Sabtu , 13 January 2018, 05:00 WIB

Islandia di Antara Manfaat dan Mudarat

Red: Agus Yulianto
istimewa
Gilang Akbar Prambadi
Gilang Akbar Prambadi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wartawan Republika, Gilang Akbar Prambadi (Twitter: @gilangORI)

Indonesia mendapatkan kesempatan emas untuk bisa mencicipi kekuatan timnas sepak bola paling progresif di planet bumi saat ini, Islandia. Pasukan Garuda mendapatkan dua kali kesempatan untuk menjajal kontestan Piala Dunia 2018 tersebut. Satu pertandingan sudah dilaksanakan saat timnas bertajuk Indonesia Selection menjamu pasukan Atlantik Utara iyu, Kamis (11/1) petang WIB.

Bermain di stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, tim yang terdiri dari para pemain Indonesia lintas generasi tersebut bermain dengan tujuan menghibur. Tapi tentu saja cuma publik yang bisa menilai, apakah jalannya laga tersebut memang benar menghibur atau tidak. Satu yang pasti, pertandingan tersebut sama sekali tak menambah poin Indonesia di ranking FIFA.

Lebih dari 50 persen anggota skuat tim Indonesia Selection bukan berisi pemain aktif di timnas. Nama-nama seperti kiper I Made Wirawan, bek Maman Abdurrahman, gelandang Paulo Sitanggang, dan striker Titus Bonai sudah lama menghilang dari skuat Merah Putih. Bahkan, di dalam skuat tersebut ada sosok Ponaryo Astaman dan Cristian Gonzales. Dua nama ini bukan lagi pesepakbola aktif karena sudah pensiun alias gantung sepatu dari lapangan hijau.

Selain pemain, pelatih yang menangani Indonesia Selection juga bukanlah anak bangsa. Coah PSM Makassar, Robert Rene Alberts ditunjuk sebagai juru taktik pada laga tersebut.

Dengan demikian, maka mari sepakat untuk satu hal. Yakni, laga timnas Indonesia Selection melawan Islandia bukanlah ladang menimba ilmu bagi insan sepak bola Tanah Air.

Tapi tak apa, bagaimana pun itu, jika tim yang bermain di lapangan membawa nama Indonesia, maka tetaplah layak dibela. Paling tidak, ada harga diri yang harus ikut diperjuangkan agar sepak bola Indonesia tak dipandang sebelah mata oleh dunia. Minimal, Indonesia dikenal sebagai negara yang punya fanatisme tinggi terhadap sepak bola. Hal itu berhasil Indonesia perlihatkan dengan penuhnya stadion Maguwoharjo.

Laga berikutnya, timnas Indonesia yang 'asli' akan menghadapi Islandia besok, Ahad (14/1) malam WIB. Venue yang lebih glamor, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta pun disiapkan panitia pelaksana untuk memfasilitasi laga tersebut.

Untuk laga ini, Indonesia barulah dipastikan bisa mengais manfaat dari kedatangan sang perempat finalis Piala Eropa 2016 itu. Kali ini, semua penggawa utama kebagian jatah merasakan kekuatan the Our Boys.

Mayoritas dari mereka adalah skuat timnas U-23 yang dipadukan dengan pemain senior macam Boaz Solossa dan Victor Igbonefo. 'Adik' mereka, Egy Maulana yang merupakan bintang U-19 juga disertakan. Tentunya laga ini bisa sangat bermanfaat bagi Luis Milla Aspas untuk mengukur kekuatan tim racikannya.

Namun, bukan berarti tak ada sisi negatif dari pertandingan tersebut. Bek senior Indonesia Hamka Hamzah sudah melemparkan komentar tajam mengenai laga kontra Islandia. Mantan pemain PSM yang ikut terpilih ke dalam skuat timnas Indonesia Selection ini menilai laga kontra Islandia dihelat di saat tak tepat.

Saat ini klub-klub di Indonesia sedang melaksanakan persiapan awal untuk menghadapi musim baru. Sebagian bahkan harus merelakan pemainnya yang baru bergabung latihan dalam lima hari untuk pergi memperkuat timnas. Kelelahan dan terganggunya fokus para pemain tentu jadi taruhan. Kemungkinan terburuk, andai ada pemain yang cedera, maka kerugian besar harus siap dihadapi. Baik itu klub, maupun pesepakbola itu sendiri.

Tapi sekali lagi, seperti apapun manfaat dan mudarat yang ada, mereka yang nanti melawan Islandia akan membawa nama baik bangsa ini. Kurang elok jika pusing memikirkan mudarat tanpa memperhitungkan manfaat. Hanya saja, tak ada salahnya pula melemparkan kritik, karena ini menyangkut tim yang paling kita cintai di jagat raya, Timnas Indonesia.