Kamis , 07 December 2017, 08:55 WIB

Antara Tong Kosong, Felix Siauw, dan Abu Janda

Red: Muhammad Subarkah
Ustadz Felix Siauw memberikan tausiyah kepada ribuan umat Islam saat mengikuti reuni 212 di Monumen Nasional, Jakarta, Sabtu (2/12).
Media Sosial

Saya tak ingin buru-buru menuduh orang lain yang punya karakter macam tong kosong ini. Ada baiknya saya berkaca, mungkin yang punya karakter tong kosong ini adalah diri saya sendiri. Sehingga sampai ketikan di paragraf ini, saya hanya nyaring menulis mengumbar kata hingga belum masuk pada substansinya.

Okay, tanpa berlama-lama saya ingin masuk pada pokok bahasan. Filosofi tong kosong ini ingin saya kaitkan dengan banyaknya tokoh di media sosial yang lebih menimbulkan kegaduhan ketimbang memberi pendidikan. Lewat unggahannya, entah itu tertulis atau gambar, banyak dari mereka ini yang sejatinya justru memberi pengaruh buruk (bad influencer).

Dalam buku The Social Media Bible l yang ditulis Lon Safko dijelaskan mengenai sosial media yang punya muatan untuk memberi pengaruh baik dan buruk. Salah satu tujuan sosial media adalah transfer ide. Ada unsur memengaruhi baik faktor kepentingan bisnis, ideologi, maupun politik.

Proses sosialisasi yang berlangsung di dunia maya itu punya karakter unik. Sebab, mayoritas pengguna media sosial berada di posisi pendengar atau pengikut (followers). "Cara umum sosial media bekerja adalah mendengar terlebih dahulu, memahami konteks pembicaraaan, barulah mereka (pengguna) berbicara (bersikap) di akhir," begitu penjelasan Social Media Bible.

Fase (1) mendengar, (2) memahami, (3) bersikap ini menjadi kunci dari setiap gerakan yang muncul di sosial media.
Lantas siapa yang menjadi sumber pendengaran masyarakat di sosial media saat ini?

Biasanya sumber suara yang didengar adalah orang yang punya pengaruh. Istilah kerennya disebut 'selebritas' media sosial. Selebritas inilah yang menjadi buzzer untuk membela kelompok atau kepentingannya. Selebritas media sosial ini kerap menyamar dengan baju aktivis atau pegiat media.

Celakanya banyak dari selebritas ini yang justru seperti tong kosong. Hanya gaduh dengan propaganda kebencian demi tujuannya, tapi isi serta keredibilitasnya omong kosong belaka.

Makin runyam apabila sejak awal tong-tong kosong yang berbunyi nyaring ini dipercaya masyarakat dan jadi sumber pandangan utama kaumnya. Walhasil jika yang didengar saja salah, yang diterima netizen adalah pendengaran yang salah dan cara bersikap yang salah pula.

Hingga akhirnya tokoh tong kosong ini bisa membuat followers mudah dipengaruhi akibat propaganda trending yang mereka ciptakan. Padahal, trending itu hanya berbunyi nyaring tanpa isi kebenaran. Hoax pun jadi konsumsi sehari-hari.
Saya juga ingin mengutip pandangan ahli geopolitik Timur Tengah Dr Christof Lehmann dalam artikel The Arab Spring story in a nutshell: Fake springs, post-modern coup d’etat" yang dimuat Global Reasearch. Pandangan Lehmann mengacu pada kecenderungan media masuk dalam pusaran besar propaganda politik di media sosial.

Dia mengambil sampel kasus Arab Spring 2011. Menurut dia, media menjadi bagian permainan besar yang melibatkan aktor-aktor bayaran yang punya tujuan untuk menghancurkan. Ibarat tong kosong, mereka ini hanya bertujuan membuat kegaduhan. Menggiring rakyat untuk terpecah belah dan saling membenci.

Menurut Lehmann, aktor-aktor di sosial media ini punya backup kekuatan modal dan beking politik tertentu. "Narasi gerakan yang mereka bangun (di media sosial) persuasif dan menipu. Mereka secara khusus menggunakan pemikir progresif, media, dan aktivis untuk mendorong gerakan (di media sosial)," kata Lehmann.

Arab Spring sudah menjadi contoh bagaimana potensi destruktif yang ditimbulkan tong kosong ini. Karena itu, penting bagi kita untuk mengkritisi siapa pun yang kini menyandang status selebritas sosial media, entah itu pangkatnya ustad betulan atau jadi-jadian. Ini agar kita tak mengimpor sosok tong kosong ini ke dalam negara kita tercinta.