Senin , 04 May 2015, 05:01 WIB

Dua Muhammad Jadi Penguasa Arab Saudi

Red: Joko Sadewo
Republika/Daan
Ikhwanul Kiram Mashuri
Ikhwanul Kiram Mashuri

Oleh: Ikhwanul Kiram

Berikut ini mengulas tentang dua Muhammad cucu Abdul Aziz, pendiri Kerajaan Arab Saudi. Dua Muhammad ini Rabu lalu diangkat oleh Raja Saudi, Salman bin Abdul Aziz, sebagai putra mahkota dan wakil putra mahkota. Muhammad yang pertama adalah putra Pangeran Nayef bin Abdul Aziz dan yang kedua putra Raja Salman.

Dalam hirarki kekuasaan di Saudi, orang nomor satu tentu sang raja. Orang kedua dan ketiga adalah putra mahkota dan wakil putra mahkota. Bila sewaktu-waktu raja mangkat, maka otomatis putra mahkota menggantikannya dan wakil putra mahkota naik menjadi putra mahkota.

Media di Timur Tengah menganggap pergantian putra mahkota dan wakil putra mahkota ini sebagai di luar kelaziman alias darurat. Penggantian penguasa Saudi biasanya dilakukan apabila sang raja atau putra mahkota sebelumnya mangkat.  Seperti yang pernah terjadi ketika Pangeran Sultan bin Abdul Aziz meninggal dunia pada 22 Oktober 2011. Ketika itu posisinya sebagai putra mahkota digantikan oleh saudaranya, Nayef bin Abdul Aziz. Saat yang terakhir ini pun meninggal dunia pada 2012, jabatan putra mahkota lalu digantikan oleh Salman bin Abdul Aziz.

Saat menunjuk Salman sebagai putra mahkota, Raja Abdullah pada waku yang sama juga mengangkat Muqrin bin Abdul Aziz sebagai wakil putra mahkota. Yang terakhir ini adalah sebuah posisi baru yang sebelumnya tidak ada.  Ketika Raja Abdullah mangkat pada Januari lalu, Salman otomatis menggantikannya sebagai raja dan Muqrin naik menjadi putra mahkota. Jabatan putra mahkota yang kosong lalu diisi oleh Muhammad bin Nayef bin Abdul Aziz.

Trio penguasa Saudi -- Raja Salman, putra mahkota Muqrin, dan wakil putra mahkota Muhammad -- itulah yang mengendalikan Kerajaan Saudi sejak Januari lalu. Termasuk ketika memimpin koalisi sepuluh negara untuk menggempur basis-basis militer milisi al Khauthi di Yaman.

Namun, tanpa ada berita sedang sakit atau halangan lain terkait tugas kerajaan, pada Rabu lalu Pangeran Muqrin tiba-tiba dicopot dari jabatannya sebagai putra mahkota. Ia digantikan Muhammad bin Nayef yang sebelumnya menjabat sebagai wakil putra mahkota. Bersamaan itu Raja Salman juga mengangkat anaknya sendiri, Muhammad bin Salman bin Abdul Aziz, sebagai wakil putra mahkota.

Dari sisi umur, Raja Salman kini berusia 80 tahun, Muqrin 70 tahun, Muhammad bin Nayef 56 tahun, dan Muhammad bin Salman baru berusia 30 tahun. Artinya, Muqrin sebenarnya belum terlalu tua, apalagi bila dibandingkan dengan raja-raja Saudi yang umumnya mangkat  di atas usia 80 tahun. Raja Abdullah yang wafat pada Januari lalu berusia 91 tahun. Apalagi dalam sejarah Kerajaan Saudi, raja atau putra mahkota tidak ada yang diganti di tengah jalan kecuali meninggal dunia. Muqrin sendiri baru menjabat sebagai putra mahkota selama empat bulan.

Itu sebabnya pergantian putra mahkota dan wakil putra mahkota pada Rabu lalu dianggap mendadak dan, karena itu, mendapat perhatian luas berbagai media di Timur Tengah. Media Aljazeera menyebut pergantian kali ini adalah di luar kebiasaan. Media Arab Saudi yang terbit dari London, al Sharq al Awsat, menyatakan pergantian putra mahkota dan wakil putra mahkota ke generasi cucu Abdul Aziz adalah demi kelangsungan dan ketertiban rumah tangga Kerajaan Saudi. Sedangkan Raja Salman dalam dekritnya menyatakan pemberhentian Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz adalah atas permintaan yang bersangkutan.

Ya, ‘di luar kebiasaan, demi kelangsungan dan ketertiban rumah tangga kerajaan, dan atas permintaannya yang bersangkutan’ itulah barangkali yang menjadi kunci pergantian yang dilakukan Raja Salman kali ini. Dengan pengangkatan dua Muhammad menjadi putra mahkota dan wakil putra mahkota, maka masa depan Kerajaan Saudi akan berada di tangan generasi cucu pendiri kerajaan. Raja Salman sekarang ini, setelah pemberhentian Pangeran Muqrin sebagai putra mahkota, akan menjadi raja terakhir dari generasi kedua pendiri kerajaan.

