Jumat , 17 Februari 2017, 06:00 WIB

Pilkada DKI Memang untuk Anies dan Ahok

Red: Maman Sudiaman
Republika/Daan
Nasihin Masha
Nasihin Masha

REPUBLIKA.CO.ID, Ada upaya untuk menang satu putaran. Itu yang sering terdengar dari orang-orang yang berada di sekitar pasangan Ahok-Djarot.

Hal itu antara lain diungkapkan Setya Novanto usai mencoblos. Ketua umum Golkar, partai yang juga sebagai salah satu pengusung pasangan itu, yakin mereka menang dalam satu putaran. Hasto Kristianto, sekjen PDIP, di hari yang sama juga menyampaikan optimisme yang sama.

Nada yakin juga diungkapkan Megawati Soekarnoputri, ketua umum PDIP, usai pencoblosan. Beberapa hari sebelumnya, Ahok dan Djarot juga sudah menyampaikan optimisme untuk menang satu putaran. Segala sumberdaya sudah mereka kerahkan dan optimalkan.

Mereka unggul dalam banyak hal. Di antaranya, mereka diuntungkan sebagai pejawat (incumbent), dukungan partai yang lebih banyak, dukungan media yang jauh lebih banyak, memiliki relawan (termasuk pasukan cyber army) yang sudah terbentuk sejak 2012 dan tentu yang terbesar, dan dukungan dari para taipan yang berlimpah.

Apalagi pemerintah pusat berkepentingan terhadap kemenangan Ahok-Djarot. Selain satu partai dan bekas pasangannya, juga karena DKI Jakarta sebagai ibu kota negara dan pusat bisnis nasional tentu terlalu strategis jika dipimpin oleh gubernur yang bukan satu tim.

Namun hasil quick count dari berbagai lembaga polling tak seperti yang mereka yakini. Pilkada akan berlangsung dua putaran. Pasangan Anies-Sandi akan menghadapi pasangan Ahok-Djarot di putaran kedua, putaran final.

Berbeda dengan pilkada di wilayah lain seluruh Indonesia, pilkada di DKI Jakarta pemenangnya adalah yang bisa meraih lebih dari 50 persen suara. Pilkada di wilayah lain pemenangnya adalah yang meraih suara tertinggi dan di atas 30 persen suara.

Berdasarkan angka quick count, perolehan suara Anies-Sandi berkejaran dengan perolehan suara Ahok-Djarot, di sekitar angka 40 persen suara. Ahok-Djarot lebih unggul dibandingkan Anies-Sandi. Sedangkan perolehan Agus-Sylvi tertinggal jauh, di sekitar angka 17 persen suara.

Pertanyaannya adalah mengapa Ahok-Djarot gagal menang dalam satu putaran? Mengapa perolehan Agus-Sylvi merosot tajam dalam waktu singkat? Bagaimana Anies-Sandi bisa meroket jauh mengejar Ahok-Djarot?

Sejak awal, publik memiliki tingkat kesukaan tinggi terhadap Ahok. Namun publik juga memiliki tingkat ketidaksukaan yang tinggi terhadap Ahok. Ahok dinilai sukses membersihkan selokan dan sungai, membangun trotoar, dan program bantuan pendidikan maupun kesehatan.

Ia juga dipersepsikan sebagai figur yang bersih dan tegas dalam mengelola birokrasi sehingga pelayanan birokrasi dinilai menjadi lebih baik. Ahok juga dikenal memiliki respons yang cepat dalam menanggapi keluhan warga. Persepsi bersih terhadap Ahok itu tak luntur oleh deraan skandal korupsi yang melilit kasus reklamasi yang kasusnya kini di KPK. Kasus RS Sumber Waras yang oleh audit BPK dinilai bermasalah juga tak mempan.

Namun Ahok memiliki kelemahan yang melekat pada dirinya. Penggusuran kampung-kampung kumuh; kasar dan bengis, termasuk kepada yang mengadu; kata-katanya kotor; dan tak ada greget menghilangkan ketimpangan tapi justru hendak memperlebarnya lewat proyek reklamasi yang gencar di masanya.

Ahok memiliki kelemahan sekaligus kelebihan, yaitu aspek etnik dan agama. Hampir seratus persen warga Jakarta yang beretnik Tionghoa dan beragama Kristen/Katolik mencoblos Ahok. Mereka juga dikenal militan dan berani.

Dari segi status ekonomi, orang-orang menengah-atas umumnya memilih ahok. Ditambah pemilih partai-partai pendukung dan kaum liberal serta orang-orang miskin akar rumput yang pragmatis dan generasi alay (hal itu terlihat dari tampilnya semua artis di kubu Ahok-Djarot) maka dari situlah angka sekitar 40 persen itu diraih.

Ada frasa dan kalimat menarik dari ucapan Prabowo Subianto, ketua umum Gerindra, saat jumpa pers menanggapi hasil quick count. Prabowo menyebut pasangan Anies-Ahok sebagai "Pasangan Pahe", pasangan paket hemat.

