan di Wina, Austria pada 26 November 2012.

Presiden Jokowi yang menjadi pimpinan pertemuan dan moderator membuka pembicaraan dengan menyatakan, para pimpinan dan tokoh keenam agama yang hadir dalam pertemuan merupakan representasi kemajemukan agama di Indonesia. “Mereka menjadi pilar harmoni, kesatuan dan persatuan Indonesia, dan teladan untuk pengembangan toleransi dan harmoni, dan sekaligus menjadi aset untuk penciptaan perdamaian dunia”.

Para tokoh dari agama berbeda yang mendapat kesempatan satu persatu berbicara yang secara garis besar menyatakan, pertemuan dengan Raja Salman memiliki nilai simbolik besar, yang memperlihatkan agama-agama ‘duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi’. Karena itu, pertemuan semacam ini dapat diadakan lebih sering untuk memperkuat saling pengertian dan penghargaan. Apalagi dalam pandangan kalangan pemimpin agama berbeda, ada segi-segi komonalitas (common words atau kalimatun sawa’) di antara agama-agama.

Penulis Resonansi ini yang mendapat kesempatan terakhir berbicara mewakili ‘delegasi’ Muslim menyatakan syukur kedua negara telah menandatangani 11 Memorandum Kesepahaman. Tapi ke depan perlu usaha keras umtuk tindaklanjut agar dapat benar-benar terwujud.

Selain itu penulis menekankan agar kedua negara berpenduduk mayoritas Muslim ini lebih aktif dalam menciptakan perdamaian di Dunia Muslim, khususnya di kawasan Arab yang masih terus bergolak. Untuk kepentingan itu, ulama dan tokoh Muslim dari kedua negara dapat menjalin hubungan dan kordinasi lebih erat. Pada saat yang sama pemerintah Saudi perlu memperluas kerja sama Pusat Dialog Saudi di Wina dengan ormas dan lembaga dialog Indonesia.