Meskipun Muhammad sang wakil putra mahkota merupakan putra Raja Salman, namun penunjukannya harus disetujui oleh sebuah lembaga, yaitu ‘Haiatu al Bai’at’. Lembaga bentukan Raja Abdullah bin Abdul Aziz pada 2006 ini tampaknya untuk mempersiapkan dan sekaligus mengantisipasi ketika penguasa Saudi akan jatuh pada generasi cucu. Apalagi para cucu dan cicit Abdul Aziz kini jumlahnya sudah ribuan.

Pada pasal 5 tentang sistem kekuasan dalam Haiatu al Bai’at disebutkan:  ‘Sistem kekuasaan di Arab Saudi adalah kerajaan. Para penguasa dipilih dari anak-anak, cucu, dan cicit dari pendiri kerajaan Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman al Faisal al Saud. Dari mereka dipilih yang paling mampu dan dibaiat berdasarkan Kitabullah (Alquran) dan Sunati Rasulillah (Hadis)’.

Haiatu al Bai’at beranggotakan 35 orang, mewakili anak laki-laki dari Abdul Aziz yang berjumlah 36 orang. Lembagai ini diketuai Pangeran Masy’al, putra tertua dari 13 putra Abdul Aziz yang masih hidup. Untuk memilihan putra mahkota dan wakil putra, sang raja menyodorkan satu hingga tiga nama ke lembaga. Lembaga ini yang kemudian menyetujui atau menolak berdasarkan musyawarah atau pemungutan suara tertutup para anggota.

Bila calon dari raja ditolak, lembaga Haiatu al Bai’at akan menyodorkan sejumlah nama (satu hingga tiga orang) kepada sang raja. Sang raja kemudian memilih di antara mereka. Bila sang raja menolak nama yang disodorkan lembaga, maka para calon yang diajukan oleh raja maupun lembaga diadu dalam pemilihan tertutup para anggota lembaga.

Calon yang telah disetujui dan dipilih baik oleh sang raja dan disetujui lembaga lalu diumumkan oleh sang raja sebagai putra mahkota dan wakil putra mahkota, dan kemudian dilakukan prosesi pembaiatan.  Putra mahkota otomatis akan menjadi penguasa bila sang raja mangkat. Begitu juga bila putra mahkota mangkat, maka posisinya akan digantikan oleh wakil putra mahkota.  Sebelum lembaga Haiatu al Bai’at ini dibentuk, jabatan putra mahkota ditunjuk oleh raja.

Menarik disimak adalah trio penguasa Saudi -- raja, putra mahkota, dan wakil putra mahkota – yang baru sekarang ini. Dilihat dari sisi usia, mereka mewakili tiga generasi. Raja Salman berusia 80 tahun, putra mahkota Muhamad bin Nayef 53 tahun, dan wakil putra mahkota Muhammad bin Salman 30 tahun.

Selain sebagai putra mahkota, Muhammad bin Nayef juga ditunjuk  sebagai wakil Majelis Menteri (perdana menteri), menteri dalam negeri, dan kepala lembaga politik dan keamanan negara. Sedangkan wakil putra mahkota, Muhammad bin Salman, merangkap jabatan wakil kedua Majelis Menteri, menteri pertahanan, dan ketua lembaga ekonomi dan pengembangan negara.  

Kita tentu masih menunggu bagaimana sepak terjang dari trio penguasa Saudi berbeda generasi itu. Posisi Saudi selama ini dinilai sangat penting bukan hanya bagi negara-negara Teluk (Kerjasama Teluk), tapi juga untuk Liga Arab dan umat Islam. Selain Mekah dan Madinah, lembaga-lembaga penting juga bermarkas di Saudi. Seperti IDB (Islamic Development Bank), OKI (Organisasi Kerjasama Islam), Muslem World League (Rabithah Alam Islami), dan Asosiasi Media Islam.

Di samping itu, tantangan di Timur Tengah juga semakin besar. Dari masalah al Khauti di Yaman,  ISIS dan kelompok radikal yang kini sudah menyebar ke berbagai negara, konflik di Suriah dan Libia, hingga persoalan bangsa Palestina.

Sejumlah media di Timur Tengah -- Aljazeera, al Sharq al Awsat, dan al Ahram --optimis Saudi akan mengambil peran lebih besar di negara-begara Arab dan umat Islam. Mereka menunjuk bagaimana Saudi memimpin koalisi untuk menyerang milisi al Khauthi di Yaman. Dan, pelaksana lapangan dari serangan itu ternyata dua pangeran muda, Muhammad bin Nayef dan Muhammad bin Salman.