Ia hendak mengatakan bahwa ini adalah pasangan paling miskin. Dalam tulisan di Resonansi terdahulu, saya menyebut pertarungan tiga kandidat ini sebagai kontestasi kaum oligarkis, kaum plutokrat, dan the rest. Yang pertama mewakili persekutuan para elite, yang kedua mewakili persekutuan para taipan, dan yang ketiga mewakili sisa rakyat Indonesia. Karena itu tepat apa yang dikatakan Prabowo bahwa perolehan suara Anies-Sandi yang besar ini sebagai kemenangan perjuangan nilai-nilai keadilan dan kebenaran.

"Ini membuktikan bahwa uang tidak bisa menjajah rakyat," katanya. Oleh Prabowo pilkada DKI Jakarta adalah simbol pertarungan antara perjuangan menegakkan keadilan dan kebenaran melawan keperkasaan uang.

Lalu ia mengunci kalimatnya, "Hanya keadilan yang bisa memberikan perdamaian dan kesejukan." Perolehan suara Anies-Sandi yang besar itu ia nilai sebagai tanda bahwa nilai-nilai kebajikan tetap bersemayam di hati rakyat.

Pasangan Anies-Sandi awalnya berada di urutan paling bontot. Titik baliknya adalah ketika Anies-Sandi berani melakukan diferensiasi dengan Ahok. Mereka menolak reklamasi, menyambangi para ulama pendukung Aksi Bela Islam (ABI), mengenakan peci hitam, menolak cara-cara Ahok dalam menertibkan kawasan kumuh yang hanya bersendi legal-formal dengan mengabaikan aspek manusia.

Hal itu kemudian makin tampak di acara debat yang disiarkan secara langsung oleh televisi. Sikap diametral ini sangat menguntungkan karena di lapangan muncul perlawanan keras terhadap Ahok. Telah lahir generasi baru yang otonom dan terdidik. Mereka bukan klien dari patron kaum elite sehingga mereka lebih merdeka dalam menentukan sikap politiknya. Mereka riil ada di masyarakat, mereka membutuhkan pemimpin jenis baru. Inilah kekuatan the rest, cikal bakal kelas menengah sejati Indonesia.

Itulah sebabnya mengapa gerakan ABI tak bisa dihentikan dengan intimidasi, kriminalisasi, dan stereotipe. Arus sosial tak pernah bisa dibendung hingga menuju titik labuhnya. Dalam konteks inilah pidato Prabowo mendapatkan titik pijaknya.

Pasangan Agus-Sylvi muncul paling belakang. Namun dalam survei langsung melejit, bahkan melampaui Anies-Sandi. Muda dan ganteng serta anak SBY adalah kekuatan Agus. Agus adalah lulusan tiga universitas top, sehingga ia dicitrakan sepintar bapaknya.

Kariernya di militer juga cukup baik. Sylvi juga dicitrakan sebagai birokrat bersih, pinter, dan Betawi. Sylvi juga satu-satunya perempuan dari enam kandidat. Kariernya terbilang moncer di Pemprov DKI Jakarta. Dengan profil seperti itu serta dukungan jaringan SBY maka dia langsung melejit. Pendukung Agus-Sylvi digambarkan sebagai pemilih yang menginginkan pemimpin baru, loyalis SBY, pemilih akar rumput yang pragmatis, dan generasi alay yang suka pada pesona fisik Agus.

Berdasarkan data survei, tingkat loyalitas pemilih Agus-Sylvi adalah yang paling rendah, sedangkan yang tertinggi adalah Ahok-Djarot. Dengan target menang satu putaran, tim Ahok-Djarot melakukan serangan bertubi-tubi ke Agus-Sylvi. Dimulai dengan dugaan korupsi Sylvi, serangan ke suami Sylvi, melakukan unjuk rasa ke rumah SBY, dan terakhir serangan Antasari Azhar ke SBY. Agus juga dicitrakan sebagai anak pepo-memo. Acara debat juga ikut memerosotkan pasangan ini, bahkan Sylvi menjadi titik terlemah.

Selain menjadi kelebihan, SBY juga menjadi kelemahan Agus-Sylvi. Dengan kombinasi serangan darat, kaum pemilih akar rumput yang pragmatis, pemilih alay, dan kelas menengah rasional yang semula mendukung Agus-Sylvi menjadi rontok.

Inilah strategi turn-out yang biasa sangat menentukan di detik-detik akhir. Sebagian lari ke Ahok-Djarot, sebagian lari ke Anies-Sandi. Salah satu kelemahan Agus-Sylvi adalah ketidakberanian bersikap diametral dengan Ahok.

Ini sudah menjadi langgam politik SBY yang tengah-tengah, akibat dari format yang oligarkis. Karena itu, pertarungan pilkada DKI Jakarta ini memang pertarungan Anies-Sandi melawan Ahok-Djarot.