Selasa , 10 October 2017, 06:00 WIB

Seni dan Politik (II)

Red: Elba Damhuri
Republika/Daan
Ahmad Syafii Maarif
Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Apa dan di manakah keindahan itu? Mahatma Gandhi pernah berujar: “Manakala saya melihat keajaiban terbenamnya matahari atau keindahan bulan, jiwa saya mengembang dalam pengabdian pada Maha Pencipta.”

Bagi jiwa yang halus, keindahan itu terlihat  di mana-mana, terdengar pada kicau murai di pagi hari, pada padi yang sedang menguning, pada seorang ibu yang sedang menggendong bayinya dengan penuh kasih sayang. “Jangan pernah menghilangkan satu peluang pun”, tulis Ralph Waldo Emerson, “untuk melihat segala sesuatu yang indah, karena keindahan itu adalah tulisan tangan Tuhan.” Sungguh dalam ungkapan ini.

Lagi, keindahan itu juga terlihat pada kesetiaan seorang istri merawat sebatang angrek yang hampir layu, pada balam yang sedang mengungkai jerat di kakinya karena ingin terbang bebas, pada petani yang kakinya berkubang luluk, pada seorang polisi yang dengan sabar membantu penyeberangan anak sekolah.

Dalam khazanah Arab kita mengenal kalimat ini: “Sesungguhnya Allah itu indah, dan Dia cinta kepada keindahan.” Keindahan Allah tidak boleh dicemari oleh prilaku beragama yang sadis, bengis, kasar, dan norak.  

Sekalipun keindahan itu ada di setiap sudut alam semesta, pada diri manusia dan makhluk lain, pada kisaran siang dan malam, tidak setiap kita dapat melihatnya, seperti diamati oleh Kong Hu-cu: “Segala sesuatu punya keindahan, tetapi tidak setiap orang melihatnya.”

Oleh sebab itu, kita semua mesti belajar untuk menghayati dan mendalami keindahan, dan di ujungnya siapa tahu politik yang ganas dan liar akan dapat dijinakkan oleh seni dan sastra yang memang menyimpan jibunan keindahan dan kelembutan.

Apakah perilaku politik di Indonesia sudah terlalu jauh melenceng dari adat sopan-santun, dari keadaban bernegara, sehingga seni dan sastra enggan mendekat kepadanya? Bisa saja seorang politikus pernah terlibat dalam kegiatan seni dan sastra, tetapi virus keindahan itu semata singgah pada aspek kognitif dirinya, tidak turun ke lubuk jiwanya yang asli.

Akibatnya, perilakunya tidak berbeda dengan mereka yang memang batinnya gersang dan tandus dari sentuhan seni dan sastra. Maka prilaku koruptif yang masif hanyalah akibat belaka dari ketandusan yang akut itu.

Yang lebih kumuh lagi adalah fenomena seorang sastrawan besar Indonesia di era lampau menghukum dan menghujat secara kasar dan keji sastrawan besar lainnya untuk kepentingan politik kepartaian tertentu. Jelas  politik telah membunuh kekuatan seni dan sastra dalam diri penghujat.

Pada waktu itu politik adalah panglima, seni dan sastra adalah alat dan kendaraan belaka yang bisa dipakai setiap saat sesuai dengan perintah bos partai. Alangkah sesatnya prilaku politik yang semacam ini.

Tetapi sastrawan yang dihujat itu malah semakin berkibar dan dihormati oleh publik tidak tidak saja di Indonesia, malah melebar ke negeri jiran. Pembunuhan karakter yang dilakukan oleh tim penghujat pada akhirnya gagal total, bahkan dalam penjara sastrawan ini telah menghasilkan sebuah karya monumental setebal ribuan halaman dan dicetak berulang kali. Politik kekuasaan betapa pun terkesan perkasa pada suatu ketika tidak akan pernah berjaya menghancurkan /the power of beauty.

Kita semua mesti percaya bahwa seni dan sastra punya kemampuan untuk menjinakkan politik kekuasaan yang brutal sekalipun. Oleh sebab itu, para seniman dan sastrawan tidak boleh tiarap sepanjang sejarah! Politik di Indonesia menjadi liar mungkin karena seniman dan sastrawan banyak yang bungkam, tak mampu bersuara lantang.

Sebagian  yang lain tak bisa maksimal dalam mengembangkan karya seninya, dan ini yang membuat perasaan luluh, karena terhempas dalam himpitan kesulitan ekonomi. Namun, dengan segala kendala itu, seni dan sastra harus terus dipupuk dan dipelihara agar bangsa ini tidak kehilangan kepekaan nurani di tengah suasana politik yang tunakeindahan.